Rumahnya tepat berseberangan dengan Kandang Jurank Doank. Di sinilah, ia banyak menghabiskan waktu membuat lagu, melukis, dan mengajar.
Menurut Indah Nirmala, pengurus KJD, konsep semua bangunan yang ada lebih menyatu ke alam dan ramah lingkungan. "Enggak ada bahan material yang merusak alam," katanya kepada detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lulusan desain grafis Universitas Mercubuana, Jakarta Barat ini juga mengatakan pendirinya Dik Doank memikirkan makna silaturahmi selain kepada Tuhan dan manusia.
"Silaturahminya bukan ke manusia saja, tapi ke lingkungan juga. Memang Om Dik mau semuanya menyatu dengan alam. Banyak pepohonan, jadi kelihatan teduh," katanya.
Seperti di Kampung Doank. Jika Anda dari parkiran dan gerbang pintu masuk, kampung tersebut sudah terlihat. Anda bisa bermain dan berteduh di empat bangunan berbahan material kayu tersebut.

Di sana, juga terdapat pepohonan yang rimbun dan lebat. Saat detikHOT mengunjunginya di hari Minggu pekan lalu, banyak pengunjung keluarga yang datang dan terasa seperti piknik.
Mayoritas bangunan tersebut mempunyai dua lantai. Di lantai bawah seperti sebuah pendopo luas. Di atas, ada ruangan kosong guna istirahat.
Indah mengatakan dari keseluruhan bangunan yang ada, Kampung Doank merupakan kawasan yang kali pertama dibangun Dik.
"Saat itu Om Dik dapat inspirasi buat sketsa awalnya itu di sana. Jadilah gambar itu dan direalisasikan. Saat itu cuma ada tiga rumah di kampung," katanya.
Di dalam Kampung Doank, tak hanya ada bangunan saja, tapi Dik Doank juga meletakkan beberapa barang-barang antik dan kuno.
Seperti dua buah bangku antik yang usianya sudah puluhan tahun, gerobak andong, kendi tempat mencuci tangan, dan ukiran-ukiran Jawa di tiap sisi bangunan.
Bahkan ada meja yang dibuat dari kaki mesin jahit Singer jadul dan bantalan rel kereta api.

(utw/utw)











































