Ayahnya, Djamaloedin Sindon berperan sebagai arsitek. Sementara sang ibu, Hernani Mansyur hobi mengoleksi dan mengumpulkan perabotan etnik.
"Aku sendiri lebih banyak bantuin ibu soal interior dan bantu cari barang-barang," kata Dian saat ditemui di rumahnya, Selasa (29/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kayu-kayu tersebut saling berpadu manis dengan pernak pernik lampu kuno, koleksi keramik, dan kain tradisional yang sengaja ditempel pada dinding.
Ibu Dian, Hernani, lebih banyak menjelaskan detail interior rumah yang disebutnya memiliki konsep etnik Jawa Kolonial. Kesan tersebut bahkan sudah terasa sejak berada di ruang tamu.
"Ayahnya Dian memang suka sekali dengan elemen kayu karena lebih hangat dan hommy. Ayahnya yang desain, saya yang bagian mengurus perabot interior dan diskusi sama Dian. Konsepnya sih lebih ke Jawa Kolonial ya," ujar Hernani.

Keluarga ini sama sekali tidak takut bahwa penggunaan elemen kayu berpotensi menjadi sarang rayap. Kuncinya terletak pada pemilihan kayu yang punya kualitas prima.
"Pilih kayu yang bagus seperti jati atau damar laut. Kayunya sendiri ada yang didatangkan dari Palembang, kayu damar laut itu. Kayu jati lama juga sama ayahnya enggak pernah dibuang, tapi dipoles lagi jadi cantik," katanya.
Pemilihan koleksi lampu, keramik, dan kain, lanjut Hernani, kebanyakan berasal dari dirinya sendiri. Ibu tiga anak itu memang hobi mengoleksi barang-barang antik.
"Dapat barang dari mana-mana. Kalau lampu, ayahnya Dian suka sekali. Dian-nya suka sama karpet, kalau saya suka yang etnik. Jadi, di rumah ini penuh elemen kayu, keramik, lampu, kain jumputan, batik, dan karpet," ujarnya.

Dari mulai ruang tamu sampai batas area luar dipenuhi kursi dan meja yang juga terbuat dari kayu. Lengkap dengan perabot etnik yang tadi disebutkan. Begitu pun di lantai dua yang kental nuansa seperti itu.
Kalau keluarga besar berkumpul, Hernani mengaku tak khawatir barang-barang ini tersenggol anak kecil. Pasalnya, mereka lebih senang bermain di dekat kolam renang dan area belakang rumah.
"Banyak yang ngeri kan kalau lagi ramai apa enggak takut kesenggol ini gelas keramik, saya bilang enggak-lah. Hampir semua tamu dan keluarga kami kumpul di belakang. Jadi, disini mirip ruang koleksi saja. He-he-he," katanya.
(utw/utw)











































