detikHot

Spotlight

'Marmut Merah Jambu', Kenangan Cinta Pertama dan Debut Raditya Dika sebagai Sutradara

Rabu, 07 Mei 2014 10:43 WIB - detikHot
Jakarta - Sebagai penulis, Raditya Dika memang sudah mengeluarkan banyak karya yang dekat dengan kehidupan masa remaja. Namun bakatnya di bidang penyutradaraan baru terasah di serial 'Malam Minggu Miko'. Bagaimana debutnya sebagai sutradara di layar lebar?

Buku pertama Dika yang diadaptasi ke film adalah 'Kambing Jantan' (2009) dengan sutradara Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, penulis kelahiran 28 Desember 1984 itu langsung keluar dengan tiga film dalam satu tahun, yakni 'Cinta Brontosaurus' (Fajar Nugros), "Cinta Dalam Kardus' (Salman Aristo), dan 'Manusia Setengah Salmon'(Herdanius Larobu/Capluk).

Film-film Dika tak pernah disutradarai oleh orang yang sama. Tapi, dari situ ia banyak belajar untuk menjadi pengarah dari cerita yang ia tulis sendiri.

"Ini berarti gue punya kebebasan kreatif penuh dalam pengerjaannya, seperti di saat gue mengerjakan serial Malam Minggu Miko," kata Dika usai pemutaran perdana filmnya di Epicentrum, Kuningan, Selasa (6/5/2014).

'Marmut Merah Jambu' memiliki premis sederhana yang dekat dengan keseharian di masa remaja yaitu cinta pertama. Suatu hari Dika (Christoffer Nelwan, 'Lima Elang') bertemu dengan Bapak dari Ina Mangunkusumo (Dina Anjani), cinta pertamanya di SMA. Kepada Bapak Ina (Tio Pakusadewo), Dika menceritakan tentang usahanya di SMA membuat grup detektif untuk menarik perhatian Ina, bersama Bertus (Julian Liberty), temannya yang sama-sama anak terbuang di sekolah.

Dika juga bercerita tentang persahabatannya dengan cewek unik bernama Cindy (Sonya Pandarmawan) di SMA. Lalu, seiring dengan Dika bercerita, seiring itu pula dia sadar, ada kasus di masa lalunya yang belum selesai hingga dia dewasa. Saat dia berusaha memecahkannya, saat itu pula pertanyaan menggantung, benarkah cinta pertama nggak kemana-mana?

Sejak awal berdiskusi dengan Produser Chand Parwez dari Starvision, Dika sudah menentukan visinya. "Gue pengen setelah lampu bioskop dinyalakan, penonton langsung teringat dengan cinta pertama mereka," ujarnya.

Sepertinya visi sederhana Dika cukup tersampaikan dengan baik. Dengan mengambil porsi 70 persen cerita dengan latar di SMA, penonton memang dibawa kembali ke masa putih abu-abu dengan segala ceritanya, intrik di sekolah, persahabatan, dan terutama kenangan cinta pertama.

Tokoh Dika dibawakan dengan cukup baik oleh Christoffer yang tampil sebagai cowok kaku, dan tak populer. Sementara Julian Liberty menyadi poros keceriaan dalam film ini. Setiap dia muncul, selalu ada tingkahnya yang membuat kita tergelak.

Sosok Cindy juga mengingatkan kembali bahwa mungkin saja ada seseorang di sekeliling kita yang memberi perhatian lebih tanpa kita sadari. Perhatian diam-diam seperti yang tertuang dalam potongan puisi Sapardi Djoko Damono, "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu..."

Apabila diperhatikan dari aspek teknis, Dika memang masih kurang berpengalaman dibanding sosok terdahulu yang menangani film-filmnya. Tetapi yang perlu dicatat, 'Marmut Merah Jambu' boleh jadi lebih menghibur dari film-film Dika sebelumnya.


(ich/ich)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com