Eternals Tayang di Bioskop Indonesia, Semua Adegan 'Berbahaya' Kena Sensor

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Kamis, 11 Nov 2021 13:25 WIB
SAN DIEGO, CALIFORNIA - JULY 20: The Marvel Cinematic Universe Phase Four is announced with cast members during the Marvel Studios Panel during 2019 Comic-Con International at San Diego Convention Center on July 20, 2019 in San Diego, California. (Photo by Kevin Winter/Getty Images)
(Photo by Kevin Winter/Getty Images) Persoalan sensor memang menjadi hal yang sempat dikhawatirkan oleh penggemar Marvel di Indonesia buat Eternals. Film ini sudah tayang di bioskop Indonesia.
Jakarta -

Film terbaru dari semesta Marvel, Eternals, sudah tayang di bioskop Indonesia mulai 10 November 2021. Dapat rating R13 (untuk usia 13 tahun ke atas), film ini sudah "dibersihkan" dari semua adegan-adegan yang dinilai tak layak tayang oleh Lembaga Sensor Film Republik Indonesia.

Persoalan sensor memang menjadi hal yang sempat dikhawatirkan oleh penggemar Marvel di Indonesia. Sebelum Eternals tayang di bioskop seluruh dunia, Chloé Zhao selaku sutradara juga sudah mewanti-wanti mengenai adegan-adegan yang kemungkinan akan kena sensor di berbagai negara. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah soal adegan intim karakter Phastos (diperankan Brian Tyree Henry) yang dikisahkan sebagai homoseksual dalam Eternals.

Diakui Chloé Zhao dalam sebuah wawancara dengan IndieWire sudah ada kesepakatan antara dirinya sebagai sutradara dengan Marvel selaku studio pembuat film untuk mempertahankan adegan-adegan intim dalam Eternals. Tidak hanya soal hubungan homoseksual tetapi juga hubungan heteroseksual yang terjadi antara Sersi (diperankan Gemma Chan) dan Ikaris (diperankan Richard Madden).

Chloé Zhao lalu menegaskan bahwa cerita soal Phastos yang gay di Eternals sudah ada dalam cerita sebelum dirinya digaet buat menyutradarai film Marvel Cinematic Universe itu. Semua adegan intim dalam Eternals sebenarnya ingin menggambarkan para makhluk abadi di bumi yang bukan manusia namun memiliki naluri kemanusiaan. Secara cerita, adegan-adegan intim yang terjadi antara karakter jadi masuk akal buat ditampilkan.

"Kisah Phastos dalam Eternals menampilkan seseorang yang hanya melihat kemanusiaan sebagai sebuah konsep besar dan percaya bahwa teknologi bisa membantu mereka menyelesaikan berbagai permasalahan. Tapi lalu dia kehilangan kepercayaan itu karena hal-hal buruk yang dilakukan manusia. Dia lalu memilih untuk berhenti melihat manusia secara utuh dan jatuh cinta dengan manusia lain, punya satu anak, dan akhirnya memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan," kata Chloé Zhao.

Dalam perjalanan cerita, Eternals menyiratkan keinginan para makhluk abadi ini untuk bisa merasakan hidup seperti manusia pada umumnya. Lantaran mereka abadi, usia mereka tidak bertambah. Para Eternals sudah hidup ribuan tahun di bumi dan di masa kini, mereka menghadapi sebuah krisis dan berada dalam situasi antara hidup dan mati.

Di layar bioskop Indonesia, visi Chloé Zhao soal penggambaran sisi humanis dari para Eternals tersebut harus disensor. Eternals mendapat rating R13 oleh LSF RI sehingga adegan-adegan intim termasuk adegan seks dan ciuman (dalam Eternals ada laki-laki dan perempuan serta laki-laki dan laki-laki) dirasa tidak layak ditampilkan buat penonton berusia minimal 13 tahun. Tidak hanya itu, adegan salah satu karakter Eternals mengacungkan jari tengah juga dibuat kabur di layar.

Adegan-adegan yang disensor merupakan bagian dari konsep cerita dan sinematografi yang telah dipersiapkan dan dikemas dengan apik sebelum akhirnya tayang. Audio dan visual yang ditampilkan sudah dijahit dengan sempurna. Tapi sayangnya karena beberapa adegan "berbahaya" harus dipangkas habis, ada kesan patah yang sangat terasa (baik secara gambar maupun suara) saat menyaksikan Eternals.

"Buat kami, untuk bisa menampilkan dua orang yang saling mencintai, tidak hanya secara emosional dan intelektual tapi juga secara fisik, dan harus menampilkan adegan seks yang akan dilihat banyak orang, merupakan sebuah gambaran dari rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan. Kurasa itu adalah hal yang sangat indah," kata Chloé Zhao.

Sayang sekali sensor membuatnya tak seindah visi sang sutradara.

(aay/pus)