ADVERTISEMENT

Spotlight

'San Andreas': Menciptakan Bencana dari Visual Efek

Adhie Ichsan - detikHot
Kamis, 28 Mei 2015 12:05 WIB
Jakarta -

Dengan penggambaran gempa bumi dahsyat yang apik dari visual efeknya, 'San Andreas' mungkin bisa menimbulkan ketakutan dan rasa waspada bagi penduduk awam di San Francisco. Tetapi sebagai disaster movie, film ini begitu lemah dalam menyentuh sisi kemanusiaan.

Dalam film-film bertema bencana, selalu ada berbagai sisi yang bisa dilihat. Kebesaran Tuhan, patriotisme, humanisme, gotong royong, arti keluarga, dan sebagainya.
 
Bagaimana sebuah bencana membuat seorang manusia tampak seperti buih di lautan, lemah dan tak berdaya. Saat itulah nama Tuhan kembali disebut bagi yang melupakannya. Status dan kedudukan tak lagi penting, semua sama-sama tak bisa berbuat apa-apa.

Tetapi dalam film ini sutradara Brad Peyton dan penulis skenario Carlton Cuse, Andre Fabrizio serta Jeremy Passmore justru membawa efek bencana (yang digambarkan) dahsyat, ke lingkup yang lebih kecil. 'San Andreas' seperti plot video game dengan tokoh utama berbadan kekar yang mengemban misi menyelamatkan keluarganya. Musuh yang dihadapi adalah gedung-gedung pencakar langit yang mulai runtuh dan ancaman tsunami.

Baca Juga: Tayang 15 Juli, Ini Poster 'Comic 8: Casino Kings'

Di awal film penonton diperlihatkan adegan dramatis ketika pilot Ray Gaines (Dwayne Johnson) dan tim dari departemen pemadam kebakaran Los Angeles, menyelamatkan seorang gadis yang terjebak dalam mobil di jurang. Ia melakukan manuver heroik dengan menyelipkan helikopternya ke dalam jurang yang sempit.



Sementara di tempat lain, seorang seismolog Lawrence (Paul Giamatti) sedang melakukan penelitian dengan timnya untuk memprediksi gempa bumi. Hingga kemudian hal yang ditakutkan Lawrence benar-benar terjadi. Gempa besar meluluh-lantakkan Hoover Dam hingga menelan ratusan korban, salah satunya rekan kerja Lawrence. Dan gempa yang lebih besar menanti di San Francisco.

Sebagai petugas penyelamat, Ray pun dipanggil untuk bertugas. Tetapi di tengah perjalanan, ia mendapat kabar bahwa mantan istrinya Emma (Carla Gugino) tengah terjebak dilantai teratas gedung tinggi saat gempa terjadi. Ray putar balik menuju lokasi sang istri, dan aksi heroik selanjutnya berhasil menyelamatkan nyawa mereka berdua.

Baca Juga: Film Prekuel 'Transformers' Akan Berlatar di Planet Cybertron

Setelah bisa menghela napas, Ray dan Emma putrinya langsung dikejutkan dengan telepon bahwa putri mereka Blake (Alexandra Daddario) tengah terjebak di sebuah gedung parkir, ditinggalkan pacar ibunya yang baru Daniel (Ioan Gruffudd). Jadilah Ray menggunakan helikopter pemadam kebakaran menuju San Francisco untuk menyelamatkan anaknya.

Lalu, bagaimana dengan tugas awal dia sebagai penyelamat yang dibutuhkan masyarakat?

Jika dibandingkan dengan film 'The Impossible' (2012) arahan sutradara J. A. Bayona, 'San Andreas' sama sekali bukan tandingan. Dengan menampilkan latar tragedi tsunami yang tanpa dilebih-lebihkan, 'The Impossible' sanggup membawa penonton hanyut dalam cerita, dan tenggelam dalam keharuan melihat perjuangan Maria Bennett (Naomi Watts) menemukan anaknya. Dan ketika ia benar-benar bertemu dengan sang anak, sulit rasanya membendung air mata.

Hal demikian tidak terjadi di film 'San Andreas'. Penonton hanya disuguhkan gempa yang tak berkesudahan menghancurkan gedung-gedung tinggi dengan visual efek cukup memukau, namun tidak digambarkan dampak tragedi kemanusiaan kepada jutaan korban lain. Mereka hanya sebagai figuran yang numpang lewat dan tertimpa reruntuhan gedung, sama seperti penduduk New York yang jadi korban ketika digempur alien saat bertarung dengan 'The Avengers'.



Selain itu, fakta tentang gempa di film ini juga diragukan dan penggambaran bencananya dinilai terlalu berlebihan. Seorang ahli gempa AS Lucy Jones mengatakan kemungkinan gempa terbesar yang bisa terjadi di San Francisco hanya 8,2 SR, bukan lebih dari 9 yang disebutkan film.

Tetapi, jika Anda ingin menonton Dwayne Johnson beraksi narsis seperti Tom Cruise dan Steven Seagal yang susah mati, film ini bisa menjadi pilihan.



(Adhie Ichsan/Is Mujiarso)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT