Fotografi Kuliner, Bukan Asal Mengabadikan Makanan

Ketika Warga Jadi Pewarta Foto (5)

Fotografi Kuliner, Bukan Asal Mengabadikan Makanan

- detikHot
Senin, 16 Sep 2013 17:33 WIB
Fotografi Kuliner, Bukan Asal Mengabadikan Makanan
Jakarta - Sesekali saat makan disebuah resto cobalah untuk mengamati sekitar. Berapa orang yang ketika disodori makanan yang dipesan, langsung menyantap dan menikmatinya? Berapa persen lagi yang langsung meraih kamera, atau ponsel berkamera lalu memfoto makanan yang masih ditata indah dari dapur resto itu?

Ya, jika diamati memang kebiasaan memfoto makanan lalu menguploadnya ke jejaring sosial atau situs berbagi gambar jadi semacam hal lumrah.
Ditambah dengan sedikit keterangan tempat, citarasa dan harga, cerita kuliner ini bisa jadi sesuatu yang informatif.

Bahkan di beberapa restoran ini dijadikan semacam pemicu untuk mendapatkan hadiah tertentu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Indonesia fotografer yang khusus menekuni dunia kuliner mungkin masih belum terlalu banyak. Tapi jika ditekuni dengan serius hobi menfoto makanan ini bisa jadi sesuatu yang bernilai, asal tahu trik-triknya.

Beberapa waktu lalu detikHOT menemui Adha Togi. Pria ini sejak tahun 2011 lalu mulai aktif menjadi fotografer kuliner, setelah sebelumnya malang melintang di dunia fashon. Khususnya untuk majalah gaya hidup, kebutuhan resto atau iklan produk makanan.

"Di dunia kuliner, menuangkan idenya lebih gampang. Apresiasi dan tanggapan orang juga lebih bagus. Sampai aku membuat blog khusus foto makanan," kata Adha.

Salah satu pujian yang membuat Adha bangga adalah dari orang tuanya yang sempat menentang pilihan profesinya sebagai fotografer kuliner. Kedua orang tuanya bahkan sampai menghadiahi lensa makto 100mm, sebagai penghargaan atas karyanya.

Adha juga merasa beruntung karena saat mendaklarasikan diri sebagai fotografer makanan, momennya bersamaan saat animo masyarakat mulai naik terhadap dunia kuliner.

Ini ditandai dengan tayangan Junior Masterchef, di luar negeri. Saat yang bersamaan keluarlah aplikasi seperti Path, Instagram dan lainnya.

Dengan kehadiran app jejaring sosial, blogger, fotografer makanan, jurnalis bahkan tren memfoto makanan, bagi Adha ini sangat membantu industri kuliner di Indonesia agar terus berkembang.

***

Karakter foto yang ia hasilkan, biasanya bergaya rustic dengan unsur kayu, kesan berantakan yang tertata, berwarna cukup gelap dan ada unsur drama. "Awalnya semua gaya dihajar, tapi lama-kelamaan, mulai ketemu karakternya," kata Adha.

Soal alat, Adha bukan tipe fotografer yang bergantung pada kecanggihan dan kelengkapan alat. "Aku tipe orang yang enggak suka ribet kalau motret." Untuk pencahayaan, jika fotografer produk bereksperiman dengan banyak lampu studio, ia justru memanfaatkan sinar matahari.

Menurutnya, makanan bekerja sangat baik dengan cahaya matahari. "Jadi kita bisa merasakan kehangatannya. Mood-nya enggak bisa dibohongi, alau pakai lampu kadang hilang mood enak dari makanannya."

***

Menurut Adha, dunia kuliner Indonesia sendiri memasuki masa gemilang sejak dua tahun lalu. Berkat sosial media dan tren pos foto makanan, kita sekarang juga jadi lebih gampang untuk tahu makanan baru yang beredar.

Bahkan sekarang para koki muda baru keluar, mereka baru kembali dari luar negeri. "Mereka lihat peluangnya disini sudah bagus, dan ini terus dikembangin."

Sebagai fotografer profesional Adha Toghi, tak melihat tren munculnya fotografer makanan amatir ini sebagai saingan. Menurutnya untuk menuliskan dan mempos apapun di jejaring sosial itu, adalah hak setiap orang.

"Aku malah senang, di tengah banyaknya orang yang mempos foto makanan, kadang dengan gaya aneh-aneh. Aku bisa mempos foto makanan yang bagus, jadi orang-orang tahu bahwa aku seorang fotografer makanan. Jadi, apresiasinya lebih bagus," jelasnya.

Namun, ia mengakui kadang pada satu titik bentrokan antara fotografer makanan amatir dengan yang profesional bisa terjadi. Ini disebabkan juga karena dunia fotografi di Indonesia juga belum terbiasa untuk membuat spesifikasi bidang dari suatu keahlian.

***

Dalam memfoto makanan, ia menemukan tantangan antara, makanan barat dan Indonesia. "Makanan barat itu lebih fotogenik, lebih mudah difoto. Dari mulai bahan baku hingga penyajiannya lebih eye catching," kata Adha.
Kalau masakan Indonesia, rasanya enak tapi bentuknya yang cenderung sederhana dengan satu warna dominan, lebih susah untuk difoto.

Unsur yang perlu ada dalam foto makanan, bagi Adha yang penting adalah food and living. Menggabungkan makanan dan unsur pendukungnya seperti interior, bumbu, bermain komposisi warna. "Agar bisa menampilkan makanan dalam foto yang tampil lebih menggoda dan hidup."

Bagi Adha, makanan sendiri adalah sebuah seni. Cara mengolah, cara memasak dan memberi tampilan dari sebuah makanan adalah sebuah seni.

Untuk fotografinya sendiri, ia juga menganggap ini sebagai seni. "Jadi enggak cuma makanannya aja yang punya art of cooking, tapi cara kita eksekusi gambar juga sebuah seni."

















(utw/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads