Kaleidoskop Musik Indonesia 2013

Konser Artis Asing Makin Gencar, Toko Kaset Lokal Tutup

M Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Senin, 06 Jan 2014 07:30 WIB
Jakarta - Hal pertama ketika bicara geliat musik di Indonesia pada tahun 2013 tak lepas dari bahasan mengenai banjir konser artis asing, tak hanya Jakarta, tapi juga beberapa kota lain di Indonesia.

Beberapa musisi besar internasional kembali untuk kedua atau ketiga kalinya, tapi ada juga gelaran perdana yang disambut gegap-gempita. Kembalinya kepercayaan pada Indonesia sebagai negara yang aman, dibarengi dengan infrastruktur yang terus dibenahi ikut mendorong maraknya konser artis asing.

Weezeer (8/1) dan konser terakhir trio Swedish House Mafia dalam konser bertajuk 'One Last Tour' (19/1) membuka awal tahun 2013. Road to Big Sound Festival (24/4) mampu menyedot perhatian lewat kehadiran The Koosk bersama-sama dengan The Radio Dept.

Ambience Sigur Ros akhirnya untuk pertama kalinya hadir di Ibu Kota (10/5). Tapi sayang, satu satu kecacatan diwakili oleh batalnya penampilan Aerosmith gara-gara isu keamanan. Meski begitu, kehadiran Big Sound Festival (15/5) dengan The Temper Trap, Tegan and Sara dan 'The British Invasion' Blur mengobati kesedihan itu.

Memasuki bulan Juli, semua konser di Indonesia rasanya tak berarti ketika Metallica memastikan diri tampil setelah 20 tahun silam lamanya. Seluruh pecinta musik bersatu menggunjingkan, entah memang fans atau sekedar ingin menjadi saksi sejarah James Hetfield Cs itu. Pada 25 Agustus, klimaks dari seluruh konser di tanah air berada di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Metallica bersama 60.000 metalheads membuncah, mengguncang Indonesia.

Bulan-bulan setelahnya masih ampuh, setidaknya dengan kedatangan perdana Snoop Dogg a.k.a Snoop Lion (20/9) dan tur album baru Fall Out Boy di malam yang sama (19/10) serta Ke$ha (22/10). Grup rock lawas ASH (23/11) hadir menjadi penampil utama di 280 Festival juga cukup menambah daftar penjang. Ditambah lagi grup Jepang ONE OK ROCK yang untuk pertama kali membuat penonton terdiam kagum. Beberapa konser di Bulan Desember telak tertutup oleh acara tahunan Djakarta Warehouse Project (DWP) (13/12) yang terus menjadi 'trending topic' di dunia nyata dan maya.

Selain konser musik asing, dua konser yang menjadi sorotan masyarakat adalah Konser Ulang Tahun Slank Ke-30 (13/12) dan Trio Lestari Show (19/12). Bukan hanya perihal konsep dan nama besar masing-masing musisi, tapi juga dengan intensitas kemunculan para politikus yang melakukan PDKT di panggung musik.

Selain kebanjiran konser, panggung musik Tanah Air juga dihiasi oleh beberapa isu tak sedap. Keluarnya pentolan boyband SM*SH, Morgan dan girlband Cherrybelle, Annisa, membuat penggemarnya kecewa setengah mati. Apalagi ketika apa yang menjadi alasan pendidikan yang diungkap keduanya tak terbukti, alih-alih sekolah, Morgan dan Annisa justru aktif di layar kaca sebagai bintang sinetron.

Tindakan kriminal terhadap musisi juga sempat menjadi berita utama, yang cukup parah terjadi pada vokalis Saint Loco, Beery Manoch. Vokalis bertato itu disiram air keras seusai melakasanakan konsernya di Malang, Jawa Timur.

Isu tak sedap muncul juga dari permasalahan beberapa gerai karaoke yang dituduh melakukan pembajakan lagu. Radja, adalah grup band yang merasa dirugikan dengan penggunaan lagu mereka tanpa izin oleh dua gerai karaoke, Inul Vizta dan Diva.

Masih tidak menyenangkan ketika beberapa legenda musik Indonesia mengembuskan napas terakhirnya. Diana Nasution, solois bersuara emas dan Syech Abidin, drummer grup AKA, di antaranya yang menjadi berita utama kabar duka cita.

Tidak melulu kabar tak baik, angin segar juga mengahampiri musisi lokal dengan karya-karya terbaru mereka. Kembalinya Krisdayanti ke atas panggung tak bisa dianggap bisa, belum lagi Samson yang akhirnya mendapatkan vokalis baru setelah beberapa tahun diam sepeninggalan Bams. Kecanggihan tekhnologi dimanfaatkan betul oleh The Changcuters dalam album keempat, 'Visualis' yang hadir dalam format 3D dengan bantuan aplikasi khusus.

Raisa juga percaya diri mengeluarkan boxset di album 'Heart to Heart', Superman Is Dead dengan album 'Sunset di Tanah Anarki' mencoba protes terhadap pemerintah daerah Bali dan Project Pop, merilis 'Move On' sebagai bukti semenjak grup vokal itu memutuskan berjalan sendiri tanpa label. Namun, salah satu atau mungkin yang paling menjadi magnet adalah toko kaset dan CD musik di Indonesia yang berada pada titik nadir, bahkan yang terbesar Aquarius.

Transisi penjualan era digital mau tak mau merenggut sistem-sistem manual dan menepatkan toko kaset dan CD pada kondisi labil, belum lagi pembajakan yang semakin parah. Berjalan pertama kali pada tahun 1995 dan perlahan mengembangkan gerainya di Bandung dan Surabaya, dengan perlahan juga satu per satu tutup. Mulai dari Surabaya, kemudian disusul Bandung dan salah satu Aquarius di Pondok Indah Jakarta.

Sampai akhirnya yang terbesar, Aquarius Mahakam, menjadi yang terakhir bertahan di tengah ombak digital yang semakin ganas. Per 31 Desember diputuskan menjadi akhir dari seluruh kegiatan operasional Aquarius Mahakam, setelah sebelumnya digelar diskon besar-besaran sejak awal bulan untuk membantu melapangkan napas terakhirnya.

Sejumlah musisi kenamaan Tanah Air cukup menyayangkan apa yang terjadi. Tetapi memang kaset dan CD tak lagi bisa bertahan ketika iTunes menjadi jaminan penjualan karya para musisi. Bila begini teringat lagu lama milik The Buggles, 'Video Killed the Radio Star', namun saat ini lebih tepat jika berjudul 'iTunes Killed the CD Store'.

(hap/mmu)