'Pacific Rim Uprising': Pertarungan Sengit Tanpa Strategi

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 29 Mar 2018 16:29 WIB
Pacific Rim Uprising Foto: (imdb)
Jakarta - Lima tahun lalu ketika 'Pacific Rim' dirilis, kita menyaksikan sebuah sci:fi blockbuster yang cukup menyenangkan. Meskipun ada kekecewaan karena ternyata 'Pacific Rim' tidak seoriginal yang kita bayangkan (karena ada nama Guillermo Del Toro di belakangnya) tapi setidaknya film tersebut tidak menjadi Transformers bajakan. Sebagai seorang nerd dan penggemar budaya pop kelas wahid, Del Toro berhasil menyulap keasyikan anime Jepang ke dalam sebuah blockbuster dengan hati. 'Pacific Rim' bisa menjadi tontonan extravaganza yang berhati lembut karena Del Toro tidak melupakan perjalanan emosional karakter utamanya. Itulah yang menyebabkan kenapa film tersebut tidak berakhir menjadi saudara kembar serial Transformers. Del Toro tahu bagaimana menahan perhatian kita. Ia membuat filmnya dengan keseriusan tingkat tinggi sehingga ketika terjadi ancaman kiamat, kita merasa ikut berjuang bersama para Jaegers.

Empat ratus juta dollar kemudian, 'Pacific Rim' langsung mendapatkan lampu hijau untuk dibuatkan sekuelnya. Del Toro mundur dari kursi sutradara (dan sibuk membuat karya yang lebih mengena yang membuatnya dianugrahi Oscar) dan fokus menjadi produser. Kursi sutradara kini dipegang oleh sutradara Steven S. DeKnight dalam debut penyutradaraan layar lebarnya.

Ketakutan penggemar film pertamanya bahwa 'Uprising' akan menjadi saudara kembar serial 'Transformers' terbukti. Film kedua serial 'Pacific Rim' ini sama sekali lupa dengan pakem yang ada dalam film pertamanya. Bagian yang membuat film pertamanya begitu menyenangkan hilang sudah. Tidak ada perjalanan emosional yang membuat kisah pencegahan kiamat dari para monster ini menjadi menarik. Yang ada adalah sekumpulan adegan dengan CGI mahal dan musik hingar bingar.

Dalam Uprising, semua tokoh originalnya menghilang. Kecuali Mako Mori (Rinko Kikuchi) yang sekarang memiliki saudara tiri bernama Jake Pentecost (John Boyega), anak dari Stacker Pentecost (Idris Elba) dari film pertamanya. Dan di tangan Jake-lah Uprising berjalan. Seorang pemberontak yang tidak sengaja bertemu dengan pemberontak lain, Amara Namani (Cailee Spaeni) dan tentu saja akhirnya berkawan.

Masih ada karakter-karakter baru lain. Diantaranya adalah mantan partner Jake, Nate Lambert (Scott Eastwood) dan Jules Reyes (Adria Arjona) yang menjadi gula-gula film ini. Jake dan Nate akhirnya melatih Amara dan para murid baru lainnya. Mereka semua terpaksa menjaga kedamaian bumi ketika sebuah Jaeger misterius muncul dan merusak segalanya. Dengan ini, sekali lagi mereka mencoba membatalkan kehancuran dunia.

Ditulis oleh Emily Carmichael, Kira Snyder, Steven S. DeKnight dan T.S. Nowlin, Uprising sama sekali tidak tertarik untuk mengajak penonton menyelami perjalanan emosional karakter-karakternya. Dalam mitologi 'Pacific Rim', dibutuhkan dua orang pilot untuk bisa menjalankan sebuah Jaeger. Kedua orang dengan kepala yang berbeda ini harus sinkron agar si robot bisa berfungsi. Ini artinya, semua memori, baik yang baik maupun yang buruk akan terpapar. Inilah yang kunci utama 'Pacific Rim' milik Del Toro. Ia tertarik untuk menyelami psikologi dua orang manusia. Memori indah ataupun luka yang dalam menjadi bahan eksplorasinya. Sangat penting bagi Del Toro untuk menceritakan emosi karakter utamanya agar dua pilot Jaeger bisa bersatu melawan si monster.

Uprising tidak tertarik untuk terjun ke dalam rute tersebut. Ia lebih tertarik untuk menyenangkan penonton dengan editing super cepat dan musik yang begitu hingar bingar, Anda tidak akan bisa mendengar suara Anda sendiri. Satu-satunya karakter yang mendapatkan jatah ini hanya karakter bernama Amara dan itu pun terjadi dalam waktu yang singkat.

Kemalasan penulis skripnya untuk mengeksplor emosi karakter-karakternya diperparah dengan twist yang mengada-ngada agar si Kaiju bisa menampakkan diri. Keberhasilan para Jaeger untuk menutup celah pada film pertamanya membuat penulis skripnya berpikir keras bagaimana mereka bisa menghadirkan kembali para monster. Solusi yang tampil di layar ternyata sangat mengecewakan.

Penyutradaraan DeKnight yang pas-pasan juga tidak membantu. Meskipun beberapa adegan aksinya cukup menarik (meskipun belum bisa menandingi kekerenan adegan Jaeger mengeluarkan pedang dan membelah Kaiju di udara seperti film pertamanya), sekuens yang disajikan DeKnight sangat-sangat generik. Belum lagi akting para pemainnya yang malas-malasan. Charlie Day yang mencuri perhatian dalam film pertamanya nampak sangat miscast di film ini. Scott Eastwood hanya mengandalkan ketampanannya. Setiap kali ia mengucapkan dialog, dia nampak seperti malas-malasan.

Satu-satunya orang yang komit untuk akting hanyalah John Boyega. Itu pun hasilnya kurang maksimal karena karakternya segenerik film-film blockbuster semacamnya. Uprising bukan film yang luar biasa buruk. Tapi melihat film pertamanya, ada segumpal kekecewaan yang muncul saat menyaksikan para Jaeger yang tadinya terlihat perkasa kini terasa letoy. Menyaksikan Uprising seperti déjà vu dengan berbagai jilid Transformers. Dan itu adalah hal yang sangat disayangkan.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International. (dar/dar)