'The Shape of Water': Cinta itu Benar-benar Buta

Candra Aditya - detikHot
Senin, 02 Apr 2018 15:45 WIB
Foto: The Shape of Water (imdb)
Jakarta -

Pemenang Film Terbaik gelaran Oscar tahun ini adalah sebuah film yang tidak biasa. Keanomaliannya bisa dilihat dari genre yang diusung. Genre fantasi jarang sekali mendapatkan kasih sayang apalagi penghargaan tertinggi dari Oscar. Keanehannya yang kedua adalah karena 'The Shape of Water' tidak bertele-tele dalam menceritakan kisahnya: ini adalah sebuah film tentang seorang perempuan yang jatuh cinta dengan monster ikan.

Tapi jangan pikir 'The Shape of Water' sesederhana itu. Ini adalah sebuah fantasi karya Guillermo Del Toro yang selain seperti biasanya menjanjikan visual yang ciamik, namun juga sebuah komentar keras terhadap kondisi kita sekarang (khususnya di Amerika). Ini adalah sebuah roman yang dibumbui dengan thriller yang menceritakan tentang karakter-karakter yang "idealnya" akan selalu kalah dengan figur penguasa.

Hal ini bisa dilihat langsung dengan karakter utamanya yang diwakili oleh Eliza (Sally Hawkins, terbaik), seorang petugas cleaning service yang bisu. Karakternya benar-benar dibuat tidak mengeluarkan suara. Orang-orang terdekatnya pun juga tidak ada bedanya. Tetangga sekaligus tempat curhat terdekat dia, Giles (Richard Jenkins, memberikan kehangatan tiada tara) adalah seorang homoseksual yang tertutup.

'The Shape of Water': Cinta itu Benar-benar ButaFoto: Guillermo del Toro (biru) saat di set 'The SHape of Water' (imdb)


Dan di tempat kerjanya, Eliza memiliki sahabat dan pelindungnya bernama Zelda (Octavia Spencer), seorang African-American. Seorang perempuan tuna wicara, seorang laki-laki homoseksual dan perempuan African American. Lengkap dengan setting Amerika tahun 60-an. Ketiganya adalah perwakilan dari suara-suara yang terkubur.

Semuanya segera berubah ketika tempat bekerja Eliza mendapatkan makhluk misterius yang ditangkap di sebuah sungai di Amerika Selatan. Di sinilah sosok penguasa muncul. Kolonel Richard Strickland (Michael Shannon, menggunakan semua kemampuannya untuk membuat penonton jengah dengan sosoknya) diperintahkan untuk meneliti mahluk misterius yang seperti ikan ini. Katanya makhluk ini bisa menjadi senjata Amerika untuk menyerang Soviet.

Di saat inilah Eliza menyaksikan cara-cara keji Strickland "meneliti" bahan penelitiannya. Eliza yang berhati lembut perlahan mendekati makhluk tersebut dan keduanya, entah kenapa, memiliki koneksi yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Di sinilah kisah cinta Eliza bersemi dan disinilah pula Eliza mulai berniat untuk membebaskan sang monster dari genggaman si penguasa.

'The Shape of Water': Cinta itu Benar-benar ButaFoto: dok Fox Searchlight


Del Toro bukan sutradara sembarangan. Bagi Anda yang sudah menonton film-filmnya, Anda pasti akan tahu bahwa Del Toro mempunyai kemampuan magis untuk mengantar Anda ke sebuah dunia yang aneh, misterius tapi memabukkan. Ia bisa menyenangkan orang dewasa dengan dongeng yang begitu gelap ('Pan's Labyrinth') atau menyenangkan para remaja dengan sosok-sosok pahlawan yang menyenangkan ('Hellboy', 'Pacific Rim').

Meskipun film-film Del Toro selalu penuh dengan nuansa magis, ada satu hal yang baru muncul dalam 'The Shape of Water': rasa yang nyata. Dalam film-film sebelumnya, Del Toro selalu menggunakan spektakel sebagai pengganti emosi. Berbeda dengan film ini. Ditulis bersama dengan Vanessa Taylor, Del Toro akhirnya bisa memberikan spektakel dengan perasaan. Dia bisa mempertunjukkan bagaimana rasanya mencintai sesuatu seperti layaknya manusia. Tokoh-tokoh dalam 'The Shape of Water' mungkin larger-than-life tapi perasaan yang ia tampilkan sungguh-sungguh familiar.

Kesuksesan itu semakin paripurna ketika Del Toro berhasil memasukkan unsur thriller, humor dan empati ke dalam satu frame yang sama. Kedigdayaannya untuk mengarahkan aktor-aktornya membuat 'The Shape of Water' terasa sebagai sebuah hadiah yang menyenangkan. Dengan scoring yang sangat fenomenal, ini bisa jadi kisah cinta paling gemas yang bisa Anda saksikan saat ini.

'The Shape of Water' mungkin bisa dilihat sebagai karya yang kontroversi, terutama jika Anda menontonnya menggunakan kacamata orang ketimuran. Karakter-karakternya sangatlah rusak secara moral, kalau Anda melihatnya dengan kacamata agama. Tapi sejujurnya, 'The Shape of Water' mengajarkan hal yang paling indah di dunia ini: bagaimana caranya bertoleransi yang baik. Dunia akan lebih baik jika Anda bisa hidup dalam harmoni satu sama lain.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.


(doc/doc)