Di bagian depan, terdapat sebuah bangunan, pos satpam dan lahan parkir. Saat menunggu sang penjaga mengkonfirmasi kepada si empunya rumah, suasana motor lalu lalang di halaman cukup menjadi pertanyaan. Ternyata bangunan yang persis berhadapan dengan pos satpam tadi adalah kantor penerbitan buku, bukan rumah.
Β
Apakah salah alamat? Pasti tidak. Beberapa stiker bergambar wajah politikus dan artis yang tenar dengan sebutan Oneng ini jelas terpampang. Selepas itu, pak satpam mempersilahkan detikHOT masuk. Melalui pintu mungil yang menembus tembok dan menampakkan sebuah gang kecil.

Aroma bunga kamboja cukup menyengat, menambah rasa penasaran. Di mana sebenarnya letak tempat tinggal pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Donny Gahral Adian itu. Sembari berjalan di gang, terlihat sebuah bangunan mungil dengan rerumputan hijau. Tapi pak Satpam yang mengantar belum menunjukkan aba-aba berhenti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kami kembali menembus sebuah pintu mungil dan voila! Hamparan rumput hijau dengan bangunan yang tampak terpisah-pisah ini, akhirnya hadir di pelupuk mata.
Pepohonan rimbun, kolam, sebuah pendopo besar, bangunan yang tampak serba terbuka. Sangat membuat penasaran, untuk menggali kisah di tiap sudutnya.
Sebagai tamu, detikHOT dipersilahkan duduk di sebuah teras, yang berada di tengah-tengah bangunan. Teras tadi nampak sederhana, beralaskan ubin yang tampak tua, kursi, meja dan sebuah lemari yang telah dimakan usia.
Namun berada di sini, mengundang rasa tenang dan merasa jauh dari hiruk-pikuk orang. Kolaborasi menarik antara unsur kayu, batu, hijaunya tanaman, juga air yang gemericik di dalam kolam.
Akhirnya Rieke Diah Pitaloka muncul dan menyapa. βDulunya ini kebun, terus saya bangun semuanya sendiri. Saya mau rumah itu benar-benar untuk merasa pulang dan bisa istirahat,β tutur Rieke pada Kamis (26/09/2013).

Tampak ada empat bangunan terpisah di atas tanah seluas 900 meter persegi ini. Pendopo atau joglo, rumah induk, perpustakaan dan rumah yang baru selesai dibangun tahun lalu.
βKalau tanah untuk rumah ini saja sekitar 900 meter persegi. Tapi kalau dihitung dari depan dan gangnya sekitar 1500 meter persegi,β kata Rieke.
Ia menjelaskan harga tanah yang ia tempati selama tujuh tahun, bersama suami dan tiga anaknya itu, saat dibeli masih berkisar Rp 350 ribu per meter perseginya. Sementara harga tersebut kini telah melambung jauh.
Selain itu ada kisah menarik mengenai gang atau jalan kecil yang mengantarkan ke pintu gerbang rumah intinya.
βItu tadinya ada jalan gang. Tapi karena di sampingnya sekarang dibuat perumahan, jadi gang itu ditutup. Sekarang jadi gang pribadi. Kita beli dan bayar tanahnya ke kelurahan karena itu termasuk aset masyarakat,β katanya menjelaskan.
Rumah yang tampak serba terbuka ini sangat lekat dengan kesan antik namun alami yang diseraskan dengan budaya Jawa. βRumah ini konsepnya terbuka. Dulu setiap satu bulan sekali rutin ada pagelaran budaya.β Konsep terbuka ini tak hanya omongan belaka. Simak laporan lengkap detikHOT.

(utw/utw)











































