detikHot

premiere

'La La Land': Jatuh Cinta Lagi Lewat Musik

Selasa, 10 Jan 2017 13:06 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: imdb
Jakarta -

Mia Dolan (Emma Stone) adalah seorang barista yang bermimpi menjadi bintang film. Dia ingin berakting. Sejak kecil Mia sudah tertarik untuk berakting. Sementara itu ada Sebastian Wilder (Ryan Gosling), seorang jazz pianist yang bermimpi mempunyai tempat sendiri untuk memainkan musik jazz yang murni. Kemudian keduanya bertemu.

Pertemuan mereka untuk pertama kalinya tidak berjalan dengan mulus. Kali kedua, Mia dan Sebastian merasakan adanya semacam getaran. Sementara Sebastian memperkenalkan Mia kepada musik jazz, Mia pun mulai berani untuk memberi tahu Sebastian tentang mimpinya, termasuk soal ketertarikannya pada bintang-bintang lama Hollywood. Lalu, mereka jatuh cinta.

'La La Land', film panjang ketiga Damien Chazelle setelah kesuksesan 'Whiplash' adalah sebuah hadiah dari seorang filmmaker berbakat. Memecahkan rekor Golden Globe dengan 7 piala Terbaik—Film Musikal/Komedi, Aktor Musikal/Komedi, Aktris Musikal/Komedi, Sutradara, Skrip, Lagu, dan Scoring—film ini adalah apapun yang Anda harapkan dari sebuah masterpiece. Sebagai sebuah film, 'La La Land' tidak hanya akan membuat Anda jatuh cinta pada karakternya namun juga terhadap film itu sendiri.

'La La Land' tidak hanya merefleksikan apa yang terjadi di industri perfilman zaman sekarang, namun juga melihat kembali masa-masa ketika film masih menjadi "kuil" untuk mencari hiburan. Dipersembahkan sebagai musikal, Chazelle mengajak penonton bernostalgia terhadap film-film musikal zaman dulu. Seperti halnya pada 'Whiplash' yang sangat detail, pada film ini Chazelle memperhatikan semua aspek teknis mulai dari sinematografi, warna, production design, kostum, make-up, musik sampai koreografi untuk menjadikannya optimal. Hasilnya, Anda tidak akan merasakan bahwa 'La La Land' adalah film dari zaman sekarang; film ini tampil seperti sebuah harta karun dari era 60-an yang baru dibuka sekarang.

La La Land' menunjukkan kepercayaan dirinya dan keotentikannya dengan sebuah opening yang menggelegar. Yakni, sebuah adegan musikal yang dilakukan puluhan orang di tengah lalu lintas yang padat. Semua orang bergerak dengan kostum warna-warni technicolor memberikan nuansa nostalgia sekaligus kesan avant-garde. Kemudian disusul dengan koreografi yang begitu meyakinkan (dengan koreografer sang aktris Mandy Moore). Sementara itu, kamera dari Linus Sandgren bergerak merekam semua aktor dengan lincah. Diedit oleh Tom Cross yang seolah-olah mengindikasikan bahwa adegan itu diambil dalam satu shot, opening tersebut langsung memperkenalkan ke penonton terhadap setting cerita, surat cinta Chazelle terhadap Los Angeles, dan film musikal itu sendiri.

Begitu film berjalan, kematangan Chazelle dalam mengatur semua teknis terasa semakin optimal. Kamera Linus Sandgren seperti sedang kesurupan. Gerakan kamera dan production design seperti sepasang kekasih yang tidak bisa dilepas; keduanya mengisi satu sama lain. Koreografi Mandy Moore membuat adegan dua kali lipat lebih keren. Dan, editing Tom Cross mengingatkan kenapa dia berhak mendapatkan Oscar atas kemampuannya. Jejak 'Whiplash' masih terasa di sini. Beberapa adegan musikal, lengkap dengan koreografi yang njelimet, yang dipersembahkan dalam satu take, menunjukkan betapa kompaknya semua departemen.

Teman sekamar Damien Chazelle selama kuliah, Justin Hurwitz, mempersembahkan musik yang catchy, dengan unsur retro yang kuat. Musik buatannya romantis, memberikan kesan galau. Chazelle dan Hurwitz yang sudah membicarakan proyek ini bahkan sebelum 'Whiplash' dibuat, jelas sudah saling memahami sehingga musik dan cerita menyatu dengan erat.

Dengan 'Whiplash' dan 'La La Land', Chazelle berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mengubah musik menjadi apa saja yang dia mau. Dalam 'Whiplash' dia mengubah musik menjadi horor. Dalam 'La La Land' ia mengajak penonton untuk jatuh cinta. Chazelle juga jenis sutradara yang ahli dalam mengarahkan pemainnya ke level paling optimal. Di sini, Gosling dan Stone berhasil mewakili penonton untuk menjadi pasangan yang ideal. Mereka berdua mengajarkan penonton kembali bagaimana rasanya jatuh cinta.

Gosling dan Stone yang kali ini bermain bersama untuk ketiga kalinya memiliki chemistry yang begitu kuat. Ketika Stone mengerahkan kekuatannya untuk tampil bersemangat dengan pancaran cahaya di bola matanya, Gosling sanggup mengimbanginya dengan tatapan dan senyuman. Talenta keduanya semakin terbukti ketika adegan musikal muncul di layar. Stone dan Gosling sanggup bernyanyi dengan suara yang begitu jujur, sambil menampilkan berbagai adegan tari yang cukup ribet.

Banyak adegan musikal yang membuat Anda meringis senang saat menonton film ini. Tapi, pertemuan Gosling dan Stone ketika keduanya berada di atas bukit kemudian melakukan tap dance akan membuat bulu kuduk Anda merinding saking kerennya.

La La Land' adalah sebuah persembahan seorang pembuat film yang benar-benar tahu apa yang sedang dibuatnya. Film ini akan mengobati rindu pada musikal yang murni, dan sebuah kisah cinta yang bisa membuat Anda bahagia. Ini adalah film yang sanggup membuat Anda lumer hanya dalam sekali tatap; sebuah cara paling gampang untuk membuat Anda tertawa senang. 'La La Land' akan berakhir menjadi sebuah film klasik yang dikenang sepanjang masa.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.




(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com