Seiring dengan itu, perlahan dengan permainan lampu, sebagian dari gambar dalam lukisan itu hilang. Panggung menjadi terbuka, dan tampaklah Pangeran Diponegoro berdiri, kakinya dipeluk oleh sang istri yang duduk bersimpuh. Beberapa orang tentara Belanda berdiri di sisi kiri dan kanannya. Seorang penari, terbelit-beli tali, bergerak-gerak di depannya.
Itulah adegan pembuka pertunjukan 'Java War 1825-0000' karya Sardono W Kusumo yang merupakan versi baru dari 'Opera Diponegoro' yang diperntaskan pertama kali pada 1995. Sebagai versi baru, sudah barang tentu banyak unsur baru pula yang dihadirkan. Misalnya kemunculan Peter Carey yang telah menghabiskan 25 tahun lebih untuk meneliti tentang Pangeran Diponegoro, juga keterlibatan Iwan Fals sebagai penutur lirik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Efeknya, panggung memang tampak "kotor", gelap, dan kurang jelas. Namun, apa yang tersaji seolah-olah bukanlah peristiwa pangung. Namun, pada saat yang sama, teknik itu membuat panggung bukan lagi "kotak" dengan bingkai yang tegas: penonton seperti masuk ke lorong dimensi sejarah. Istilah Iwan Fals, "seperti masuk hutan". Menurut Sardono, dalam seni pertunjukan, setiap momen adalah interaksi dengan penonton.
Iwan muncul pada setiap awal adegan, menyanyikan lirik-lirik yang disadur dari Babad Diponegoro, kitab yang ditulis sendiri oleh sang pangeran, tentang dirinya sendiri, ketika berada di pengasingannya di Makassar. Iwan menyanyikannya sedemikian rupa, dengan ciri khasnya yang kuat, bergelora, dengan vokal yang berwibawa dan penuh kharisma, sehingga seakan-akan apa yang dituturkannya adalah kejadian hari ini, bukan 200 tahun yang lalu.
Dalam bincang-bincang usai pertunjukan gladi resik, Kamis (10/11/2011) malam baik Iwan maupun Sardono berkali menegaskan, bahwa Perang Diponegoro adalah perang abadi, perang kita semua, sampai sekarang. Sardono memaparkannya dalam 7 babak, dengan sejumlah perubahan dari versi "asli"-nya. Misalnya, bagian-bagian yang terdapat dialog ringan-lucu ala Teater Gapit, dalam versi baru ini dihilangkan.
Walau tetap kuat sebagai sebuah karya seni tari kontemporer yang indah dan agung khas Sardono, tak bisa dipungkiri bahwa ada usaha untuk membuat karya ini "lebih bisa diterima" oleh kalangan generasi kini. Yang paling terlihat tentu saja kehadiran Iwan Fals itu sendiri sebagai "sang dalang" yang bernyanyi. Ia tampil seperti biasanya, dengan jins dan jaket dan menyanyi sambil memetik gitar.
Bagi penonton dari generasi kini, yang tak mengalami zaman ketika 'Opera Diponegoro' pertama kali diciptakan, menonton 'Java War 1825-0000' barangkali akan lebih "fun", tanpa "terganggu" untuk membandingkan. Namun, bagi generasi yang pernah menonton versi lama itu, ada beban tersendiri yang tak bisa dipungkiri. Yang jelas, zaman memang sudah berubah, dan setiap generasi punya pertunjukannya sendiri.
'Java War 1825-0000' dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jumat-Minggu (11-13/2011) setiap pukul 20.00 WIB.
(mmu/mmu)











































