'Anak Arloji' berisi 14 cerpen karangan Kurnia yang pernah diterbitkan di media massa. Kurnia sengaja membukukan cerpen-cerpennya yang berserakan itu agar tersusun rapi, dan bisa menjadi dokumentasi pribadi.
Beberapa cerpen yang dikumpulkan adalah 'Noriyu' dan 'Kamar Anjar' yang pernah dimuat di Koran Tempo, 'Aromawar' dan 'Pertaruhan' (Majalah Matra), 'Kuku Kelingking' (Suara Merdeka), 'Panggilan Sasha' (Femina) dan 'Laut Lepas Kita Pergi' (Kompas).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada juga yang realisme magis di 'Tetes Hujan Menjadi Abu' yang bercerita tentang seorang anak yang mempunyai firasat neneknya akan meninggal. Firasat itu ditunjukan saat hujan, tetesan hujan di tanah itu menjadi abu. Banyak yang bilang cerita itu menyedihkan, mengharukan, dan romantis," ungkapnya kepada detikhot, Selasa (26/4/2011).
Namun ada satu yang perlu digarisbawahi, meski cerita yang disajikan seputar kisah masyarakat urban, Kurnia tidak ingin dicap menggurui. Ia hanya ingin menyajikan cerita fiksi yang enak dibaca dan menarik.
"Saya nggak berharap (jadi tuntunan) sih, bukan khotbah atau terapi. Kan dalam hidup manusia itu kan banyak terjadi masalah. Bahwa problem itu kan terjadi di masyarakat urban, ini yang hidup di kota," ungkapnya.
'Anak Arloji' sudah beredar di toko buku sejak 19 Maret 2011. Buku tersebut akan didiskusikan di Serambi Salihara, Jalan Salihara, Jakarta Selatan pada 29 April 2011 pukul 19.00. Akan hadir Zen Hae (kritikus sastra) dan Akmal Nasery Basral (penulis prosa) sebagai pembahas.
(ebi/mmu)











































