Emma yang mendapatkan julukan 'mattersgirl' tersebut berkeliling kampus dan melakukan perfoming arts. Ia menyimbolkan matras atau kasur sebagai aksi protesnya.
Gara-gara aksi tersebut, Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power memuji aksi Emma di akun Twitter. "Ia membawa kasur itu ke mana-mana, di kampusnya dan kawasan tempatnya tinggal. Yang dilakukan Emma benar-benar sebuah tindakan demi perubahan lebih baik," tulis Power, seperti dilansir detikHOT dari LA Times, Senin (1/6/2015).
Baca Juga: Jadi Korban Pelecehan Seksual, Mahasiswi Seni di Amrik Protes Keliling Kampus
Pernyataan Power pun menimbulkan banyak reaksi. Banyak mahasiswa dan masyarakat yang tak menyukai apa yang dilakukan Emma dan beranggapan ia tidak diperkosa tapi melakukannya karena suka sama suka.
Senator AS, Kristen Gillibrand (D.N.Y.) pun mendukung aksi protes Emma secara blak-blakan. "Saya percaya Emma dan mendukung apa yang dilakukannya kapan pun," katanya.
Sementara itu, terdakwa atas kasus tersebut Paul Nungesser menuntut balik pihak kampus Emma dan dosen seni karena mengizinkan Emma melakukan aksinya sejak September lalu. Ia mengklaim gara-gara aksi seni tersebut terdakwa mengalami kerugian reputasi, waktu belajar, emosional, dan prospek masa depannya.
"Proyek matras adalah pelecehan berbasis gender dan pelanggaran terhadap Paul. Saya telah dicap sebagai pemerkosa berantai oleh aksi Emma," kata Paul.
Melalui akun Twitter @notfakerape, Emma mengajak para perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan untuk ikut aksi protes serupa dengan yang dilakukannya.
(Tia Agnes Astuti/Tia Agnes Astuti)











































