Jalan Cinta Pandanwangi untuk Sudjojono

Jalan Cinta Pandanwangi untuk Sudjojono

- detikHot
Jumat, 06 Sep 2013 14:05 WIB
Jalan Cinta Pandanwangi untuk Sudjojono
Jakarta - Pertunjukan itu diakhiri dengan sedih. Rose Pandanwangi beranjak dari tempat duduknya di sudut, melangkah ke muka panggung dan menyanyikan 'Ave Maria'. Wajahnya yang tersamar oleh gelap tak mampu menyembunyikan kesenduan yang mendadak menyelimuti

Rose, malam itu telah berusia 83 tahun, berdiri dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu sebagai istri (kedua) pelukis besar Sudjojono. Rambutnya pendek, ikal dan putih, memancarkan kewibawaan yang penuh kharisma. Itu belum ditambah dengan suara mezzo sopran-nya yang masih menawan.

Pertunjukan itu bertajuk 'Pandanwangi dari Sudjojono', merupakan bagian dari perhelatan memperingati Seabad Pelukis S Sudjojono yang digelar sepanjang tahun ini. Selain pementasan teater tersebut, telah dan akan ada juga berbagai acara lain seperti diskusi, pameran hingga pembacaan surat-surat cinta. Untuk yang terakhir itu, dalam pementasan tersebut penonton sudah bisa sedikit mencicipi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai tontonan panggung, 'Pandanwangi dari Sudjojono" terbilang sederhana, superminimalis, namun tetap mampu memberikan nuansa yang kaya. Sutradara Gandung Bondowoso menyiasati rekonstruksi itu dengan cerdik. Ia menjahit perca-perca berupa narasi dan dialog yang digali dari lukisan-lukisan Sudjojono, lalu diperkaya dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh Rose, plus tari dan, seperti yang sudah disebut tadi, pembacaan surat cinta yang romantis.

Pertunjukan dibuka dengan kemuculan Rose Pandanwangi, yang memerankan dirinya sendiri, dan menjelaskan siapa dia, dan awal pertemuannya dengan Sudjojono. Lalu, ia menyanyi dalam bahasa Belanda. Ia bertemu dengan Sudjojono di Belanda. Kala itu ia sedang belajar vokal dan piano di negeri itu, dan Sudjojono adalah anggota rombongan dari Indonesia yang sedang melakukan lawatan kebudayaan.

Singkat cerita, pertemuan pertama berlanjut dengan pertemuan berikutnya, dan cinta bersemi. Tak diceritakan, bagaimana Rose yang sudah punya anak dan suami, memasuki kehidupan Sudjojono yang juga sudah beristri Mia Bustam. Panggung malam itu memang milik dan tentang Rose. "Ia memilih aku ketimbang partai," katanya tentang Sudjojono yang kemudian menikahinya pada tahun 1959, setahun setelah ia menjuarai Lomba Bintang Radio RRI. Dan, Rose pun menyambut keteguhan hati Sudjojono yang rela mengorbankan kedudukannya di parlemen dan di Lekra, demi Rose.

Untuk melukiskan kemantapan hati dalam menerima cinta Sudjojono, Rose menyanyikan lagu 'My Way' dengan sangat menyentuh. Kisah cinta itu disampaikan dalam perpaduan antara monolog orang pertama Rose Muda (diperankan Maya Sudjojono) dan narasi orang ketiga, serta nyanyian sebagai ilustrasi.. Bandung Bondowoso sang sutradara sekaligus berperan sebagai Sudjojono, namun uniknya ia bertutur seolah-olah sebagai pihak ketiga yang bercerita. Perpaduan-perpaduan itu membentuk sketsa kisah yang utuh, mengalir dan indah. Sebuah seni bercerita ringan yang menyimpan banyak kejutan.

Sungguh tak terduga bahwa dengan modal lukisan-lukisan yang ditampilkan di layar besar sebagai latar panggung, sebuah pertunjukan bisa bergulir dengan memikat. Sudjojono punya kebiasaan membubuhkan catatan atau 'puisi' pada kanvas lukisnanya, dan itu menjadi bahan cerita tersendiri yang menggelitik. Kejutan kecil terjadi, antara lain ketika Jajang C Noer muncul, dan menjelaskan sebuah lukisan potret dirinya. "Itu saya," waktu itu umurnya 17 tahun, masih bernama Jajang Pamuntjak, dan dia bertetangga dengan Sudjojono sehingga sering minta untuk dilukis.

Sudjojono memang gemar melukis objek yang hidup. Dia mengkritik keras para pelukis 'moi indie', yang menurutnya hebat dalam teknik namun tak berjiwa. Anak-anaknya, baik 'bawaan' dari Rose, maupun hasil pernikahannya dengan Rose, merupakan objek yang paling sering dilukis, juga Rose sendiri. Ada kelucuan ketika 4 anak Sudjojono, semua cewek dan masih remaja belia muncul di panggung, dan satu per satu menjelaskan pengalamannya menjadi 'model' untuk lukisan-lukisan Pak Djon, demikian sang maestro, bapak seni rupa Indonesia modern itu biasa disapa.

Tak bisa dihindari, ada kesan 'narsis' dari pentas teater tersebut. Namun, hal itu wajar saja, sebab ini memang persembahan dari keluarga Rose Pandanwangi, melalui Sudjojono Center. Ini adalah bagian dari usaha untuk melestarikan warisan seni seorang tokoh seniman penting di Tanah Air. Kita bisa berharap bahwa 'kubu' dari istri pertama Sudjojono, Mia Bustam suatu saat juga menggelar acara serupa. Terlepas dari itu, sebagai sebuah pementasan teater, 'Pandanwangi dari Sudjojono' sangat pantas dan layak untuk diapresiasi.

Sebagai 'kisah nyata dari kehidupan S Sudjojono dan Rose Pandawangi', lakon teater ini ternyata memberi lebih banyak dari yang bisa dibayangkan. Selain kaya informasi mengenai karya-karya dan percik pemikiran Sudjojono, pementasan ini juga berhasil menyuarakan pesan universal tentang "cinta yang besar yang tak mengenal kehilangan", seperti tertuang dalam salah satu surat Sudjojono untuk Rose: ....dan bila mereka mengangkat jasad kita dari dasar laut, mereka akan membuat foto dan menyebarkannya melalui koran-koran di seluruh dunia dengan berita istimewa tentang sebuah cinta dari dua seniman yang tidak pernah hilang. Ya, Rose, cinta seperti itu sangat hebat. Badai bisa menghilangkan, dan meremukkan badan ini, tetapi cinta tidak.

'Pandanwangi dari Sudjojono' akan dipentaskan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (6/9/2013) pukul 20.00 WIB malam nanti.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads