'Game of Thrones' Season 8 Eps 3: Perang Tak Pernah Terasa Sememuaskan Ini

Candra Aditya - detikHot
Senin, 29 Apr 2019 14:09 WIB
Foto: Dok. Helen Sloan/HBO
Jakarta -

Perhatian: Spoiler

Episode ketiga 'Game of Thrones' musim terakhir ini memberikan begitu banyak hal yang susah untuk diutarakan. Tapi yang jelas pertarungan hidup dan mati di Winterfell ini sudah membuat penonton deg-degan dari awal logo HBO muncul.

Hal yang pertama adalah karena peperangan ini adalah klimaks dari semua hal yang berhubungan dengan white walker sejak ia muncul di episode pertama Game of Thrones. Kedua, karena untuk memulai peperangan akbar ini, D. B. Weiss dan David Benioff turun langsung untuk menulis skripnya.

Dan yang terakhir sutradara Miguel Sapochik, yang berhasil mempersembahkan perang paling dahsyat dalam sejarah pertelevisian melalui episode Hardhome dan Battle of the Bastards, memegang kendali episode ini. Dan ternyata hasilnya penuh dengan kejutan.


Kejutan pertama datang ketika Melisandre muncul ketika para pasukan sudah siap sedia untuk melawan white walker. Sapochik benar-benar menunjukkan kemampuannya mengatur suspense disini. 20 menit pertama episode ini adalah masterclass in suspense.

Bagaimana cara mengatur ketegangan dan men-set-up peperangan sebelum semuanya berantakan adalah salah satu momen yang akan selalu diingat oleh para penonton Game of Thrones di masa depan. Ketika senjata para Dothraki terbakar api, semua orang akan merasakan hal yang sama. Excitement yang menggebu-gebu. Apalagi ketika Sapochik menunjukkan wide shot sekumpulan api yang menyala-nyala dari tempat Sansa dan Arya berada.

Dan perang pun akhirnya terjadi. Dothraki menyerang white walker. Cahaya melawan kegelapan. Dothraki, seperti yang kita lihat sebelumnya adalah bangsa yang sungguh kuat dalam bertarung. Melihat mereka kalah dalam sekejap melawan white walker membuat pertaruhan episode ini menjadi meningkat dalam sekejap.

Kekalahan mereka juga membuat dinamika antara Jon Snow dan Daenerys Targaryen menjadi lebih rumit ketika mereka menunggu kedatangan Night King. Berbeda dengan Jon Snow yang baru berkenalan dengan Dothraki, Daenerys mempunyai hubungan yang sungguh kompleks dengan mereka.

Kita sudah sering melihat karakter-karakter dalam Game of Thrones berada di ujung tanduk sebelumnya. Tapi baru kali ini kita benar-benar melihat mereka berada di ambang hidup dan mati. Semuanya terasa menyeramkan. Seakan-akan semuanya bisa selesai kapan saja. Melihat Jaime Lannister, Brienne of Tarth, Tormund, Beric, Jorah Mormont, Llyana Mormont dan Arya Stark berjuang keras mati-matian sungguh membuat jantung dag dig dug.

Dengan durasi 82 menit, The Long Night memang menghadirkan peperangan yang sungguh epik. Meskipun begitu, D. B. Weiss dan David Benioff masih menyisakan waktu untuk kita benar-benar update dengan karakter-karakter yang tidak ikut perang. Momen Sansa Stark dan Tyrion Lannister bercakap-cakap di bawah tanah adalah salah satu momen yang perlu di-highlight.


Momen keduanya memang singkat dibandingkan dengan pertarungan yang terjadi di luar sana tapi momen singkat tersebut menggambarkan bonding mereka berdua yang makin erat.
Yang mungkin agak mengecewakan adalah adegan battle naga melawan naga.

Visual The Long Night secara keseluruhan memang sangat gelap (saya harus meninggikan brightness TV saya supaya saya bisa menontonnya dengan jelas). Tapi adegan Daenerys dan Jon melawan Night King dengan naga mereka di udara terasa sangat jomplang dengan adegan peperangan di bawah karena secara visual stagingnya terasa kurang menarik.

Tapi semuanya bisa dimaafkan. Bahkan kenyataan bahwa tidak ada karakter yang utama mati dalam episode ini meskipun berdasarkan episode sebelumnya kita sudah banyak mengira orang-orang penting akan mati. Meninggalnya Llyana Mormont, Eddison Tollet, Beric Dondarrion memang menyedihkan. Dan kepergian Theon Greyjoy dan Jorah Mormont jelas meninggalkan luka yang dalam.

Tapi untuk ukuran Game of Thrones, kematian mereka kurang mengejutkan. Kematian mereka tidak membuat penonton trauma seperti kematian Ned Stark atau kejadian Red Wedding. Ini semua pun masih bisa dimaafkan. Karena apa? Karena episode ini kita akhirnya bisa melihat betapa badassnya seorang Arya Stark.

Baik D. B. Weiss dan David Benioff beserta sutradara Miguel Sapochik sepertinya memilih Arya Stark sebagai karakter favorit mereka karena tidak ada satu pun karakter lain yang mendapatkan treatment se-spesial dia. Semua adegan Arya Stark di episode ini sungguh brilian.

Aksinya di perpustakaan Winterfell adalah salah satu sekuens hide and seek paling menegangkan yang pernah ada. Nuansanya seperti anak-anak kecil vs. dinosaurus di Jurassic Park. Kita tidak pernah melihat Arya sepanik ini sebelumnya. Dan melihatnya dia beraksi dengan kepanikan tingkat tinggi membuat adegan ini terasa sungguh legit. Duetnya dengan The Hound adalah hadiah kepada penonton.

Tentu saja adegan tersebut tidak akan menjadi se-powerful itu tanpa penampilan penuh komitmen dari Maisie Williams. Dia sanggup menampilkan sosok Arya yang panik tapi tanpa kelihatan jati dirinya. Dia tetap seorang fighter dari awal sampai akhir.

Melihat seorang Arya yang tumbuh dari seorang bocah bandel sampai akhirnya menjadi petarung mematikan ketakutan melawan banyaknya white walker sungguh membuat jantung ini berdetak lebih kencang. Dan Williams menjual ini dengan sempurna. Tapi tidak ada yang mengalahkan aksinya di akhir episode ini.

Ketika harapan sudah tidak ada. Kita melihat begitu banyak korban berjatuhan. Winterfell menjadi puing-puing. Theon sudah kelelahan menjaga Bran Stark. Daenerys tak lagi bersama naganya. Jon Snow kewalahan melawan Viserion yang sekarang sudah menjadi tim Night King. Dan musik Ramin Djawadi yang sungguh emosional mengiringi ini semua, seluruh penonton episode ini sudah tahu bahwa sepertinya endingnya tidak akan berakhir dengan baik.

Night King sudah sampai. Dan Bran mengatakan selamat berjumpa dengan Theon yang akhirnya mati sebagai pahlawan.

Ketika Night King akhirnya berhadapan dengan Bran dan sepertinya semuanya akan menjadi sangat gelap, muncullah Arya dengan dragon blade. Dan saat itulah kita menyaksikan salah satu terepik dalam sejarah 'Game of Thrones'. Arya Stark, berhasil membunuh Night King.

Sungguh sebuah kejutan yang luar biasa. Tidak ada yang menyangka. Tapi sungguh memuaskan. Dan sekarang tinggal satu musuh lagi yang tersisa: Cersei Lannister.

BEST PLAYER OF THE WEEK: Arya Stark
WORST PLAYER OF THE WEEK: Daenerys Targaryen
THE SWEETEST MOMENT OF THE WEEK: Sansa Stark dan Tyrion Lannister
BADASS MOMENT OF THE WEEK: Arya Stark vs. Night King
RUNNER-UP BADASS MOMENT OF THE WEEK: Lyanna Mormont vs. The Giant
BEST DEATH OF THE WEEK: Lyanna Mormont vs. The Giant
REST IN PEACE
Beric Dondarrion, Eddison Tollet, Llyana Mormont, Theon Greyjoy, Jorah Mormont dan Melisandre

(doc/doc)