"I want to have my desire back," begitu frase yang terdapat di dinding alumunium. Berbagai macam potret dari perempuan, binatang, hingga pria tampak di sana. Tak hanya satu frase, tapi puluhan frase ia tuliskan di dinding instalasi yang berjudul 'Temple of Hope.'
Pameran yang berjudul 'Geo Potrait #2' ini diselenggarakan dari 12 Oktober hingga 11 November mendatang di Galeri Salihara. Sang seniman asal Tegal, Entang Wiharso mengatakan pamerannya kali ini menggabungkan empat pameran sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keempatnya semacam persembahan potret diri atau autobiografi. Pameran ini saling berhubungan. Saya memasukkan unsur memori, arsip, dan artefak ke dalam karya-karya saya," katanya kepada detikHOT saat pembukaan Jumat malam (11/10/2013).
Keempat pameran sebelumnya di antaranya 'Love Me or Die' (Jakarta, 2010), 'Untold Story' (Berlin, Jerman, 2012), 'Crush Me' (Shanghai, Cina, 2013), dan tentu saja 'Geo Potrait' (Lugano, Swiss, 2013).
Dalam berbagai pameran tersebut, kata Entang, ia melihat ke dalam dirinya sendiri. Pada 'Love Me or Die', elemen potret hadir di figur-figur yang bersifat generik. "Tapi orang-orang susah membacanya."

Di 'Untold Story', elemen potret itu lebih jelas, yaitu terletak pada kata saya dan kami. Sedangkan di 'Crush' mengenai diri Entang yang melintasi perbatasan.
Entang sendiri mengalami lintas budaya, ia memiliki istri seorang Amerika bernama Christine Cocca dan dua anak laki-laki Indonesia-Amerika yang kelak harus memilih kewarganegaraan.
"Potret-potret ini yang coba saya tampilkan, atau digabungkan di pameran 'Geo Potrait #2' sekarang ini," kata Entang.

Sama halnya di 'Temple of Hope' yang dibuatnya tahun lalu, ia membuat semacam harapan bagi figur-figur yang terdapat di dalamnya. "Harapan itu dalam kata, makanya ada frase-frase impian."
Serta empat buah batu sebagai pondasi dari candi harapan ala Entang, diambil dari material bebatuan Gunung Merapi. Tak hanya itu saja, seni instalasi berjudul 'The Family Potrait' yang menggunakan layar LED light box menggambarkan wajah keluarganya.
"Figur-figur inilah yang hadir dalam hidup saya kini. Sekaligus kerinduan kami karena saat menikah tak menggunakan tradisi Jawa. Ini sebagai hadiah juga buat keluarga saya," ujar pria kelahiran 19 Agustus 1967 ini.
Entang Wiharso merupakan seniman lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan seni lukis. Ia sempat cuti kuliah lantaran membantu orang tuanya mengurusi warung tegal (warteg) di Jakarta.
Tahun 1996, namanya masuk sebagai 36 seniman Indonesia terbaik versi Majalah Gatra, menjadi 10 terbaik Philip Morris Indonesian Art Awards. Hingga kini, setiap tahunnya dibantu istrinya, Entang aktif melakukan pameran tunggal maupun kelompok di dalam dan luar negeri.
(tia/utw)











































