DetikHot

premiere

The Cloverfield Paradox: Luar Angkasa adalah Tempat Yang Angker

Minggu, 11 Feb 2018 13:57 WIB  ·   Candra Aditya - detikHOT
The Cloverfield Paradox: Luar Angkasa adalah Tempat Yang Angker Foto: The Cloverfield Paradox (dok. IMDB)
Jakarta - Krisis energi global menjadi horor manusia di masa depan. Salah satu solusi atas masalah ini adalah mencari energi alternatif. Ava Hamilton (Gugu Mbatha-Raw), Kiel (David Oyelowo), Schmidt (Daniel Brühl), Monk Acosta (John Ortiz), Mundy (Chris O'Dowd), Volkov (Aksel Hennie) dan Tam (Zhang Ziyi) kemudian diterbangkan ke luar angkasa dalam misi mencari energi alternatif. Lebih tepatnya adalah mengetes akselerasi partikel bernama Shepard ke luar angkasa yang diharapkan akan memberikan energi tak terbatas ke bumi.

Setelah dua tahun mencoba dan gagal, para astronot ini mulai kelelahan dan putus asa. Sampai akhirnya, suatu hari mereka berhasil. Semuanya nampak lancar sampai akhirnya tiba-tiba listrik mati.

Semua menggelap kemudian pesawat mereka mulai bergerak tidak terkendali. Dan ketika semuanya kembali normal, mereka tidak bisa melihat Bumi. Entah kenapa, mereka terlempar jauh ke dimensi lain. Dan disinilah keanehan-keanehan mulai terjadi.

Ada beberapa hal menarik yang bisa dibahas mengenai The Cloverfield Paradox. Yang pertama adalah marketingnya. The Cloverfield Paradox—yang sebelumnya berjudul God's Particle—menghadapi berbagai ketidakpastian tanggal tayang. Setelah lama ditunda, tiba-tiba pada Superbowl, Netflix memutuskan bahwa film ini bisa ditonton malam itu juga—4 Februari di Amerika Serikat.

Tanpa adanya informasi satu pun kecuali trailer sepanjang 30 detik, film ini dirilis. Hal ini tentu saja menciptakan kehebohan sendiri. Seperti teaser trailer Cloverfield yang ditempel di awal film Transformers pertama tanpa informasi sama sekali, termasuk judul film. Orang-orang yang kepo langsung bergegas untuk mencari tahu.

Bagian kedua yang menarik tentang film ini adalah soal benang merah serial Cloverfield. Cloverfield, 10 Cloverfield Lane dan The Cloverfield Paradox adalah film yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Salah satu kreatornya, J. J. Abrams, mengatakan bahwa franchise ini sengaja dibuat seperti sebuah arena bermain yang menawarkan atraksi yang berbeda-beda.

Jika Cloverfield adalah sebuah film monster yang dibungkus dalam bentuk found-footage, 10 Cloverfield Lane adalah sebuah thriller claustrophobic yang mencekam. Ternyata film ketiganya dibungkus dalam sebuah space thriller seperti Alien atau Gravity.

Sayangnya, kecemerlangan The Cloverfield Paradox hanya bisa dilihat lewat marketingnya. Skrip yang ditulis Oren Uziel begitu generik sehingga tidak ada lagi yang bisa mengejutkan penonton. Alien Covenant dan Life yang dirilis tahun lalu lebih punya gigi daripada 102 menit yang ditawarkan oleh The Cloverfield Paradox. Adegan-adegan yang dibuat oleh sutradara Julius Onah juga loyo.

Sekuens- sekuensnya kurang bergigi padahal ada adegan yang melibatkan tangan dihisap oleh tembok. Performa para aktor-aktornya pun kurang membantu meskipun Gugu Mbatha-Raw kelihatan paling berusaha untuk membuat penonton panik.

Serial ini memang berusaha keras untuk menyambung-nyambungkan satu film ke satu lainnya. 10 Cloverfield Lane sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Cloverfield kalau saja sequence terakhir dihilangkan. Tapi paling tidak, kedua film tersebut menggambarkan paranoia dengan cemerlang. Jika Cloverfield menggambarkan paranoia secara global melalui sekelompok anak muda, 10 Cloverfield Lane dengan cemerlang melukis paranoia melalui mata Michelle (Mary Elizabeth Winstead).

Ketegangan 10 Cloverfield Lane memang hanya dialami oleh beberapa orang namun suspense-nya begitu terasa. Seperti lokasinya yang sempit, Anda akan dihimpit oleh rasa ketakutan. Masalahnya, rasa itu lenyap dalam film ini. Bukannya ketegangan, yang ada hanyalah segelintir adegan-adegan monoton yang sudah bisa Anda prediksi.

Bad Robot Productions, production house yang memproduksi serial ini, sudah merampungkan syuting untuk jilid keempat serial ini. Tentu saja, seperti biasa, tidak ada informasi mengenai film tersebut selain setting dan principal cast. Apapun cerita/settingnya film keempat serial ini, semoga film tersebut berhasil mengembalikan lagi kepercayaan penonton terhadap serial ini. Karena dibutuhkan lebih dari gimmick marketing untuk menjadikan sebuah teror sedap untuk disantap.

The Cloverfield Paradox dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
(dal/dal)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed