Di sekeliling lingkaran tertempel gir (jeruji roda) mirip yang ada pada sepeda atau sepeda motor. Ada keterangan mengenai jam tersebut, tepat di sebelah kanan. Jam unik ini dinamai '3 Axis Wooden Gear Clock'.
Sang kreator tak lain adalah pria yang sejak tadi mengutak-atik. Namanya Gilang Luhur Mandiri. Lulusan Desain Industri Institut Teknologi Bandung ini bercerita, ide awal membuat jam seperti itu datang lantaran dirinya menyukai sesuatu yang bergerak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya makna dari jam ini, dia malah tak bisa menjawab dengan pasti. Gilang hanya terpikir oleh benda bernama gir. Itu saja. Kesesuaian dengan tema 'RESTART' pun tak ia pusingkan.
"Aduh, saya mah nggak kepikiran temanya gimana-gimana. Jalan saja dulu, bikin dulu, hasilnya seperti ini. Kebetulan cocok sama tema, ya sudah," ujarnya.
Pria berusia 27 tahun itu menjelaskan proses pengerjaan jam gir kayu tiga poros yang memakan waktu sekitar satu bulan. Tapi, itu belum apa-apa. Riset yang ia lakukan malah sampai dua tahun.
Gilang punya alasan kenapa memilih material kayu dibanding bahan lain seperti metal atau plastik. Menurutnya, sifat kayu mempunyai tantangan tersendiri yakni sensitif terhadap kelembaban udara. Dia juga ingin mengaplikasikan sesuatu yang akurat di atas bahan kayu.
"Kayu kan identik sifatnya mengembang dan menciut karena dia menyerap kelembaban. Selain itu bisa presisi. Kalau bahan metal lebih mahal dan biasa (sudah sering ditemui)," katanya.
Sepanjang riset selama dua tahun, tentu ia sering melakukan percobaan dan kebanyakan gagal. Namun, tak ada putus asa. Gilang malah makin semangat menciptakan karya yang benar-benar beda. "Bikin ini sering buat saya lupa waktu juga," ujarnya.
Lebih jauh, pria yang memiliki rambut gondrong itu memaparkan mekanisme jam gir kayu buatannya. Bagian poros dibuat seluruhnya dari kayu dengan penyederhanaan dari lima menjadi hanya tiga.
Kelebihan lain terletak pada cara kerja yang menggunakan daya gravitasi dengan dua pemberat masing-masing berbobot dua kilogram. "Kuncinya bukan ada pada diameter, tapi jumlah gigi. Jam ini juga bekerja tanpa tenaga baterai," kata Gilang.
Lintang, 25 tahun, salah satu pengunjung mengaku kagum dengan karya tersebut. Disamping desain yang unik, mahasiswi pasca sarjana The London School of Public Relations itu terkesan dengan sosok Gilang.
"Dari bentuknya sudah unik, angka-angkanya juga terbalik. Pas dijelasin ternyata buatnya lumayan susah. Kelihatan kalau seniman yang bikin jam ini cerdas," ujar Lintang.
(fip/fip)