Hot Review

Zack Snyder's Justice League: Penantian yang Tak Sia-Sia

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 19 Mar 2021 12:30 WIB
2.

Visi Zack Snyder di Justice League

Tapi yang jelas para fans akhirnya bisa berteriak penuh kesenangan. Secara cerita (kali ini kredit penulis skripnya adalah Chris Terrio, Zack Snyder dan Will Beal) Justice League masih sama dengan versi sebelumnya. Steppenwolf berusaha keras mendapatkan Mother Boxes yang tersimpan dengan rapi di Bumi. Jikalau tiga Mother Boxes berhasil dikumpulkan maka Bumi akan kiamat.

Untuk mencegah terjadinya itu, Batman harus membuat koalisi dengan superhero lainnya sebelum semuanya terlambat. Persamaan Justice League versi Zack Snyder dan versi sebelumnya hanya disitu saja karena hampir semuanya berubah. Perubahan terbesar yang pertama adalah presentasi visualnya.

Versi sebelumnya dipersembahkan dalam widescreen seperti tradisi blockbuster Hollywood sebelumnya. Dalam versi Zack Snyder, layarnya mengecil dengan aspek rasio 4:3. Warna filmnya juga terasa jauh lebih pudar. Sesuai dengan mood filmnya yang sendu. Salah satu hal yang membuat Justice League terasa aneh ketika menonton versi 2017 adalah tone-nya yang berantakan (Whedon masih sempat-sempatnya memaksa Aquaman untuk ngebanyol).

Di film ini tone-nya konsisten. Ini film tentang orang-orang yang berduka dan terasa sekali mood somber tersebut dari awal sampai akhir. Snyder memulai mood sedih tersebut dengan opening kematian Clark Kent/Superman yang dipertunjukkan dengan bombastis (subtlely memang bukan kelebihan Snyder). Sampai akhir film, mood yang agak depresif ini terjaga. Bahkan setelah plot utama usai dan villain berhasil dikalahkan, saya tetap merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Seperti ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Dan hal tersebut akhirnya diperjelas dalam sebuah epilog yang merupakan hasil reshoot Zack Snyder, lengkap dengan kehadiran Joker (Jared Leto) sebagai bintang tamu. Perbedaan yang kedua terbesar tentu saja durasi. Dengan ekstra 2 jam, Justice League versi Snyder mempunyai kemerdekaan untuk mengolah apapun yang ia mau.

Dan karena keluwesan durasi inilah Justice League versi Snyder akhirnya menjadi tontonan yang jauh lebih enak dilihat. Semua pertanyaan yang saya tanyakan ketika saya menonton versi 2017 terjawab dengan jelas di film ini. Motivasi Steppenwolf sebagai main villain menjadi jelas. Proses bagaimana ia menjalankan rencananya untuk mengumpulkan tiga Mother Boxes menjadi jelas.

Mistik tentang sosoknya juga menjadi clear. Kenapa kehadirannya benar-benar menjadi ancaman untuk para manusia yang ada di Bumi. Dengan ekstra durasi yang tidak main-main penonton juga akhirnya mendapatkan pengenalan karakter yang jauh meaningful daripada sekedar Aquaman muncul dan berjalan slow-motion diantara deburan ombak. Cyborg yang di versi 2017 terasa seperti cameo disini mendapatkan screen time yang sangat lumayan sehingga sosoknya menjadi penting.

Justice LeagueDeSaad dan Darkseid di Justice League / Foto: (dok.HBO)

Sebelumnya saya merasa bahwa dia adalah karakter yang tidak begitu krusial tapi dalam versi Snyder, Cyborg menjadi karakter yang kuat. Ia punya motivasi yang jelas, latar belakang yang clear dan alasan yang make sense kenapa akhirnya dia harus join Justice League. Kenapa tanpa kehadirannya mungkin para superhero ini akan gagal melawan Steppenwolf dan para kroconya.

Tidak hanya Cyborg, baik Flash dan Aquaman juga mendapatkan jatah screen time yang lumayan meskipun perubahan narasi mereka tidak sedrastis Cyborg. Dalam versi ini Zack Snyder sekali lagi menunjukkan tanda tangannya sebagai sutradara yang dramatis dalam menggambarkan bagaimana Flash menyelamatkan perempuan (Kiersey Clemons) yang akan berakhir tragis kalau saja ia tidak turun tangan.

Tentunya masih banyak lagi perubahan yang terjadi dalam Justice League versi Zack Snyder tapi yang paling terasa perbedaannya adalah bagaimana klimaks film ini berjalan. Saya masih ingat bagaimana versi Whedon berjalan, lengkap dengan keluarga Rusia dan bagaimana setelah penjahatnya berhasil dikalahkan rasanya ya begitu saja. Tidak dramatis. Versi Zack Snyder sama sekali berbeda.

Klimaks kali ini penuh dengan keseruan tanpa henti. Superman, Batman, Flash, Cyborg, Aquaman dan Wonder Woman mempunyai tugas dan fungsi yang jelas yang membuat mereka menjadi lebih heroik dari versi sebelumnya. Versi ini jauh, jauh lebih memuaskan. Versi ini membuat shot mereka berdiri dramatis setelah memenangkan pertarungan menjadi legendaris.

Zack Snyder's Justice League kemudian ditutup dengan beberapa teaser untuk lanjutan serial ini di masa depan (kalau misalnya Warner Bros. tertarik untuk meng-hire Zack Snyder lagi) yang membuat saya bertanya-tanya jangan-jangan film ini memang lebih cocok untuk dipersembahkan dalam bentuk ala serial TV begini daripada versi sunat yang kita saksikan di bioskop.

Teaser yang disajikan pun tidak main-main menariknya. Berbagai karakter muncul dan saling tumpang tindih. Beberapa adalah karakter yang sudah kenal dan ada juga karakter yang benar-benar baru. Semua detail itu tentu saja tidak akan saya spoilerkan disini supaya Anda bisa menyaksikannya sendiri.

Justice LeagueJustice League Foto: Courtesy of Warner Bros. Picture

Zack Snyder's Justice League mungkin tidak menjadikan Justice League sebagai film yang sempurna. Film ini tetap mempunyai kekurangan-kekurangannya (kalau Anda menulis blockbuster yang butuh waktu 4 jam agar penonton bisa menikmatinya, itu artinya ada yang salah dengan cerita Anda).

Tapi film ini tetap menjalankan tugasnya dengan baik: sebuah entertainment yang menyenangkan. Dan Snyder berhasil melakukan hal yang tidak mungkin: dia berhasil membuat saya membayangkan apa yang terjadi jika Justice League ada lanjutannya, sesuai dengan visi dia.

Zack Snyder's Justice League bisa disaksikan di HBO Go

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(doc/doc)