Gerobak Pemulung Dibuat Lukisan Oleh Seniman Asal Depok

Program Publik Jakarta Biennale - Siasat (6)

Gerobak Pemulung Dibuat Lukisan Oleh Seniman Asal Depok

Astrid Septriana - detikHot
Jumat, 08 Nov 2013 14:17 WIB
Gerobak Pemulung Dibuat Lukisan Oleh Seniman Asal Depok
Dok. Tim Dokumentasi Jakarta Biennale 2013
Jakarta -

Seni yang merakyat, bisa dibilang merupakan trek yang dijalani oleh Abdurahman Saleh atau pria akrab disapa Maman selama ini. Banyak kisah pinggiran yang ia hadapkan dengan seni dan pemaknaan luas.

Di perhelatan akbar Jakarta Biennale tahun ini, Maman memanfaatkan gerobak pemulung untuk menjadi media kreasinya. Ia bahkan menciptakan tokoh bernama Mr.Gro.

"Pada proyek-proyek sebelumnya biasanya kita enggak bikin penokohan. Tokoh ini memang ada untuk Jakarta Biennale," ujarnya kepada detikHOT pada Senin (4/11/2013) lalu di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mr. Gro merupakan toko fiktif hasil ciptaannya. Tugasnya untuk menjembatani penokohan ke lapak pemulung, agar tidak ada kesan serius yang bisa mengganggu kenyamanan para pemulung.

"Tokoh yang cablak, dan dibuat supaya ada alur ceritanya. Karena kita dari awal memang sudah setting ingin ada rekaman video prosesnya." Video ini pun sudah diunggah Maman ke situs youtube.



Menurutnya, ketika mencoba melakukan intervensi ke ruang publik melalui gerobak, salah satu hal yang dipertimbangkan adalah cara pendekatannya.

"Yang penting adalah menghilangkan jarak dulu. Seperti di lapak Kedoya itu saya tidur di sana, nginep semalem. Merekanya juga jadi merasa sama, posisi jarak saya hilang," ujarnya.



Ada beberapa lapak yang sudah didatangi oleh tim Mr.Gro. Antara lain Saung Manggar yang terletak di Kali Malang, Kedoya, Pejaten, Pademangan, Duri Kepa, dan Jati Padang. Totalnya ada sekitar 21 gerobak yang telah dilukis oleh tim Mr.Gro. Sementara anggota tim Mr.Gro ada sepuluh orang.

Ia berharap, bila memungkinkan nantinya tim yang sudah terbentuk ini bisa terus berjalan setelah Jakarta Biennale. "Karena masih banyak gerobak, jadi kalau masih punya cat, dan masih ketemu sumber dana untuk jalan, kita masih mau jalan."

Gambar-gambar dan tulisan yang dilukiskan di gerobak biasanya merupakan hasil ngobrol dengan si empunya gerobak. Ada pemilik gerobak yang berani untuk dituliskan kata-kata yang politis seperti 'kita manusia bukan angka'. Namun ada juga yang, menurut Maman bersifat kompromistis.

"Digambarin enggak apa-apa mas tapi jangan yang membahayakan. Jadi saya buat yang indah-indah aja. Kebetulan yang diangkat sampah kan lumayan bau, jadi saya gambarin bunga."

Kata-kata lainnya pun diangkat yang dekat dengan kehidupan para penarik gerobak. Seperti 'Pulang Malu Enggak Pulang Rindu'.

"Beberapa gerobak juga sudah ada tulisan-tulisan sederhana yang mereka buat sendiri. Seperti kata galau. Kita tambahin saja, galau itu masa lalu," jelasnya.

***


Ide dari proyek seni ini diakui Maman adalah sebagai respon untuk Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. "Karena dia sedang anti-mural kan, lagi banyak statement-nya tentang mural yang vandal dan mengotori lingkungan."

Seniman lainnya mungkin menanggapi omongan Jokowi dengan frontal, yakni dengan menebarkan sebanyak mungkin mural di tembok publik. Tapi Maman memilih media gerobak sebagai 'Siasat'nya.

"Konsep Biennale kali ini kan 'Siasat'. Jadi kita cari siasatlah, gimana konsep mural tetap ada dan nempel di suatu ruang publik. Gerobak itu bisa jadi ruang publik dan dia bisa berhenti dimana saja, malah mobile. Yasudah lewat situ aja."

(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads