Hot Review

Birds of Prey: Saatnya Girl Power!

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 06 Feb 2020 12:59 WIB
Penampilan Margot Robbie di film Bird Of Prey.
Harley Quinn di Birds of Prey Foto: Dok. DC
Jakarta -

Warisan terdahsyat dari 'Suicide Squad' yang luar biasa mengecewakan adalah kita mempunyai Margot Robbie sebagai Harley Quinn. Sementara Joker versi Jared Leto mendapatkan cemoohan dari berbagai banyak pihak (terutama tentang aksi belakang layar bagaimana cara dia berusaha untuk 'merasakan' nuansa Joker dengan mengirimi para lawan mainnya dengan ular dan bangkai binatang), Margot Robbie ditasbihkan menjadi satu-satunya hal yang membuat Suicide Squad menjadi layak tonton. Dan itulah sebabnya kita mendapatkan film solo pertama dari Harley Quinn.

Yang keren adalah Margot Robbie sebagai bintang dan produser, tidak mau menggunakan kekerenannya hanya sekedar untuk narsis. Dia tahu potensi. Dia sadar akan kemampuan Harley Quinn. Dari dunia DC baru hanya ada satu film solo superhero perempuan dan dia adalah Wonder Woman. Bagaimana kalau film solo dibuat dengan lebih gila? Dibandingkan dengan Wonder Woman yang klasik, Harley Quinn lebih liar, tidak terkontrol, sangat edgy dan jauh lebih asyik untuk dieksplor.


Sama seperti dengan film solo Joker (versi Joaquin Phoenix, bukan versi Jared Leto), menggambarkan orang-orang sakit terasa jauh lebih menantang. Margot Robbie pun akhirnya melakukan hal yang spektakuler: merekrut para perempuan untuk berdiri di depan dan di belakang layar. Christina Hodson bertugas untuk menulis skrip dan Cathy Yan kedapatan menjadi kapten dari film ini. Dan pesta pun dimulai.

Dari film dimulai, penonton akan tahu bahwa kita akan mendapatkan nuansa Gotham yang berbeda. Ini bukan versi Nolan yang kelam, versi Suicide Squad atau bahkan Zack Snyder yang serius atau bahkan versi Todd Phillips yang anarki. Gotham dalam Birds of Prey penuh warna. Nuansanya hampir seperti video klip Britney Spears. Dengan Harley Quinn sebagai narator utamanya, tentu saja jangan berharap sebuah penceritaan yang runut.

Dalam patah hatinya, Harley Quinn bercerita bahwa Joker (sekali lagi, versi Jared Leto bukan versi Joaquin Phoenix) akhirnya mendepaknya. Hal ini membuat Harley Quinn drama dan mabuk-mabukan di klub. Tapi dunia belum tahu bahwa Harley Quinn putus dengan Joker. Karena semua orang masih hormat dan berlaku baik dengan Harley Quinn.

Harley Quinn di Suicide SquadHarley Quinn di Suicide Squad Foto: DC


Malam itu, Harley Quinn jengah dengan semua perkataan orang. Bahwa dia akan kembali ke pelukan si jahat Joker. Bahwa identitasnya akan selalu diasosiasikan dengan Joker. Seolah-olah tanpa Joker, dia bukan siapa-siapa. Harley Quinn pun memutuskan untuk menginjak pedal gas dan meledakkan pabrik kimia untuk memberikan pesan kepada seluruh dunia bahwa hubungannya dengan Joker telah berakhir.

Sayangnya hal tersebut berdampak buruk karena ternyata sekarang semua orang yang bete dengan Harley Quinn bebas balas dendam. Termasuk Roman Sionis (Ewan McGregor, ya g kelihatan bersenang-senang sekali) yang menggunakan asistennya (atau pacarnya?), Victor Zsasz (Chris Messina) untuk menyiksa semua orang yang membuatnya dia kesal. Roman bersiap untuk menghabisi Harley Quinn tapi Harley Quinn menawarkan tawaran menarik: bagaimana kalau dia mendapatkan berlian Roman yang hilang? Roman setuju dan Harley pun berangkat untuk bertualang.

Sinopsis di atas kedengerannya sederhana tapi yang terjadi sebenarnya jauh lebih chaos. Karena masih ada Huntress (Mary Elizabeth Winstead) yang pergi berkeliaran berbalas dendam, Black Canary (Jurnee Smollet-Bell) yang terpaksa harus menjadi sopir Roman, Renee Montoya (Rosie Perez) seorang polisi yang sedang menyelidiki kasus kematian para gangster Gotham dan Cassandra Cain (Ella Jay Basco) bocah malang si pencopet yang sialnya mencuri berlian si Roman.


Sebagai sebuah film, cara bertutur Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) sangat aneh. Mungkin karena Christina Hodson sedang meniru mindset Harley Quinn yang sangat acak. Tapi bisa juga karena dia tahu bahwa plot yang ditawarkan film ini sangat tipis sehingga dia harus menceritakan semuanya dalam bentuk puzzle. Influence Quentin Tarantino jelas terasa dalam film ini. Butuh waktu bagi penonton mungkin untuk bisa membiasakan cara bertutur Birds of Prey yang sangat tidak serius tapi setelah beberapa saat, Anda mungkin akan menikmatinya. Saya sendiri merasa sangat senang dengan maju-mundur yang dilakukan oleh Hodson.

Banyak yang mengira bahwa Birds of Prey akan seperti Guardians of the Galaxy atau bahkan Deadpool. Tapi ternyata hasil akhirnya sama sekali berbeda. Birds of Prey ternyata benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dia tidak mencoba berkompromi dengan menjadi lebih accesible seperti Guardians of the Galaxy yang bungkusnya saja kelihatan edgy tapi dalamnya konvensional. Dan itu yang dilakukan Cathy Yan sebagai sutradara dari film ini. Penonton akan susah menangkap tone film ini karena semua rasa hadir dalam film ini.

Dengan set design penuh warna, gerakan kamera yang liar, costume design yang sungguh liar dan cast yang sangat solid, Cathy Yan menemukan cara paling asyik untuk menunjukkan bagaimana para superhero perempuan berkumpul adalah dengan bersenang-senang. Dengan bujet minimalis, Birds of Prey lebih fokus ke adegan kombat tradisional yang didukung dengan koreografi yang luar biasa indah. Hasilnya justru seperti menonton tarian balet yang chaos. Sangat akrobatik dan penuh dengan energi.

Kalo Anda pusing dengan plotnya yang sengaja dibikin ribet padahal sama sekali tidak, Anda akan tetap terhibur dengan adegan-adegan seperti aksi Black Canary berantem, Huntress membunuhi orang, Harley Quinn kejar-kejaran menggunakan sepatu roda (!!!) atau adegan berantem di sebuah taman bermain yang sudah usang. Sekuens indah seperti Harley Quinn mencoba menculik Cassandra Cain di kantor polisi misalnya menjadi sebuah hiburan tersendiri dengan ledakan warna dan glitter. Style over substances memang, tapi siapa yang peduli kalau hasilnya seseru ini?

Semua pemain bermain dengan sangat apik. Yang paling luar biasa ya tentu saja Margot Robbie sebagai Harley Quinn karena dia bisa menampilkan berbagai emosi dalam satu nafas. Wajahnya mungkin penuh senyuman tapi saya bisa merasakan luka di sana. Dia bisa berkelahi dan membuat saya tertawa. Margot Robbie bisa memukuli lusinan laki-laki dan terlihat mudah dan terlihat sangat keren saat melakukannya.

Birds of Prey mungkin tidak akan menyenangkan banyak orang karena kita sudah kebiasaan menonton film superhero yang main aman. Tapi film ini harus selalu ada. Film yang mempunyai nyali dan berbeda seperti Birds of Prey harus ada untuk mengingatkan lagi kepada penonton betapa serunya jika para perempuan keren beraksi.


Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'Birds of Prey', Pesona Margot Robbie yang Tak Terbantahkan"
[Gambas:Video 20detik]
(nu2/nu2)