Aktor pantomim yang dulu sempat menghiasi layar kaca tanah air, Septian Dwi Cahyo mengatakan, saat ini ada dua aliran pantomim yang berkembang. Pertama, pantomim klasik dan modern.
"Dulu kita kenal pantomim klasik yang tidak menggunakan properti, jadi hanya mengandalkan dialog tubuh. Kalau sekarang, ada pantomim modern yang bisa dikolaborasikan dengan seni lain seperti sulap, tari. Tergantung kreativitas pantomimer," kata Septian kepada detikHot, Selasa (24/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga diungkapkan aktor senior pendiri sanggar pantomim Sena Didi Mime, Didi Petet. Dia menilai, pantomim saat ini sudah lebih modern karena menggunakan perangkat teknologi. "Lebih berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Jadi, sudah pakai teknologi canggih. Seperti misalnya memakai video dan multimedia," kata Didi.
Penggunaan teknologi dalam pantomim, lanjutnya, cukup efektif dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap seni tersebut. Terutama kalangan anak-anak.
Pantomim merupakan salah satu metode pembelajaran imajinatif yang sangat bermanfaat bagi perkembangan otak kanan anak. "Jelas pengaruhnya sangat bagus buat anak-anak karena mereka bisa berlatih imajinasi," ujarnya.
***
Seni gerak tanpa suara atau pantomim sempat dikenal luas pada era 1990-an lewat sebuah tayangan televisi yang diperankan aktor pantomim, Septian Dwi Cahyo.
Namun, lama kelamaan, acara yang menampilkan pantomim menghilang dari layar kaca dan digantikan dengan tayangan-tayangan yang lebih populer seperti reality show dan acara musik.
Septian sendiri mengakui hal tersebut memang terjadi. Menurut pria kelahiran Jakarta, 4 September 1968 ini ada beberapa kendala mengapa pantomim seolah tenggelam di layar televisi Indonesia.
"Kesulitan memang ada. Terutama soal kompromi waktu atau durasi. TV maunya cepat membuat penonton mengerti dan tertawa, sementara pantomim itu kan hanya gunakan gerak dan ekspresi tubuh. Jadi, harus ada intro supaya penonton mengerti jalan cerita. Kondisinya mesti dibangun dulu," kata Septian kepada Detik, Selasa (24/9/2013).
Lantaran itulah, maka pantomim dianggap lebih 'laku' di pertunjukan panggung dan dunia nyata dibanding dunia televisi. Pesan yang ingin disampaikan juga lebih terasa ketika penonton menonton pantomim secara langsung.
"Pantomim memang pada akhirnya lebih 'hidup' di dunia panggung atau interaksi langsung karena di situ tidak ada rekayasa atau trik kamera sama sekali. Penonton juga bisa menikmati pantomim lebih maksimal," ujarnya.
Aktor senior sekaligus pendiri sanggar pantomim Sena Didi Mime, Didi Petet berpendapat senada. Dia bahkan mengatakan bahwa pantomim tidak bisa masuk ke dalam sebuah industri hiburan komersil.
Pasalnya, pantomim adalah jenis seni yang sangat sederhana dimana hanya mengandalkan ekspresi, imajinasi, dan gerak tubuh. Sementara industri televisi menuntut sesuatu yang lebih kompleks.
"Pantomim sangat sulit masuk ke industri. Seni ini kan sangat sederhana sekali tidak menggunakan bahasa yang bersuara. Sangat terbatas-lah. Kecuali jika dibuat kemasannya seperti Mr Bean, mungkin masih menarik," kata Didi.
Meski demikian, bukan berarti respon masyarakat negatif terhadap pantomim. Justru sebaliknya. Sudah banyak yang suka dan antusias menonton pertunjukan pantomim."Pantomim diterima kok sama masyarakat. Perkembangannya juga jauh lebih baik dan modern," ujarnya.
(utw/utw)











































