Ia menanam pohon Buddha di sudut taman miliknya. "Saya khusus dapatkan bijinya dari Thailand," katanya kepada detikHOT Jumat pekan lalu.
Boyke pun menceritakan petualangannya sehingga mendapatkan biji pohon Buddha. Pada pertengahan 2010 lalu, ia pergi ke Thailand. Saat itu, ia melihat banyak buah dari pepohonan itu banyak yang busuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hatinya, ia menginginkan punya pohon Buddha di pekarangan rumahnya. Tapi apakah mungkin membawa bijinya tanpa ketahuan dengan penjaga kuil? Boyke pun mencari cari dan memulai kenekatannya.
Ia memberikan uang 10 dollar kepada seorang anak kecil. Pakar seksolog tersebut pun meminta agar diambilkan beberapa buah yang sudah busuk.
"Buahnya itu kayak buah sawo dan kalau berbunga kayak anggrek bulan. Wangi banget," katanya. Setelah mendapatkan sekitar 10 buah busuk, ia ke kamar mandi dan sibuk mencucinya. Buah yang busuk dibuangnya, Boyke hanya mengambil bijinya saja.
Lantaran lama di dalam toilet restoran kawasan wisata tersebut, ia sampai digedor-gedor pengunjung lainnya. Lalu ia memasukkan biji-biji tersebut ke dalam sepatunya.
"Tuhan Maha Segalanya. Saya enggak ketahuan, ha..ha..ha.. Saya juga heran pohonnya bisa tumbuh di pekarang rumah keong, rumah di Menteng, dan depan klinik saya," ujarnya.
Bahkan Boyke mengaku ketika proses penanaman, ia sampai belajar menanamnya kepada ahli pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Dari proses pembibitan hingga pohon setinggi 5 meter tersebut tumbuh subur.
Menurut Boyke, lantaran menanam pohon Buddha, ia pun mendapatkan hikmah dari ajaran Budhha. "Ia kan mengajarkan kebaikan, berpikir dan berucap yang baik. Kita juga pengen orang-orang di sini yang melihat pohon Buddha juga menikmati kebaikan-kebaikan itu," ujar Boyke.
Di bawah pohon Buddha, Boyke sengaja meletakkan arca Buddha kecil. Selain itu, ia juga menanam pohon kurma sebagai simbol agama Islam.
Sayangnya, bibit pohon yang ada dua di kedua sisi dekat pintu gerbangnya, ada yang mati. "Jadi yang tinggal hidup hanya satu saja." Boyke juga menanam pepohonan cemara di pinggir rumahnya. Ia sengaja memendekkan pohonnya agar ketika Natal bisa menghiasinya.
Simbol agama lainnya di taman rumah Keong adalah pagar yang memakai simbol yin yang. Menurutnya, semuanya merupakan simbol setiap agama yang ada di dunia. "Saya ingin semuanya universal. Ke mana pun kau memandang, ada Tuhan yang satu. Dan manusia yang sama," ujar Boyke.

(utw/utw)











































