ADVERTISEMENT

Review Spiderhead: Eksperimen Berbahaya yang Jinak

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 19 Jun 2022 15:03 WIB
Spiderhead
Foto: Netflix
Jakarta -

Tanpa peringatan yang menghebohkan, Netflix merilis film terbaru Joseph Kosinski setelah kesuksesan Top Gun: Maverick. Diadaptasi dari cerita karya George Saunders berjudul Escape From Spiderhead, film ini sama sekali berbeda dengan sekuel yang dibintangi Tom Cruise tersebut. Yang ini adalah sebuah thriller yang membahas soal etika dan juga trauma tapi masih dibungkus dengan visual yang menawan seperti film-film Kosinski sebelumnya.

Spiderhead sendiri sebenarnya adalah sebuah nama sebuah tempat untuk menguji obat-obatan kimia di sebuah tempat antah berantah yang lebih mirip tempat healing daripada tempat eksperimen. Subyek yang dites adalah para kriminal yang sudah setuju untuk menjadi volunteer atas tes ini. Tentu saja mereka berharap dengan mereka berpartisipasi dalam tes ini, mereka bisa mendapatkan keringanan hukuman.

Tokoh utamanya adalah Jeff (Miles Teller, sekali lagi reuni dengan Kosinski setelah Top Gun: Maverick), seorang pemuda yang masih memiliki trauma atas kesalahannya menyetir dalam keadaan mabuk. Salah satu eksperimen yang dilakukan oleh Steve Abnesti (Chris Hemsworth) adalah meminta Jeff untuk mencoba "ramuan cinta" yang membuat orang-orang bisa merasakan perasaan cinta (atau lebih tepatnya nafsu) secara instan.

Tentu saja semuanya masih berjalan sesuai dengan skenario. Tidak ada orang-orang yang curiga dengan eksperimen ini. Bagaimana bisa percaya kalau yang melakukan eksperimen tidak hanya sabar tapi juga sangat well-spoken. Semua orang bebas pergi kemana saja dan semua orang seperti memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja. Semua ilusi ini tetap terjaga sampai akhirnya Jeff mulai menyaksikan sesuatu yang mengerikan yang membuatnya mempertanyakan soal eksperimen ini dan tentu saja motivasi Steve.

Ditulis oleh penulis skrip Deadpool dan sekuelnya (Rhett Reese dan Paul Wernick), Spiderhead sangat berbeda dengan karya-karya yang mereka buat sebelumnya. Hampir tidak ada humor seperti yang Anda bisa temukan seperti di Zombieland atau 6 Underground. Bahkan Life, sebuah sci:fi yang sangat underrated saja masih memiliki sedikit humor di dalamnya. Di Spiderhead, auranya sangat serius dari awal film dibuka. Kalau pun karakternya saling bertukar tawa, jangan pernah terkecoh karena itu sebenarnya hanya tipuan.

Apa yang ditawarkan dalam Spiderhead sebenarnya bukan hal yang baru, baik di dunia nyata atau pun dalam ranah film thriller yang berbau sci:fi. Melakukan eksperimen berbahaya demi tujuan yang misterius? Saya yakin Anda pasti pernah menonton film sejenis setidaknya sekali. Yang agak disayangkan dari Spiderhead sebenarnya adalah pilihan-pilihan yang terlalu simple untuk sebuah premis yang bisa diolah menjadi apa saja. Minimnya thrill dalam Spiderhead membuat film ini menjadi kurang serunya.

Kalau saja bukan Kosinski yang menyutradarai film ini, Spiderhead mungkin akan berakhir menjadi sebuah thriller yang akan sangat mudah dilupakan. Atau mungkin akan berakhir menjadi film kelas B yang siapapun tidak peduli. Tapi Kosinski terlalu kompeten, dia sutradara yang selalu tahu bagaimana cara mengolah bahan. Jadi meskipun secara cerita Spiderhead tidak terlalu menggebrak, setidaknya dia tahu bagaimana cara mempertahankan mood misterius secara konsisten.

Dalam Spiderhead, kita diajak untuk melihat sebuah anomali-anomali yang menarik. Seorang karakter bisa saja cerita soal kejadian menyedihkan sambil tertawa terbahak-bahak seolah-olah yang diceritakannya adalah cerita paling lucu sedunia. Kontras seperti inilah yang membuat misteri dalam Spiderhead tetap terjaga. Sementara itu para pemain-pemainnya lumayan membawa film ini ke level yang lebih baik. Miles Teller ternyata bisa diandalkan sebagai pemeran utama. Jurnee Smollett tahu bagaimana cara mencuri perhatian.

Tapi mungkin yang memang paling menonjol adalah Chris Hemsworth. Si pemeran Thor yang juga merupakan produser film ini tahu sekali kalau karakternya adalah karakter yang paling berdaging. Di tangan yang salah, karakter Steve ini bisa menjadi antagonis yang hiperbola atau sosok yang sudah jelas-jelas jahat dari awal film. Tapi Hemsworth membawakannya dengan gaya yang berbeda. Dia tampil dengan begitu halus, agak seperti Brad Pitt, dengan pesona dan kharisma yang selalu terjaga. Hasilnya adalah sebuah villain yang lumayan memorable karena semakin film bergulir, semakin kelihatan betapa jahat karakter yang ia mainkan.

Visual Spiderhead agak mengingatkan saya terhadap The Island, film karya Michael Bay yang memiliki premis agak mirip. Tapi berbeda dengan blockbuster gagal tersebut, Spiderhead jauh lebih sunyi dan senyap. Efeknya lumayan efektif dengan genre yang diusung. Spiderhead mungkin bukan follow-up yang fenomenal bagi Kosinski setelah kesuksesan Top Gun: Maverick. Tapi setidaknya ia berhasil membuktikan bahwa ia tidak takut untuk bermain-main. Sebagai tontonan akhir pekan, Spiderhead lebih dari lumayan untuk disimak.

Spiderhead dapat disaksikan di Netflix.


Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "NETFLIX Kehilangan 1 Juta Pengikut di Pertengahan 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/tia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT