Rumah peristirahatan sudah selaiknya jauh dari ibukota dan lebih nyaman dari rumah pertama. Fungsinya pun tak hanya sekedar tempat tinggal sehari-hari, namun bisa sebagai lokasi refleksi bagi diri sendiri dan keluarga.
Itulah konsep yang diterapkan oleh Boyke Dian Nugraha, spesialis obstetrik dan ginekologi yang kerap juga menjadi konsultan seksologi. Boyke juga beberapa kali membintangi film Indonesia. Seperti film 'Basahhh..' (2008), 'Drop Out' (2008), 'Cintaku Selamanya' (2008).
Jumat pekan lalu, detikHOT berkesempatan mengunjungi rumah keong ala Boyke di kawasan Sentul City, klaster Northridge yang memiliki pemandangan indah Gunung Pancar di depannya. Boyke banyak bercerita mengenai ide pembuatan rumah sampai kecintaannya pada lukisan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Boyke, memiliki seorang istri dan keluarga bahagia adalah hadiah Tuhan yang paling indah. Lantaran ingin membahagiakan keluarganya di ulang tahun perkawinan perak, ia ingin memberikan sesuatu yang berbeda.
"Saya bicarakan dengan istri, bagaimana kalau kita bikin rumah saja lagi? Saya tanya pendapat istri dan ketiga anak saya. Mereka semuanya setuju," katanya kepada detikHOT di rumah peristirahatannya di Sentul City, Bogor, Jumat (20/9/2013).
Berawal dari rencana kado pernikahan ke 25 tahun tersebut, Boyke dan istri mencari lokasi bagi hunian keduanya. Mulai dari Rancamaya, Puncak, Bogor hingga ke perumahan di dekat Sentul Circuit.
"Enggak ada yang cocok. Tapi ketika istri lihat pemandangan di klaster ini, ditambah kita dapat lahan yang bisa dibeli di bawah 1000 meter, akhirnya tambatan hati jatuhlah di lokasi ini," ujar Boyke.
Luas lahannya sekitar 655 meter dan untuk bangunannya sekitar 250 meter. Boyke ingin rumah yang lebih kecil, dibandingkan sama rumah-rumah mewah yang ada di belakang dan samping rumahnya. "Tapi harus dibikin unik."
Akhirnya, pada 2008 lalu, Boyke dan seluruh keluarganya pergi ke Sea World di Singapura. Di sanalah, ia mendapatkan inspirasi membuat rumah keong dari jenis Pomphilus notilus.
Seekor keong bercangkang dengan banyak sekat-sekat di dalamnya tersebut membuat Boyke tertarik. Ia sampai kembali ke sana dua kali untuk melihatnya lagi. Bahkan, tak segan-segan membeli keong asli dengan jenis yang sama.
"Saya juga dapat keong asli kayak gitu. Ada di rumah saya yang di Menteng," ujar pria kelahiran 14 Desember 1956 ini.
Menurutnya, meski rumah keong itu kecil, tapi harus berbeda dan unik dibandingkan semua rumah yang ada di Indonesia, khususnya di Klusternya di kawasan Sentul City.
Prediksinya terbukti. Kini rumah keong tersebut banyak diliput oleh berbagai media massa di Indonesia. Bahkan, kata dia, sampai ada yang sudah menawar harga jika Boyke ingin menjualnya.
"Saya tolak, enggak mau ah dijual. Idenya saja susah, bahan materialnya juga susah. Mau berapa pun harganya," kata Boyke.
(utw/utw)











































