Wrath of Man: Dendam Kesumat Seorang Bapak

Candra Aditya - detikHot
Sabtu, 08 Mei 2021 18:32 WIB
Wrath of Man
Wrath of Man: Dendam Kesumat Seorang Bapak (Foto: dok.ist)
Jakarta -

Kalau Anda kangen dengan film Guy Ritchie yang super macho, Wrath of Man dijamin akan menuntaskan kerinduan Anda. Setelah membuat Aladdin, agaknya Ritchie kangen untuk membuat film yang sangat penuh gebuk-gebukan karena tak lama setelah merilis kisah cinta Aladdin dan Jasmine tersebut ia langsung membuat tiga film gebuk-gebukan: The Gentlemen yang dirilis awal tahun lalu, film ini dan Five Eyes yang masih proses post-production. Dan jangan khawatir, Wrath of Man penuh dengan semua tanda tangan Guy Ritchie yang ngangenin.

Diadaptasi dari film Perancis berjudul Cash Truck, Wrath of Man menceritakan tentang seorang laki-laki bernama H (Jason Statham, empat kali berkolaborasi dengan Ritchie setelah Lock, Stock and Two Smoking Barrells di tahun 1998, Snatch di tahun 2000 dan Revolver di tahun 2005) yang sangat misterius dan dingin. H baru saja melamar kerja di Fortico, sebuah perusahaan security yang tugasnya adalah mengamankan uang. Pekerjaan ini tentu saja mengandung resiko mengingat banyak orang ingin merampok mereka.

Bullet (Holt McCallany, yang muncul lewat dua musim keren Mindhunter) ditugaskan untuk mengenalkan H kepada sekelilingnya. Sayangnya H tidak peduli dengan apapun kecuali bekerja dengan baik. Terlalu baik bahkan. Dalam suatu kasus ketika Bullet ditangkap oleh perampok kelas teri, H bisa membunuh semua perampok tersebut dengan santai dan tidak ngefek sama sekali ke psikologinya. Bosnya, Terry (Eddie Marsan, lagi-lagi langganan Ritchie), bahkan sampai heran kenapa H bisa sesantai ini. Tapi tentu saja ada rahasia di balik dinginnya H. Ada alasan kenapa H bekerja di Fortico. Ada alasan kenapa H menatap semua karyawan Fortico dengan mata elangnya.

Di tangan filmmaker yang lain, Wrath of Man mungkin akan menjadi film balas dendam standar. Jenis-jenis plagiat Taken atau semua film action kelas B yang dibintangi oleh Nicolas Cage. Tapi di tangan Ritchie, Wrath of Man menjadi lebih dari sekedar film balas dendam. Ritchie membungkusnya dengan gayanya yang khas sehingga film ini menjadi jauh lebih enak untuk dinikmati dan pada akhirnya memberikan pengalaman menonton yang lebih memorable.

Bagian paling menarik dari Wrath of Man adalah bagaimana Ritchie bersama dua penulis skrip lainnya, Ivan Atkinson dan Marn Davies, menceritakan kisah ini dengan cara tidak runut. Non-linear storytelling dalam film action biasanya menjadi gimmick untuk menjadi edgy tapi dalam Wrath of Man rasa itu tidak ada. Gaya bercerita yang tidak linear justru membantu suasana untuk menjadi lebih tegang dan menambah misteri dari karakter utama film ini. Semakin film berjalan, semakin menarik film ini.

Ritchie membuka Wrath of Man dengan begitu percaya diri. Kameranya terperangkap dalam sebuah van, seperti halnya karakter utamanya yang terjebak. Penonton sudah merasakan ketegangan dari awal berkat kamera yang klaustrophpbik dan musik dari Christopher Benstead yang meraung-raung. Misteri ini kemudian akhirnya semakin menghantui dan begitu semua kartu ditaruh di meja, Wrath of Man berubah menjadi sebuah film aksi yang sangat menarik. Setiap orang mempunyai motivasi yang jelas, setiap adegan menjadi terasa lebih berbahaya.

Keputusan Ritchie untuk mengganti-ganti point of view akhirnya memberikan rasa yang berbeda di setiap segmen yang disajikan. Wrath of Man adalah film aksi balas dendam, thriller keras dan juga sebuah heist movie. Hasil akhirnya adalah gado-gado yang agak kurang konsisten karena Ritchie memaksa film ini mempunyai rasa itu. Kalau saja Ritchie fokus terhadap satu hal, mungkin Wrath of Man akan menjadi salah satu film terbaiknya.

Tapi meskipun begitu, Wrath of Man adalah sebuah pengalaman menonton yang mengasyikkan. Hampir semua aktor bermain dengan baik (kecuali mungkin Scott Eastwood yang berperan sebagai antagonis dan gelagatnya masih seperti aktor-aktor FTV). Jason Statham mempunyai kharisma sebesar itu dan dia dengan mudah menjadi sosok yang tidak hanya misterius tapi juga menakutkan. Yang paling bersinar mungkin adalah Holt McCallany yang berhasil mengimbuhkan kehangatan yang cukupan untuk membuat film ini mempunyai jiwa.

Wrath of Man adalah film yang sangat macho dari awal sampai akhir. Dialog-dialognya penuh dengan sumpah serapah dan jargon-jargon yang tidak umum. Nama karakternya konyol (Bullet, Boy Sweat Dave). Dan musiknya membahana dari awal sampai akhir. Kalau Anda menggemari film-film jenis ini, Wrath of Man jelas tidak boleh dilewatkan.

Wrath of Man dapat disaksikan di jaringan XXI

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(dar/dar)