ADVERTISEMENT

Review The Princess: Seru-seruan Bareng Sang Putri

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 04 Agu 2022 12:21 WIB
The Princess
Foto: dok. Disney+/Hulu
Jakarta -

Apapun yang Anda perlu tahu tentang The Princess, film terbaru sutradara Vietnam, Le-Van Kiet, ada di pembukaannya. Seorang Putri (Joey King) terbangun di sebuah kamar dengan tangan di borgol kemudian mencoba melarikan diri dan tersadar bahwa dia ada di puncak menara. Dua orang penjaga masuk dan tentu saja mereka mengeluarkan komentar menjijikkan. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi, Si Putri dengan lincah langsung melawan keduanya. Adegan ini dibuat singkat, padat dan jelas. Lengkap dengan adegan menusuk mata dengan besi.

Kalau pembukaan ini adalah jenis tontonan yang Anda suka, maka Anda akan sangat menikmati The Princess.

Tentu saja dalam film seperti ini penjahatnya harus benar-benar jahat untuk menambah rasa. Di sini Dominic Cooper berperan sebagai Julius, calon suami Si Putri yang ternyata tidak hanya berani melakukan kudeta tapi juga menganggap sikap Sang Raja terlalu lembek. Menurutnya kalau jadi Raja, rakyat harus tunduk. Tidak mengherankan ketika Si Putri meninggalkan altar dia memutuskan untuk mengurung Si Putri dan menghukum anggota keluarganya.

Dengan durasi yang sangat bersahabat (satu jam setengah), The Princess memiliki plot yang sangat sederhana. Penulis skripnya, Ben Lustig dan Jake Thornton, seperti paham benar tren film aksi zaman sekarang (dua jilid The Raid, serial John Wick dan mungkin Die Hard) dan memutuskan untuk menambahkan bumbu feminisme untuk membuat kisahnya menggigit.

The Princess memang diwarnai karakter-karakter yang berlebihan. Tidak ada subtlety di film ini. Semuanya serba hitam dan putih. Belum lagi dialognya yang terdengar menggelikan. Beberapa aktornya (terutama Dominic Cooper) memutuskan untuk tampil seteatrikal mungkin seolah-olah karakternya tidak cukup jelas kalau dia jahat. Tapi meskipun begitu, The Princess tetap menghibur dari awal sampai akhir.

Le-Van Kiet mendesain The Princess dengan semangat yang membara. Bagian pertama film ini memang agak pelan dengan banyaknya flashback sebagai eksposisi. Tapi ketika Le-Van Kiet memutuskan untuk mengajak Si Putri berdansa, The Princess adalah film yang sungguh menyenangkan. Adegan berantemnya dibuat dengan lumayan lincah dan kameranya bergerak dengan liar. Penonton benar-benar diajak untuk ada di sana, menyaksikan pembuktian Si Putri bahwa dia lebih dari kompeten untuk menjadi pemimpin.

The Princess memang tidak menampilkan adegan yang terlalu sadis tapi dia juga tidak lemah lembut. Seperti yang dibuktikan di pembukaannya, film ini lumayan beringas. Dan karena desain ceritanya yang seperti ini, rasanya sungguh memuaskan.

The Princess dapat disaksikan di Disney+ Hotstar

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT