Malcolm & Marie: Ketika Cinta Sedang Marah

Chandra Aditya - detikHot
Rabu, 10 Feb 2021 07:54 WIB
Malcolm & Marie
Film Malcolm & Marie. Dok. Netflix
Jakarta -

Setelah setengah jam menonton Malcolm & Marie saya menghela nafas karena capek. Lelah juga menyaksikan sepasang kekasih yang terus-terusan berantem tanpa jeda. Mungkin itu-lah yang diinginkan oleh Sam Levinson, sutradara dan penulis film ini, kepada penontonnya.

Mungkin Levinson ingin penontonnya merasakan kelelahan yang dirasakan oleh dua karakternya. Kalau menontonnya saja capek bagaimana mengalaminya?

Malcolm & Marie adalah salah satu pelopor film Hollywood yang ceritanya didesain berdasarkan situasi pandemi sekarang. Seperti halnya aksi Anne Hathaway dan Chiwetel Ejiofor di Locked Down, Malcolm & Marie dibuat spesial dengan semua protokol COVID-19. Itulah sebabnya karakternya hanya dua orang dan seperti halnya Locked Down, settingnya hanya di rumah.

Perbedaannya antara kedua film ini adalah film ini tidak melibatkan adegan pencurian perhiasan, dipersembahkan dalam hitam putih yang sangat indah dan dipersembahkan secara real time. Tidak ada jeda nafas untuk penonton. Kalau mereka semua berantem dan menderita, penonton harus merasakannya.

Malcolm & MarieMalcolm & Marie. Foto: Dok. Netflix

Malcolm (John David Washington) adalah seorang pembuat film. Dia sedang berada di atas angin karena filmnya yang baru saja premiere dielu-elukan oleh penonton. Setidaknya dari reaksi penonton tadi, dia tahu bahwa dia baru saja menghasilkan sebuah produk yang layak untuk dibanggakan.

Malcolm menghabiskan menit-menit pertamanya dengan menyesap alkohol sambil berjalan memutari meja makan dan terus-terusan membahas tentang berbagai macam kritikus yang mendatanginya dan mengelu-ngelukan filmnya. Marie (Zendaya) adalah pacar Malcolm yang merupakan seorang mantan addict. Marie adalah seorang aspiring actor yang menjadi sumber inspirasi film Malcolm.

Sepanjang Malcolm mereka ulang semua kata-kata kritikus yang mendatanginya, Marie hanya berdiri diam dengan gaunnya yang indah, make-up-nya yang flawless dan rokok di sela-sela jarinya. Dia hanya menatap pacarnya dengan sabar dan lelah. Dia sebal tapi dia tidak mengucapkan apa-apa.

Ketika Marie menyiapkan makanan untuk Malcolm, Malcolm merasa si Marie sedang bete. Marie menjawab lebih baik mereka diskusi besok saja. Malcolm tidak mau dengar. Malcolm ingin tahu sekarang juga kenapa Marie bete. Marie akhirnya mengatakan bahwa dia bete karena Malcolm tidak mengucapkan terima kasih saat di acara premiere tadi.

[Gambas:Youtube]



Malcolm mendesah kesal dan akhirnya terpancing. Maka dimulailah semua perdebatan, pertikaian dan kemarahan tak ada ujung sampai pagi menjemput.

Tidak bisa dipungkiri Malcolm & Marie adalah sebuah film yang sangat enak untuk dilihat dan didengar. Visualnya enak sekali untuk ditatap. Bagi Anda yang menganggap film hitam putih terkesan basi, Anda harus melirik film ini karena hitam putih yang ada di Malcolm & Marie justru membuat film ini terlihat klasik. Memberikan kesan mahal, tidak tersentuh.

Sesuai dengan vibe Malcolm. Dan dengan dua orang yang good looking seperti John David Washington dan Zendaya sebagai pemerannya maka tidak ada satu pun orang jelek nongol di film ini. Lokasi yang dipilih pun juga eksotis, melengkapi keanggunan
visual Malcolm & Marie.

Malcolm & MarieMalcolm & Marie. Foto: Dok. Netflix

Sementara dari sisi audio, Malcolm & Marie diramaikan dengan berbagai musik yang asyik didengar. Kalau Anda menonton serial Euphoria yang juga dibuat oleh Levinson, Anda pasti tahu bahwa musik mempunyai peran yang penting dalam melukis emosi.

Levinson gemar bercerita melalui musik yang dia pakai. Dan dalam Malcolm & Marie, bersiap-siaplah Anda terbawa dengan berbagai musik jazz yang melenakan. Ini adalah sebuah kontras karena sepanjang film kita menyaksikan dua orang yang tidak
pernah berhenti berdebat.

Beruntung sekali Levinson berkolaborasi dengan Zendaya dan John David Washington. Keduanya, terutama Zendaya, berhasil membawakan karakter mereka dengan baik. Bahkan kalaupun karakter keduanya makin lama makin terasa tidak asyik untuk ditonton (apalagi dipacari), mereka berdua tetap bisa membuat saya betah.

Susah untuk tidak menuduh Malcolm & Marie sebagai proyek Levinson untuk berceramah tentang apa yang dia buat. Dialog-dialog yang ia buat, khususnya semua ceramah yang Malcolm ucapkan tentang kritikus yang mereview filmnya, terasa seperti sebuah curhat colongan.

Dan adegan ini menjadi highlight khusus karena Malcolm benar-benar bermonolog sendiri dengan semangat menggebu-gebu sementara Marie hanya duduk diam mendengarkan.

Tapi capeknya Malcolm & Marie tidak terbatas di adegan tersebut. Ini adalah sebuah film dimana penonton langsung berada di sebuah konflik tanpa tahu sejarah mereka. Kita diberi tahu tentang sejarah relationship mereka dari dialog-dialog mereka. Dan melihat bagaimana Malcolm and Marie bertengkar dan mendengar sejarah relationship mereka, agak sukar membayangkan kenapa mereka jatuh cinta.

Yang saya rasakan adalah sebuah kekecewaan yang mendalam dan sakit hati yang tak pernah sembuh. Kenapa bersatu kalau setiap hari sakit hati? Ini bukan pertama kalinya pembuat film membuat film tentang kisah cinta sepasang kekasih yang
terlibat dalam sebuah proyek kreatif.

Tapi mungkin ini yang paling bersejarah karena di pertengahan film saya sampai harus nyeletuk, "Aduh udah dong berantemnya." Jadi kesimpulannya, Malcolm & Marie bukan Marriage Story. Dan mereka bukan Jesse dan Celine dari Before Trilogy yang bisa membuat saya tidak memihak keduanya. Ketika akhirnya fajar menyingsing dan film usai, saya mengucapkan syukur karena akhirnya semuanya usai.

Malcolm & Marie dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Kronologi Meninggalnya Produser Netflix Usai Diracuni Rekan Kerja"
[Gambas:Video 20detik]
(ass/ass)