Belajar Seni Bareng di Taman Suropati Minus Iuran

Seni Ruang Publik (5)

Belajar Seni Bareng di Taman Suropati Minus Iuran

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 18 Sep 2013 11:53 WIB
Belajar Seni Bareng di Taman Suropati Minus Iuran
Jakarta - Gadis berkerudung motif bunga-bunga tersebut asyik bermain biola di sebuah taman terbuka. Sesekali ia membolak balik lembaran not angka yang terpampang di depannya. Lalu mengulang lagi setiap nada tersebut dan memainkannya kembali.

"Saya baru tiga bulan jadi anggota komunitas Kota Seni," kata Vira, 23 tahun kepada detikHOT Minggu sore (15/9/2013) di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat.

Sebelum ikut berlatih main biola, wanita yang bekerja di perusahaan swasta ini sudah pernah belajar biola di Bandung. Dia lalu bertemu dengan komunitas ini ketika ia sedang nongkrong di taman, ia melihat para anggota Kota Seni berlatih dan akhirnya memutuskan bergabung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Ya, Komunitas Kota Seni Taman Suropati adalah komunitas yang menjadi wadah para pecinta seni untuk berkumpul. "Tapi tak hanya berlatih seni saja tapi secara sosial budaya kita juga mengedukasi masyarakat," kata Ketua Kota Seni Fanny Tsalasa kepada detikHOT Minggu pekan lalu.

Fanny, pria asal Magelang, Jawa Tengah ini juga mengatakan jika ilmu boleh mahal tapi pendidikan seni harus gratis. Awalnya, mereka sempat mengadakan iuran bertarif setiap kali ada pertemuan. Tapi, kata Fanny, ia mengubah kebijakan tersebut.

"Ini kan komunitas, jadinya enggak boleh ada yang bertarif. Semuanya gratis. Lalu sekarang kami pakai celengan bergambar Spiderman, siapa pun boleh nyumbang seikhlasnya," kata Fanny.

Siswa dari Sekolah Musik Yogyakarta ini juga menambahkan jika Kota Seni memiliki struktur organisasi yang jelas. Serta punya berbagai divisi seperti divisi musik (orkestra dan band), divisi seni rupa (sketsa, lukis kaca, kriya, patung, pahat, lukis), divisi teater, divisi lensa (fotografi, film), divisi sastra, divisi vokal, dan divisi tari.

Sejak 27 Februari 2009, komunitas ini sudah resmi berbadan hukum menjadi yayasan non profit. "Sampai sekarang anggota aktifnya ada sekitar 70-an orang," ujarnya.

Di Kota Seni ini, Fanny menceritakan ada dua fokus kegiatan yakni berbagi ilmu dan komunitas. Semua orang yang ingin bergabung tinggal membawa alat musik masing-masing dan mendaftar.

"Untuk yang berbagi artinya berbagi ilmu, ini yang biasa kami lakukan. Kalau kegiatan komunitas akan ada tiap 3 bulan sekali. Biasanya ada orkestra, dan pameran dari setiap divisi," ujar Fanny.

Seperti yang terjadi pada Agustus lalu, Kota Seni menyelenggarakan konser orkestra di tengah taman kota dan bertemakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Ke depannya, mereka akan kembali mengadakan pada November mendatang.

Namun sepanjang perjalanan Kota Seni, ada pula sisi dukanya. Fanny menceritakan pernah suatu ketika hanya tinggal 9 orang yang aktif menjadi anggota. Yang lainnya, menurutnya, banyak yang sibuk kuliah, kerja maupun pindah kota.

"Kita bangun pelan-pelan, akhirnya sekarang banyak lagi. Dan lambat laun, konsisten ada latihan di Rabu Malam, Sabtu dan Minggu untuk semua divisi," katanya.

Setiap akhir pekan, para anggotanya rutin berlatih dan berbagi ilmu kepada siapa pun yang penasaran dengan setiap divisi Kota Seni. "Yang mau kami tularkan ke masyarakat bahwa seni itu enggak harus mahal dan harus pintar mengedukasi warganya," ujar Fanny.













(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads