DetikHot

premiere

Lakon 'Mantan Manten' Hidupkan Pemaes

Senin, 08 Apr 2019 20:21 WIB  ·   Silvia Galikano - detikHOT
Lakon Mantan Manten Hidupkan Pemaes Foto: Mantan Manten (dok. Visinema)
Jakarta - Judul: Mantan Manten
Sutradara: Farishad Latjuba
Skenario: Farishad Latjuba, Jenny Jusuf
Produser: Anggia Kharisma dan Kori Adyaning
Rumah produksi: Visinema Pictures
Pemain: Atiqah Hasiholan, Arifin Putra, Tyo Pakusadewo, dan Tutie Kirana

Sukses sebagai manajer investasi dengan klien-klien besar, kehidupan Yasnina (Atiqah Hasiholan) sempurna. Tinggal di apartemen mewah. Punya kekasih tampan dan kaya, Surya (Arifin Putra). Untuk menggenapi kebahagiaannya, Yasnina barusan dilamar Surya, dan dia iyakan.

Namun kemudian, tiba-tiba saja Yasnina menjadi sorotan media setelah sebuah keputusan investasi yang diduga bodong. Reputasi dan masa depan Yasnina di ujung tanduk. CEO perusahaan, Iskandar (Tio Pakusadewo) yang adalah juga ayah Surya, menenangkan Yasnina dan meyakinkan bahwa semua aman terkendali.

Iskandar memberikan jalan keluar agar Yasnina menemui seseorang di Singapura dan meminta tanda tangannya. Belum juga mobil mencapai bandara Soekarno-Hatta, Yasnina diperintahkan ke kantor sekarang juga,
sudah ditunggu dewan direksi.

Dewan direksi yang ternyata dikumpulkan Iskandar itu telah membuat keputusan bahwa kasus investasi bodong adalah kesalahan Yasnina seorang. Perusahaan tidak tahu menahu, termasuk Iskandar. Bahkan rencana
kepergian Yasnina ke Singapura dituduh sebagai upaya melarikan diri.


Kehidupan Yasnina berbalik 180 derajat. Seluruh harta dan tempat tinggalnya disita. Dia mengungsi ke panti asuhan yang jadi tempat tinggalnya saat masih kecil hingga remaja. Kepercayaannya pada Surya ikut luntur.

Nyaris putus asa mencari jalan membalas kelakuan Iskandar, Yasnina ingat ucapan asistennya, Ardy (Marthino Lio), beberapa waktu lalu. Ardy mengingatkan untuk ganti nama sertifikat rumah berikut lahan yang sudah Yasnina beli di Tawangmangu.

Ah, masih punya properti di Tawangmangu. Untunglah belum ganti nama sehingga tidak ikut disita bersama hartanya yang lain. Properti itu dia beli melalui bank sebesar Rp 2 miliar. Segera setelah ganti nama, dia berencana menjual properti itu, lalu uangnya dia pakai untuk menuntut balik Iskandar.

Ternyata tidak semudah rencana. Marjanti (Tutie Kirana), pemilik rumah yang sudah dibeli Yasnina menolak menandatangani surat balik nama. Dia berniat membeli kembali rumah tersebut. Namun demikian Marjanti hanya bersedia membayar Rp140 juta, jumlah yang dia dapatkan saat dulu meminjam uang ke bank dengan menjaminkan rumah ini.


Setelah tawar menawar, keduanya sepakat Marjanti akan angkat kaki setelah Yasnina berhasil menjual rumah ini di angka Rp 2 miliar dan memberikan 25 persennya ke Marjanti. Syarat kedua, hingga rumah terjual, Yasnina harus menjadi asisten Marjanti dan tinggal di rumah ini.

Masalahnya profesi Marjanti adalah dukun manten atau pemaes atau juru rias pengantin Jawa, bidang yang sama sekali tak diketahui Yasnina. Namun kesepakatan adalah kesepakatan dan Yasnina harus menjalani pengalaman baru ini.

Mantan Manten adalah sebuah kejutan besar dari sineas kita yang mengangkat kehidupan dukun manten ke layar lebar, hal yang tak pernah digarap sebelumnya. Bagian awal film yang bercerita tentang manajer investasi, berhasil menggiring penonton bahwa dua jam ke depan akan dibawa ke seluk beluk perencana keuangan dan dihujani istilah-istilah ekonomi. Bersiap saja mengerutkan kening.

Namun kemudian penulis skenario Farishad Latjuba dan Jenny Jusuf membuat lompatan yang tak dikira-kira, dari kehidupan manajer investasi glamor ke dunia dukun manten yang penuh lelaku. Bagaimana Yasnina beradaptasi ke dalam dunia yang baru ini, juga bagaimana Marjanti dengan sabar membimbingnya, digambarkan dengan apik. Seketika, Atiqah Hasiholan yang keturunan Arab-Batak, menjadi luwes njawani. Pun bagaimana Surya ditampilkan sebagai anak yang sangat patuh, cenderung takut, pada ayahnya.


Kompleksnya kepribadian pria ini diwakili lewat keakrabannya dengan kripik. Dia akan makan kripik cepat-cepat tiap kali sedang senewen, marah tapi tak dapat berbuat apa-apa, terhadap ayahnya. Jelas, Arifin Putra tidak sedang jualan ketampanan saja di sini. Dia membuktikan bisa berakting. Dan kesenioran Tutie Kirana, yang bermain film sejak tahun 1970-an, tampak benar di 'Mantan Manten'. Marjani menjadi sosok misterius, penuh wibawa, sekaligus mistis di tangan Tutie.

Sebaliknya, justru sutradara Farishad Latjuba terkesan kurang memanfaatkan keandalan Tutie untuk menghidupkan dan menggali adegan kunci di film ini. Jika adegan kunci itu dikerjakan maksimal, dia akan sama fenomenalnya dengan adegan Joice Erna meliukkan pinggulnya di film Suci Sang Primadona (1978) atau Meriam Bellina mengulum-ngulum rokok di Roro Mendut (1983).

Apa adegan kunci itu? Saya tak hendak memberi spoiler. Sila datangi bioskop kesayangan Anda dan buktikan sendiri.


(ken/ken)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed