Review Nightmare Alley: Tikungan-tikungan Tajam Menyeramkan

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 21 Jan 2022 18:02 WIB
Nightmare Alley
(Foto: dok. Searchlight Pictures) Tak seperti film-film del Toro lainnya, Nightmare Alley tidak memberikan sesuatu yang mengejutkan. Meski begitu visual dan desain produksinya amat menakjubkan.
Jakarta -

Nightmare Alley, film terbaru maestro bernama Guillermo del Toro, mungkin adalah film pertamanya yang tidak menyajikan elemen-elemen gaib atau mistis. Tidak ada kaiju raksasa seperti dalam Pacific Rim. Tidak ada monster seperti dalam Mimic atau Pan's Labyrinth atau bahkan The Shape of Water. Dan juga tidak ada hantu seperti dalam Crimson Peak. Meskipun begitu Nightmare Alley yang diadaptasi dari novel karya William Lindsay Gresham sangatlah del Toro. Film ini luar biasa cantik dengan kegelapan yang mencekam di setiap ujungnya.

Tokoh utamanya adalah Stanton Carlisle atau yang kerap dipanggil dengan Stan (Bradley Cooper). Seorang lelaki misterius dengan latar belakang tidak jelas. Apa tujuan hidupnya dan kenapa dia berakhir di sebuah karnaval sirkus adalah pertanyaan valid. Tapi yang paling menarik adalah justru melihat bagaimana Stan dengan cepat menjadikan karnaval sirkus ini menjadi rumahnya.

Dengan pembawaan diri yang ramah, sangat menjaga diri, ditambah dengan karisma yang baik dan juga wajah yang rupawan, tidak butuh lama bagi Stan untuk berkawan dengan personel karnaval sirkus ini. Ada Zeena (Toni Collette) yang punya atraksi "kebatinan". Kemudian ada Molly (Rooney Mara) yang kecantikannya mencuri hatinya. Ada Bruno (Ron Perlman) yang memberinya kesempatan untuk tetap hidup dengan menawarinya pekerjaan. Dan ada Clem (Willem Dafoe) yang membuka tirai untuk menunjukkan seberapa gelap sebenarnya wahana sirkus ini.

Tapi dari semua orang yang ada di karnaval sirkus ini yang paling mungkin mempengaruhi hidupnya adalah Pete (David Strathairn). Pete mengajarinya cara memberikan ilusi yang enak dikunyah bagi para penonton. Pertunjukan "mentalist" sempat membuatnya terhenyak karena Stan sepertinya menyimpan satu atau dua rahasia yang tidak ingin ia bagikan ke dunia. Berbekal ilmu ini, Stan akhirnya meninggalkan sirkus karnaval dengan hidup baru yang lebih meriah. Ia tidak tahu bahwa mimpi buruk menunggunya di ujung gang.

Seperti halnya film-film del Toro yang lain, Nightmare Alley adalah sebuah tontonan sinematik yang ketika Anda menyaksikannya di layar bioskop, Anda bisa meresapi setiap jengkal keindahannya. Desain produksi karya Tamara Deverell tidak hanya memanjakan mata tapi membuat setiap sudut karnaval sirkus tampak mempesona sekaligus menyedihkan pada saat yang bersamaan. Ketika Nightmare Alley masuk ke bagian kedua dan mengundang penonton untuk melihat progress hidup Stan yang sukses, Deverell sekali lagi memanjakan penonton dengan set dekorasi yang indah.

Dan Laustsen yang kebagian jatah merekam Nightmare Alley, melukis film ini dengan visual yang setiap frame-nya bisa dijadikan pajangan di museum. Tentu saja karena ini adalah sebuah neo-noir, tata cahaya dan bayang-bayang menjadi atraksi utamanya. Adegan aktor-aktor Hollywood ini masuk dan keluar dari kegelapan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuk dilihat. Oh, dan kostum yang didesain oleh Luis Sequira juga tidak kalah mengesankannya. Lihat bagaimana Rooney Mara mencolok mata dengan balutan busana warna merahnya. Sungguh cantik dan enak dipandang mata.

Tentu saja kemampuan del Toro untuk mempersembahkan sebuah film dengan aspek teknis yang lebih dari mumpuni adalah bukan hal yang baru. Semua filmnya memberikan ini. Sayangnya, tidak seperti film-film del Toro yang lain, Nightmare Alley tidak memberikan sesuatu yang membuat saya terkejut. Saking lempengnya Nightmare Alley, saya curiga bahwa ini bukan film del Toro.

Sejujurnya, Nightmare Alley lumayan menjadi seru ketika penonton diajak untuk masuk ke babak baru kehidupan Stan. Di paruh kedua filmnya, Nightmare Alley jauh lebih lezat. Terutama karena akhirnya kita berkenalan dengan femme fatale dalam bentuk seorang psikolog bernama Lilith Ritter (Cate Blanchett). Sebelum Ritter muncul, hampir tidak ada satu pun karakter yang bisa menyaingi "kebuasan" Stan. Semua orang takluk dengan cara ia membawa diri. Ritter mempunyai agenda yang lain. Ia tahu cara menghadapi Stan dan inilah yang membuat paruh kedua Nightmare Alley menjadi seru.

Tapi sayangnya keseruan itu tidak berlangsung lama karena plot yang disajikan oleh del Toro dan juga Kim Morgan sangat hambar. Penonton sudah tahu bahwa Stan adalah sosok yang ambisius dan serakah. Lalu apa kejutannya? Twist yang disajikan del Toro di bagian klimaks tidak bisa membuat Nightmare Alley bangkit dari ke-boring-annya. Mungkin yang bisa diapresiasi dari bagian akhirnya adalah betapa del Toro tidak berbasa-basi untuk menghadirkan konklusi yang sungguh menyedihkan.

Dengan durasi 150 menit, Nightmare Alley sangat terasa kepanjangan dalam bertutur. Meskipun film ini dipresentasikan dengan baik dan dimainkan lumayan apik oleh bintang-bintang Hollywood, banyak sekali momen saya menghela nafas dan bertanya-tanya kapan film ini akan selesai. Nightmare Alley memang bukan film yang sangat buruk. Tapi di akhir film saya jadi berharap del Toro membuat film yang lain saja. Karena Nightmare Alley ternyata minus magis del Toro yang saya kenal.

Nightmare Alley dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)