Review Eternals: Aksi Para Superhero Abadi yang Mengejutkan

ADVERTISEMENT

Review Eternals: Aksi Para Superhero Abadi yang Mengejutkan

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 12 Nov 2021 17:30 WIB
Eternals
Foto: (MARVEL) Eternals mungkin tidak selucu atau seseru film-film Marvel lainnya. Tapi film ini berhasil memunculkan kepercayaan bahwa mitologi para Eternals memang ada.
Jakarta -

Dengan pembukaan yang spektakuler, Eternals adalah film terbaru Marvel Cinematic Universe yang unik. Keunikan pertamanya adalah ini pertama kalinya Marvel membuat film yang secara cerita, agak lebih rumit dari biasanya. Keunikan kedua, ia menampilkan hubungan percintaan yang jauh lebih dewasa dari film-film sebelumnya (yang tentu saja kita tidak bisa lihat karena semua adegan itu dipotong oleh gunting LSF). Dan ini adalah film pertama Marvel yang mendapatkan rating yang kurang begitu "segar". Ketika saya menontonnya, Eternals ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Jujur, ketika filmnya berakhir, saya sangat tertarik dengan kisah dewa-dewi ini daripada sebelumnya.

Dalam Eternals kita bertemu dengan sepuluh Eternal dengan kekuatan yang sangat spesifik. Ada Sersi (Gemma Chan) yang bisa mengubah satu material menjadi material lain dengan sekali sentuhan, lainnya: Ikaris (Richard Madden, dari Game of Thrones) yang bisa terbang dan sanggup mengeluarkan laser dari matanya (tentu saja ada jokes soal Superman disini); Kingo (Kumail Nanjiani) yang bisa mengeluarkan energi kosmik dari tangannya; Sprite (Lia McHugh) yang bertubuh bocah perempuan berumur 12 tahun dan bisa memanipulasi ilusi dari ketiadaan; Phastos (Brian Tyree Henry) yang sangat ahli dalam hal teknologi; Makkari (Lauren Ridloff) superhero pertama Marvel yang merupakan seorang tunarungu dan sanggup berlarian dengan cepat; Druig (Barry Keoghan) mempunyai kekuatan untuk mengontrol pikiran manusia; Gilgamesh (Don Lee alias Ma Dong-seok dari Train To Busan) yang pukulannya sangat bertenaga; Thena (Angelina Jolie) yang bisa mengeluarkan senjata dari ketiadaan lengkap dengan ilmu bela diri yang mumpuni, serta yang terakhir adalah Ajak (Salma Hayek) yang merupakan pemimpin dari geng Eternal dan bertugas menjadi jembatan antara dirinya dan Celestials, pembuat mereka.

Para Eternals ini dikirim ke Bumi dengan satu misi: mereka harus membasmi Deviant yang ada. Deviant ini adalah monster yang sangat mengerikan dan merusak. Mereka tidak punya misi lain selain ini. Mereka tidak boleh "ikut campur urusan manusia". Itulah sebabnya mereka tidak pernah hadir meskipun Thanos "mengganggu" Bumi selama beberapa tahun terakhir. Para Eternals diutus untuk melindungi manusia agar manusia-manusia ini bisa belajar sendiri menjadi masyarakat yang makmur.

Sudah beratus-ratus tahun sejak Deviant terakhir mereka bunuh. Para Eternals kini berpisah dan menjalani hidupnya masing-masing. Sersi sekarang pacaran dengan profesor bernama Dane Whitman (Kit Harrington). Yang lainnya ia tidak tahu kecuali Sprite yang ia anggap sebagai adiknya. Kemudian malam itu, Sersi bertemu dengan Deviant baru. Dan tidak seperti Deviant yang mereka lawan sebelumnya, yang kali ini punya kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Sekarang Sersi dan Sprite bersama Ikaris harus mengumpulkan semua Eternals yang ada untuk melawan bahaya yang akan terjadi.

Ditulis oleh Chloé Zhao, Patrick Burleigh, Ryan Firpo dan Kaz Firpo, Eternals adalah sebuah film yang sangat besar. Besar dalam artian bahwa untuk pertama kalinya, saya menyaksikan sebuah kisah yang lebih dari sekedar kisah manusia.

Thanos memang sosok yang besar tapi jika dibandingkan dengan para Celestials, maka dia tidak ada apa-apanya. Agak susah memang mengadaptasi sebuah komik dengan karakter sebanyak ini. Dengan durasi yang terbatas (157 menit), penulisnya harus bisa menjelaskan tentang semua karakter dan fungsi-fungsi mereka serta tentu saja konflik yang mereka hadapi. Kalau memang ada beberapa karakter yang jadinya tidak ter-develop sebaik yang lain ya memang karena tidak ada waktu. Tapi keputusan penulisnya untuk fokus dengan Sersi dan Ikaris sebagai pemimpin menjadi menarik karena konflik terakhirnya bersarang di sana.

Chloe Zhao, nominated for best director for Chloé Zhao di karpet merah Oscar. Foto: AFP/CHRIS PIZZELLO

Secara presentasi, Eternals karya sutradara pemenang Oscar Chloé Zhao ini sangat meyakinkan. Zhao sangat ahli menunjukkan bahwa "manusia" sangat kecil kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi. Ini sudah ia tunjukkan dalam film-film sebelumnya tapi dalam Eternals, skalanya jauh lebih besar. Melihat Ajak berkomunikasi dengan Celestials raksasa di kegelapan bioskop membuat saya tersadar betapa kecilnya fungsi manusia dalam kisah-kisah ini. Sinematografi dan musiknya sangat mumpuni. Ramin Djawadi, komposer Game of Thrones, membuat gubahan musik yang sangat pas dengan film ini. Ketika musik iringannya muncul, saya menjadi tenggelam ke dalam kisahnya.

Seperti yang saya bilang tadi, karena film ini dipenuhi dengan berbagai karakter, akhirnya hanya sedikit dari aktor-aktor Eternals yang benar-benar mencuri perhatian. Angelina Jolie, Salma Hayek, Don Lee, Barry Keoghan, Lauren Ridloff, Brian Tyree Henry dan Lia McHugh kurang mendapatkan screen time yang memuaskan meskipun mereka sangat cocok dengan karakter yang mereka perankan. Kit Harrington di sini lebih seperti cameo. Malah Harish Patel yang mendapatkan jatah untuk menjadi asisten karakter Kumail Nanjiani yang mencuri perhatian dengan semua kelakuannya yang unik.

Kumail Nanjiani di sini mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kelucuannya seperti yang sudah kita saksikan di serial atau film-film komedinya sebagai Kingo, seorang Eternal yang memilih menjadi bintang Bollywood. Richard Madden sangat meyakinkan sebagai seorang superhero yang mempunyai anger issues. Gemma Chan sebagai leader dari Eternals lebih dari meyakinkan menjadi Sersi yang dipenuhi dengan empati. Kemanusiaan yang ditampilkan Gemma Chan sangat cocok untuk mengimbangi kecantikannya yang memang seperti Dewi. Kelembutannya seperti menjadi kemampuan utama Gemma Chan (seperti yang ia tunjukkan melalui Crazy Rich Asians) dan sangat dia gunakan di Eternals. Aspek itulah yang menjadikan babak terakhir Eternals menjadi lumayan menyentuh.

Harus saya akui, Eternals mungkin tidak selucu atau seseru film-film Marvel lainnya. Tapi ini pertama kalinya saya menonton film Marvel yang membuat saya percaya bahwa mereka ada. Zhao berhasil meyakinkan saya dengan mitologi yang ia buat bahwa para pahlawan ini ada dan punya masalah yang serius. Dengan ending yang sangat bikin penasaran, Eternals jelas adalah sebuah film Marvel yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Eternals dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT