Sofia Si 'Noni Belanda', Hamil pun Tetap Jadi Patung

Kisah Manusia Batu (2)

Sofia Si 'Noni Belanda', Hamil pun Tetap Jadi Patung

- detikHot
Jumat, 20 Sep 2013 10:17 WIB
Sofia Si Noni Belanda, Hamil pun Tetap Jadi Patung
Jakarta - Seorang wanita paruh baya tampak duduk santai di bawah pohon dekat Museum Fatahillah di kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (17/9/2013) siang. Tak berapa lama, ia membeli segelas es teh manis dari pedagang keliling.

Cuaca memang panas terik. Matahari sedang tepat di atas kepala. Seteguk demi seteguk cairan dingin itu terasa begitu nikmat. Dalam sekejap, di gelas plastik itupun hanya tinggal menyisakan es batu.

Selang 15 menit kemudian, wanita itu berganti kostum seperti gaun pengantin warna putih. Rambutnya diikat cepol agar mudah mengenakan wig (rambut palsu) warna abu-abu pirang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Lalu, tangan kanan sigap memoles wajah dengan bedak tebal warna putih dipadu gincu warna merah menyala. Terakhir, topi dan payung jadi pelengkap. Dia berjalan ke depan Museum Fatahillah. Berdiri mematung tepat pukul 13.00 WIB.

Satu per satu pengunjung menoleh heran. Ada yang tertawa kecil. Banyak juga yang memotret. Sebuah keranjang disiapkan untuk mereka yang rela mengeluarkan sedikit uang.

Tak memberi pun tak apa-apa. Tak ada paksaan sama sekali. Sebuah senyuman saja sudah bikin hati senang. Tapi, Tuhan memang baik. Tidak pernah sekalipun keranjang dalam kondisi kosong melompong.

Namanya Sofia. Di umur yang ke-32 tahun saat ini, ia mengandung anak ketiga buah cinta dengan sang suami yang tak punya pekerjaan. Usia kehamilan sudah masuk bulan ke delapan, sebentar lagi melahirkan.

Menjadi patung 'Noni Belanda' sudah ia lakoni sejak masuk dalam Komunitas Manusia Batu Taman Fatahillah (Kombat) delapan bulan terakhir. Tadinya, wanita yang tinggal tak jauh dari Pasar Ikan ini berprofesi sebagai pedagang asongan.

"Dulu dagang di sekitar sini, tapi terus enggak boleh. Saya lihat ada orang yang jadi patung, tertarik juga. Terus saya bilang, 'boleh ikutan, enggak?', dibolehin sampai sekarang," kata Sofia.

Dalam kondisi hamil besar, mematung di bawah terik matahari jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi dilakukan selama lima jam, dari pukul 13.00 sampai 18.00 WIB. Belum lagi saat akhir pekan dimana ia datang lebih awal pukul 09.00 WIB.

"Kalau dibilang capek, semua pekerjaan juga begitu. Dibawa senang saja. Pas hamil begini, saya bawa kursi. Kalau agak begah atau pegal, duduk sebentar. Matung-nya sambil duduk," ujarnya.

Sebagai tulang punggung keluarga, Sofia dituntut mencari uang. Sang suami masih hidup, tapi berstatus pengangguran. Entah malas cari kerja atau karena alasan lain. Mungkin juga melihat profesi istri yang sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam sehari, penghasilan menjadi patung lumayan menjanjikan. Minimal dapat Rp 70 ribu. Di akhir pekan, tentu lebih besar mencapai Rp 300 ribu lebih. "Pas lebaran kemarin gede banget. Lebaran hari kedua itu dapat Rp 1,2 juta, lebaran hari pertama Rp 800 ribu," kata Sofia.

Penghasilan harian itu akan berlipat jika Kombat diundang mengisi acara di stasiun televisi atau acara-acara tertentu yang tak jarang melibatkan pejabat atau institusi pemerintahan.

Lantaran hal inilah, Sofia enggan kembali menjadi pedagang atau beralih mencari pekerjaan lain. Menurutnya, jadi patung jauh lebih menyenangkan walau pernah hanya dapat Rp 30 ribu dalam sehari.

"Enggak mau (beralih profesi atau kembali jadi pedagang). Sudah enak begini. Bisa menghibur orang. Biar dibilang rezeki enggak tentu tiap hari, enggak apa-apa. Hari ini sedikit, besok banyak. Disyukuri saja," ujarnya.

Menjelang kelahiran anak yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki itu, Sofia sudah punya rencana. Dia cuma mengambil cuti selama dua bulan. Sedangkan si bayi akan dibawa menemani dirinya mematung."Kalau kelamaan cuti nanti makan dari mana? Jadi, nanti mau saya bawa taruh di kereta bayi," katanya.




(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads