Tidak tanggung-tanggung, aktivis perempuan itu menyatakan dengan berapi-api kalau dirinya ingin membongkar! Apa sebenarnya yang menyebabkan kerusuhan yang berbungkus agama di kota asal Glenn Fredly itu?
"Aku mau membongkar, ada permainan di sana," kata perempuan 61 tahun itu saat berbincang dengan detikhot di peluncuran novel perdananya yang berjudul 'Maluku, Kobaran Cintaku' di Plasa Teater Jakarta, Jumat (11/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada yang saya mau ketahui, ada apa di balik itu? Saya sampai mewawancarai tukang becak, supir angkot, sampai ke aparat-aparatnya," jelas Ratna dengan raut wajah serius.
Setelah 2 tahun bolak-balik Jakarta-Maluku, bahkan sampai Maluku Utara, ia berhasil dengan persis menggambarkan kondisi kerusuhan sampai pasca kerusuhan di Ambon.
"Pemberitaan pun yang digambarkan itu persoalan antar agama. Nah di sini saya luruskan, Itu tidak persoalan agama semata. Sebenarnya di masyarakat kita itu mau Kristen atau Islam, itu sebenernya ada kelompok yang fanatik. Nah kelompok yang fanatik itu yang diadudomba oleh kempok lain," papar Ratna. Siapa kelompok itu? Lanjut Ratna, bisa jadi negara, militer, badan intelejen.
Serunya, hal-hal yang dibeberkan soal konflik Maluku di novelnya tersebut dijamin 'fakta' oleh Ratna. Ia menjamin tidak ada yang direkayasa. Bahkan sampai keterlibatan beberapa institusi pemerintah sekali pun dalam kerusuhan tersebut.
"Di sana tidak saya rekayasa, novel ini fiksi, tapi yang benar-benar terjadi ini saya masukan. Ini fiksi dan realita. Kayak peluru di sana itu diperdagangkan peluru itu Rp 1000 per satu peluru. Siapa yang jualan? Yah anak kecil itu," paparnya.
Semua cerita tersebut Ratna sajikan dalam drama cerita sekelompok anak muda. Anak muda asal Maluku tersebut bernama Mey, Ali, Melky, Ridwan, Peter, dan Aisha. Mereka terjebak dalam pusaran sebuah konflik yang menggerus kerukunan antar suku dan agama.
"Para intelektual muda itu terdorong untuk terlibat dalam usaha-usaha menolong korban sekaligus menyerukan damai sebagai sikap politik," cerita Ratna.
Ratna berharap anak-anak muda membaca novelnya. Setelah itu anak-anak muda bisa bergerak membangun Indonesia tanpa ada konflik agama.
"Saya hanya ingin baca saja novel ini dan ambil sisi baiknya. Jangan diprotes dulu," tutupnya.
(ebi/mmu)











































