DetikHot

premiere

Death Wish: Dendam Kesumat Seorang Duda

Selasa, 06 Mar 2018 11:10 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
Death Wish: Dendam Kesumat Seorang Duda Death Wish: Dendam Kesumat Seorang Duda Foto: Istimewa
Jakarta - Paul Kersey (Bruce Willis) adalah seorang dokter UGD yang sempurna. Ia sangat berkomitmen terhadap pekerjaannya, supportif kepada pilihan-pilihan anaknya, mencintai istrinya dengan sepenuh jiwa raganya. Ketika saudaranya datang kepadanya dan selalu meminjam uang, Paul selalu memberinya. Tidak pernah ada pertanyaan, Paul selalu memberinya pinjaman. Keluarga adalah nomor satu.

Kemudian malam terburuk dalam hidupnya terjadi. Malam iyu, Paul dan istrinya seharusnya pergi merayakan ulang tahunnya. Namun sebagai dokter ia harus selalu menomorsatukan pekerjaannya. Ketika ada telepon yang mengatakan bahwa ada emergency di rumah sakit, Paul harus pergi. Acara makan malam bersama pun ditunda.

Saat itulah sekelompok orang masuk ke dalam rumah dan menodongkan senjata ke anak dan istri Paul. Perampok-perampok ini sebenarnya hanya menginginkan uang dan perhiasan, tapi sesuatu hal terjadi yang menyebabkan kematian istri dan kondisi kritis putri Paul satu-satunya. Di rumah sakit, Paul hanya bisa menangis dan bertanya kenapa hal ini bisa terjadi. Polisi yang mencoba menyelidiki kasus ini juga tak bisa memberikan jawaban dengan pasti. Chicago memiliki banyak kriminal. Kriminalitas terjadi setiap hari dan para polisi sudah bekerja sekuat tenaga untuk menangkap para penjahat.

Paul masih sabar menunggu. Ia masih sering menelpon atau mendatangi kantor polisi utuk mencari tahu kelanjutan kasus ini. Sampai akhirnya dia lelah dan muak. Kini Paul memegang kendali. Dengan senjata api di tangannya, Paul mencari para penjahat yang telah merenggut nyawa istrinya dan berusaha mencari keadilan.

Disutradarai oleh Eli Roth, Death Wish adalah sebuah remake yang tidak perlu. Diadaptasi oleh Joe Carnahan dari film tahun 1974 (yang didasarkan oleh novel karya Brian Garfield), Death Wish tidak menawarkan apa-apa yang belum Anda lihat sebelumnya di film-film sejenis. Karakter utamanya setipis itu dan motivasi dia untuk balas dendam membabi buta sestandar itu.

Semuanya terasa mudah bagi karakter utamanya untuk tiba-tiba ahli menjadi pembunuh yang sangat kejam. Ini belum termasuk penggambaran karakter antagonisnya yang familiar, Anda bisa melihatnya di film mana pun. Mereka semua mempunyai bentuk muka yang menyeramkan dan akting nyolot tanpa ada motivasi yang lebih asyik daripada "butuh duit".

Bruce Willis bermain seperti layaknya Bruce Willis yang Anda harapkan. Ekspresi kakunya tidak berubah-rubah. Dia hanya memiliki dua ekspresi di film ini: tegang dan sedih. Dibandingkan dengan Liam Neeson yang sering mendapatkan peran yang serupa, Willis seperti malas-malasan bermain dalam film ini.

Untungnya Eli Roth masih punya effort untuk merangkai Death Wish sebagai sebuah film aksi yang menegangkan. Beberapa adegan set-up-nya cukup asyik, seperti adegan awal perampokan yang tensinya begitu terasa. Sebagai sutradara spesialis horor gory, Roth mengerjakan Death Wish dengan pendekatan yang sama. Dalam film ini, Anda akan melihat violence yang cukup grafik sehingga visual seperti kulit dibelah, darah segar dan kepala pecah tampil gagah dengan mulusnya.

Death Wish akhirnya gagal menjadi sebuah film aksi yang berkesan karena di babak ketiga Eli Roth kehilangan bahan bakarnya. Adegan klimaks film ini tidak hanya lemah tapi juga membuat keseluruhan film menjadi standar. Death Wish memang bukan karya terbaik Willis atau film aksi terbaik, tapi jika Anda penggemar sejati film action, film ini patut dicoba. Tapi jika Anda butuh sesuatu yang lebih dari sekedar Bruce Willis belajar tembak menembak, film ini bukan untuk Anda.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International


(tia/tia)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed