Begitu pun dengan Neno Warisman, Aktris dan Inspirator yang sangat merindukan sosok ayah seperti Achmad Bakrie. Tidak hanya rindu, tapi juga kagum terhadap Achmad Bakrie dalam mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak-anak yang hebat.
Bagi Neno, Achmad Bakrie merupakan sosok ayah yang sempurna. Bahkan jika sejarah bisa diputar, wanita yang pernah terlibat main dalam film Ketika Cinta Bertasbih ini mengaku ingin menjadi istri Achmad Bakrie.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neno pun kembali memuji dengan mengatakan bahwa kalau setiap anak di negeri ini punya ayah sememesona Pak Bakrie, dan diimbangi dengan peran KEIBUAN yang nyaris sempurna, Neno yakin, bangsa Indonesia tidak akan kesulitan mengatasi masalah peradaban.
Menurut Neno, Anak Sejuta Bintang adalah warisan terbaik yang memperkaya sifat keayahan dan keibuan kita, dimana pembaca dapat belajar dan menemukan ‘Eureka’nya.
Tidak hanya Neno yang kagum akan sosok Achmad Bakrie, tapi juga Iesje Latief yang memang sudah lama mengenal sosok Bakrie. "Pak Bakrie menguasai berbagai macam bahasa. Dan beliau mewariskan satu kata bahwa ‘dari semua keuntungan Bakrie, harus bernilai untuk kemaslahatan umat’," kata Iesje.
Menurut Iesje, keluarga Bakrie hanya memiliki satu matahari. "Kalau kita lihat didalam novel Anak Sejuta Bintang itu, bagaimana ibunya dan bapaknya men-treat dia (Ical), yang akhirnya itu menjadi satu modal kekuatan keluarga Bakrie, karena emang mataharinya cuma satu. Saya tidak melebih-lebihkan karena memang yang saya lihat seperti itu," paparnya.
Sejak tahun 1973, Iesje mengaku dirinya sudah bergabung di perusahaan Bakrie dan menjadi Assisten Sekretaris Achmad Bakrie. Sebagai orang yang sudah lama bekerja dengan perusahaan Bakrie, Iesje Latief tentu saja tahu bagaimana kehidupan keluarga Bakrie, khususnya Pak Ical. "Saya masuk di Bakrie itu September 1973, saya menjadi Assisten Sekretarisnya almarhum ayahnya Pak Ical, jadi saya tahu sekali tentang keluarga beliau," jelas penggagas novel Anak Sejuta Bintang ini.
Kemudian, seperti yang diceritakan dalam novel, diakui Iesje yang juga pernah menjadi Sekretaris Executive Aburizal Bakrie ini bahwa memang benar Pak Ical memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. "Saya dulu dididik sama dia. Saya itu tidak boleh menomorsatukan "orang bule" daripada bangsa sendiri," ungkapnya.
(adv/adv)










































