Novel berjudul 'Burung-burung Cakrawala' itu memicu perdebatan bukan karena penulisnya Mochtar Pabottingi. Melainkan, karena bentuknya yang tak biasa, setidaknya dalam khasanah sastra Indonesia. Dibilang novel, faktanya buku tersebut ditulis berdasarkan pengalaman nyata tanpa diimbuhi bumbu-bumbu fiksi sedikit pun.
Namun, untuk dibilang autobiografi, nyatanya kisah dalam buku yang diterbitkan oleh Gramedia dan telah meluncur di pasaran sejak Februari lalu itu mengalir bak novel. Jadi, ke mana buku tersebut mesti digolongkan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sambil merujuk contoh karya penulis Amerika Truman Capote dengan bukunya 'In Cold Blood', Sitok mengatakan bahwa karya Mochtar Pabottingi memang "barang baru" dalam dunia penulisan di Tanah Air. "Tekanannya bukan pada biografi atau nonbiografi, tapi pada nonfiksinya," tandas Sitok.
Mochtar sendiri yang hadir malam itu mengatakan bahwa dirinya pun sulit menggolongkan buku tersebut. "Mungkin ini genre-nya di perbatasan. Saya tidak menonjolkan diri seperti biografi umumnya, tapi saya menuliskannya dengan intensi sastra," tutur Mochtar yang juga dikenal sebagai penyair lewat buku kumpulan puisinya yang berjudul 'Dalam Rimba Bayang-bayang' tersebut.
'Burung-burung Cakrawala' memang berkisah tentang perjalanan hidup Mochtar sejak masa kecilnya di Bulukumba, Sulawesi Selatan hingga melintasi tiga zaman dan berbagai kota di Indonesia dan mancanegara. Dalam penggambaran Mochtar sendiri, buku ini adalah "sebuah kisah sejati tentang rumah, karakter, buku-buku dan cakrawala...yang merayakan Indonesia".
"Merayakan Indonesia" agaknya menjadi kata kunci untuk membaca dan memaknai karya ini. "Saya merasa ada yang perlu kita rayakan dari yang berharga yakni Indonesa itu sendiri. Saya sudah berumur 68 tahun. Ada masa yang cukup panjang ketika Indonesa tidak seperti sekarang ini. Kalau itu tidak ditulis, akan hilang begitu saja," tutur Mochtar.
Menurut pembicara lain dalam diskusi malam itu, Karlina Supelli dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, sebagai sebuah kesaksian 'Burung-burung Cakrawala' adalah ketegangan antara imanensi dan transendensi.
"Antara apa yang ada dalam batas dan hasrat untuk melampaui batas itu," terang Karlina yang kemudian menarik benang merah buku tersebut dan menghubungkannya dengan realitas aktual "cuaca politik" Indonesia masa kini.
"Setelah adanya kesaksian Pak Mochtar ini, apakah kita masih akan gagap menentukan arah Indonesia seperti yang kita cita-citakan selama ini? Politik dua tahun ke depan akan sangat hiruk-pikuk, dan saya berharap kita tak gagap setelah membaca buku ini," ujar Karlina.
(mmu/mmu)











































