Natasha Gabriella Tontey
|
|
Tak heran, lelehan boneka plastik, potongan bagian boneka, uang-uangan, mainan plastik seringkali menjadi bagian dari instalasi karya seninya. "Saya mencoba membawa seni dengan hal-hal yang paling dekat dengan saya, misalnya masa kecil saya," ujarnya kepada detikHOT. Apa lagi yang akan dieksplorasi oleh Natasha pada 2014?
Andi RHARHARHA
|
|
Jebolan seni rupa Institut Kesenian Jakarta ini juga aktif untuk melakukan kampanye sosial lewat seni yang ia geluti. Tahun 2013 ini, ia mengikuti beberapa pameran bersama komunitasnya, Indonesian Street Art Database (ISAD).
"Ini adalah gagasan tentang kreatifitas sosial yang dikembangkan di ruang-ruang kota. Street art sebenarnya punya strateginya sendiri, dia sebagai kontrol sosial, juga sebagai counter-culture," jelasnya. "Street art punya peran penting untuk mengkritik."
The Popo
|
|
Sosok Popo juga sudah dipamerkan di manca negara. Mulai dari Berlin Street Art, Berlin dan acara Nite Festival, di Singapore Art Museum. Seniman jalanan ini juga mengaku terinspirasi dari karya Banksy. Menurut Popo, seni jalanan berakar dari kehidupan sosial manusia sendiri. "Dimana ada kehidupan si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, si baik dan si jahat, si salah dan si benar," jelasnya.
Saleh Husein
|
|
Ilustrasi yang ia buat terpecah-pecah pada banyak sekitar 100 frame ini, merupakan hasil pencariannya mengenai identitas Arab dan aktivitas politik dari warga keturunan Arab sepanjang 1930 hingga 1940 di Indonesia.
Julia Sarisetiati
|
|
Ia mengumpulkan empat mahasiswa ilmu sosial untuk berdiskusi tentang kehidupan sekitar. Direkam dan tayangan dipampang dalam pameran di Jakarta Biennale. Disini ia coba menawarkan seni sebagai jalan keluar warga dari mekanisme yang terjadi. Ia menuliskan bahwa lewat seni, warga bisa kembali menghayati kehidupan.
Mahardika Yudha
|
|
Saat Siangapore Biennale 2013 digelar, Mahardika Yudha juga turut serta. Ia membawa karya berjudul The Face of the Black River. Sebuah video berdurasi 12:53 menit.
Monica Hapsari
|
|
Ia adalah lulusan Kriya Tekstil di Institut Teknologi Bandung. Kini ia berprofesi sebagai ilustrator, pengarah gaya, pengajar di LaSalle College dan penulis lepas di berbagai majalah mode nasional dan internasional.
Bujangan Urban
|
|
Selain itu, Bujangan Urban juga turut menyemarakan Jakarta Biennale 2013 dengan karya grafitinya di tembok depan Wisma BNI 46.
Faisal Habibi
|
|
Ia berhasil mendapatkan juara pertama dengan total hadiah Rp 50 juta. Serta beasiswa residensi seni patung di Berlin, Jerman selama satu bulan.
Karyanya yang berjudul 'Masyarakat Diam' dinilai oleh para dewan juru berhasil membuat patung yang berada di luar mainstream, bahkan melampaui batas konvensi para pematung lainnya.
Yustiansyah Lesmana
|
|
Yustiansyah bersama grup Teater Ghanta asal Universitas Nasional memborong enam kategori lainnya di perhelatan FTJ yang ke-41. Kini, namanya pun diperhitungkan sebagai salah satu sutradara muda berbakat. Tahun lalu, ia pun membuat garapan berjudul 'Jakarta Karikatur.
Halaman 2 dari 11











































