detikHot

premiere

'Ad Astra': Bersembunyi di Tengah-tengah Galaksi

Minggu, 22 Sep 2019 12:20 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: imdb. Foto: imdb.
Jakarta - Anda tidak akan mendapatkan sebuah spectacle luar biasa seperti Gravity dalam Ad Astra. Kalau Anda menginginkan sebuah petualangan mengasyikkan di luar angkasa seperti yang Anda lihat dalam The Martian atau Gravity, Ad Astra mungkin akan mengecewakan Anda. Tapi jika Anda tahu bagaimana kualitas James Gray sebagai sutradara, maka Anda tidak ingin melewatkan film ini.

Ad Astra
mungkin "menipu" banyak penonton dengan covernya yang mengkilap tapi di dalamnya ada sebuah kisah tentang kerinduan, rasa sepi dan rasa ingin tahu. Singkatnya, apapun yang Anda inginkan dalam sebuah film science fiction yang apik.

Dalam sebuah masa depan yang akan datang, di mana manusia bisa bertamasya di Bulan dan menikmati Subway di sana, kita bertemu dengan Roy McBride (Brad Pitt), seorang astronot yang begitu tenang dalam menghadapi semua masalah dalam hidup ini. Bahkan terlalu tenang. Meskipun ada bencana terjadi yang membuatnya terlontar dari luar angkasa sampai jatuh ke Bumi, Roy tetap cool. Dan dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan bosnya dengan lancar setelahnya.

Tentu saja absennya rasa panik dalam diri Roy mengindikasikan ada yang salah dengan dia. Dalam narasinya kita mendengar isi kepala Roy. Betapa dia ingin terlihat normal, being present terhadap kekasihnya (Liv Tyler yang kembali menjadi pacar sang astronot setelah Armageddon) dan tidak terjebak dengan masa lalu.

Tapi itulah yang terjadi. Ayahnya, Clifford McBride (Tommy Lee Jones), menjadi kapten dalam sebuah misi bernama Project Lima. Objektif dari misi tersebut adalah untuk mencari bukti keberadaan makhluk lain di luar angkasa. Pembuktian bahwa manusia tidak sendiri. Dan ayahnya menghilang tiga puluh tahun lalu. Misi tersebut gagal dan Roy masih terbayang-bayang atas sosok ayahnya yang tidak pernah ada dalam hidupnya.



'Ad Astra': Bersembunyi Di Tengah-Tengah GalaksiFoto: imdb.

Tonton review bareng Candra Aditya di sini:

[Gambas:Video 20detik]



Tapi kemudian ada info baru. Ada fenomena the surge di mana listrik tiba-tiba terpengaruh oleh sebuah gelombang besar yang asalnya dari Neptunus, yang kebetulan ada lokasi terakhir Clifford sebelum komunikasi terputus. Dan bos Roy meminta Roy untuk pergi ke Mars dan berkomunikasi dengan ayahnya karena insiden the surge ini membahayakan nasib semua orang yang ada di Bumi. Tapi kemudian kejutan baru muncul. Bahwa sebenarnya ada kemungkinan bahwa Clifford masih hidup. Roy pun akhirnya memasang seragam astronotnya dan siap menjelajah bintang-bintang.

Jika Anda mencintai Brad Pitt dalam Once Upon A Time In Hollywood, Anda akan mencintainya juga dalam Ad Astra. Di umurnya yang 55 tahun, Brad Pitt sekali lagi membuktikan bahwa dia adalah salah satu aktor kelas A Hollywood yang memang terbukti mempunyai bakat akting yang luar biasa selain anugerah fisik yang sempurna.

Ad Astra adalah jenis film di mana aktor utamanya harus bisa berakting dengan baik karena film ini 100% mengenai karakter tersebut. Hampir setiap scene ada Roy McBride. Dan karakter ini jarang berbicara. Kita bisa menilai karakternya berdasarkan apa yang dia lakukan. Dan Brad Pitt sanggup menterjemahkan ini dengan sangat baik.

Perhatikan bagaimana Brad Pitt berkomunikasi tanpa dialog, menatap lautan bintang dengan mata berkaca-kaca. Atau bagaimana Brad Pitt dan Tommy Lee Jones bertemu dan dengan minimnya dialog penonton bisa merasakan berbagai macam emosi yang keduanya rasakan saat itu. Pahit, getir, kecewa, bahagia, sendu, sedih dan senang bercampur jadi satu. Ad Astra adalah milik Brad Pitt seorang dan untungnya dia punya James Gray sebagai sutradara.

Seperti halnya kebanyakan sutradara yang andal, Gray tahu bagaimana cara mempersembahkan film ini. Bersama dengan Ethan Gross, Gray mengajak kita ke dalam sebuah perjalanan emosional yang melelahkan namun sangat memuaskan. Plotnya, tentang hubungan ayah dan anak, mungkin terasa familiar. Banyak film yang sudah membahas tema ini. Tapi Gray dan Gross tahu bagaimana cara menjalankan cerita ini dengan mantap.

Kalau Anda menonton Gravity, menyaksikan Sandra Bullock terbang mengawang sendirian tanpa arah di luar angkasa terasa seperti mimpi buruk. Dalam Ad Astra, Gray dan Gross bisa menjadikan adegan tersebut tentang gambaran orang-orang yang tersiksa. Orang-orang yang ingin bersembunyi di tengah gelapnya angkasa karena obsesi/trauma yang mereka rasakan.

Direkam menggunakan film, presentasi Ad Astra sungguh mencengangkan. Tidak akan mengherankan jika Hoyte van Hoytema (yang merupakan sinematografer Interstellar) akan mendapatkan nominasi Oscar dalam kategori Best Cinematography tahun depan. Visualnya tidak hanya indah tapi juga memabukkan.

'Ad Astra': Bersembunyi Di Tengah-Tengah GalaksiFoto: imdb.


Membuat Anda ingin juga tersesat dalam gelapnya galaksi. Warna-warna bertabrakan memberikan unsur magis. Dan untuk membuat visual tersebut seribu kali lebih magis, James Gray mengajak komposer Max Richter untuk mengiringi adegan. Rasanya seperti menonton sebuah pertunjukan seni kelas atas.

Pesawat luar angkasa bergerak di tengah-tengah galaksi, menyeberang dari satu planet ke planet lain, terasa seperti sebuah resital balet yang sangat aduhai. Di akhir film, ketika Roy akhirnya tenang duduk dan menyesap kopi, saya merasakan hal yang sama. Selama dua jam, James Gray mengajak saya untuk merasakan sebuah turbulensi emosi yang tidak terkendali dari awal sampai akhir film.

Tapi setelah James Gray menutupnya dengan sebuah konklusi yang optimis, seperti karakter utamanya, saya merasakan ketenangan. Film sci:fi yang bagus akan membuat Anda memikirkan tentang diri Anda sendiri, mengajak Anda untuk bercermin. Dan Ad Astra memberikan itu semua.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.




Simak Video "''Ad Astra'', Perjalanan Intim Bersama Brad Pitt"
[Gambas:Video 20detik]
(kmb/kmb)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com