detikHot

premiere

Hacksaw Ridge: Sekali Lagi, Pembuktian Mel Gibson di Kancah Perang

Kamis, 10 Nov 2016 10:37 WIB Candra Aditya - detikHot
Foto: Dok. Mark Rogers/Cross Creek Pictures
Jakarta - Jika Anda rindu sebuah film perang yang legendaris seperti 'Saving Private Ryan' dan sebuah kolosal epik seperti 'Braveheart', Anda akan segera gembira karena 'Hacksaw Ridge' adalah jawaban tersebut. Film pertama Mel Gibson setelah absen sepuluh tahun—terakhir adalah 'Apocalypto'—sebagai pembuktikan bahwa dia bukan sekedar aktor yang bagus, namun juga seorang pencerita yang luar biasa.

'Hacksaw Ridge' adalah sebuah film yang sangatlah sederhana. Film ini menceritakan tentang seorang prajurit bernama Desmond (Andrew Garfield) yang bersikukuh untuk tidak menyentuh senjata selama membela negara di tengah keriuhan Perang Dunia II. Desmond tahu benar bahwa memegang senjata tidak akan menyelesaikan masalah apa-apa. Setiap hari dia menatap kesimpulan tersebut melalui ayahnya (Hugo Weaving).

Tapi Desmond juga tahu bahwa diam saja ketika semua orang bertempur adalah tindakan pengecut. Di sisi lain, sebagai "pacifist" sejati ia merasa bahwa memegang senjata akan mengoyak nuraninya. Desmon pun memilih untuk menjadi tentara di bagian medik. Drama panjang pun terjadi di kamp ketika dia memilih untuk tidak memegang senjata, tanpa alasan apapun. Akhirnya memang nyali menjadi buktinya sendiri ketika kemudian Desmond berakhir menjadi pahlawan, dan menyelamatkan begitu banyak orang yang menjadi saksi atas kekejaman perang.

Plot yang disajikan oleh Andrew Knight dan Robert Schenkkan memang kadang "terlalu drama" dan di beberapa bagian agak kepanjangan. Namun, semuanya tetap terasa pas berkat penyutradaraan Mel Gibson yang canggih. Semua karakter pun dibuat dengan karakterisasi yang pas meskipun kadang terasa terlalu 'larger than life'.

Film ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang bagaimana seorang manusia berusaha keras untuk menjahit sisa-sisa kemanusiaan melalui kegigihannya untuk tetap menjadi prajurit meskipun negara menolaknya hanya karena si manusia tersebut menolak memegang senjata. Bagian kedua adalah bagaimana semua komentar negatif tentang si sosok tersebut berubah 180 derajat ketika ia memegang teguh kata-kata yang ia ucapkan. Kedua cerita tersebut akhirnya mengikat satu sama lain meskipun Mel Gibson menggambarkannya dengan visual yang sama sekali berbeda.

Paruh pertama digambarkan Mel Gibson dengan sentimentil yang berlebihan, namun efektif. Kita melihat bagaimana kegigihan Desmond benar-benar teruji. Sulit bagi Anda untuk tidak simpati dengan karakter yang diperankan oleh Andrew Garfield dengan sepenuh hati. Semua yang digambarkan oleh Mel Gibson di paruh pertama membuat darah Anda mendidih dan dijamin menggugah nurani Anda.

Kemudian di paruh kedua Mel Gibson menggantinya dengan nuansa horor. Perang yang digambarkan Mel Gibson dalam film ini tidaklah main-main. Ini bukan film perang buatan Marvel. Semuanya digambarkan dengan penuh horor dan teror. Audio dan visual berperan begitu penting dalam bagian ini. Kamera Simon Duggan menangkap gambar-gambar yang akan membuat Anda ingin memejamkan mata—kepala tertembus peluru, usus berhamburan, darah di mana-mana; dan, sound design dari Robert Mackenzie sengaja dibuat dengan kebisingan yang sepadan dengan visual yang menyeramkan itu. Hasilnya, Anda akan merasa seperti berada di medan perang "beneran".

Sekali lagi, ini bukan visual perang seperti yang digambarkan oleh film-film Marvel yang ramah lingkungan. Ini adalah visual perang yang horor yang membuat orang dewasa sekali pun bersembunyi di balik kedua telapak tangan.

Penceritaan Mel Gibson tidak akan berhasil jika dia tidak mendapatkan aktor-aktor yang bermain dengan komit. Dia mendapatkan kapten yang bisa diandalkan sebagai Desmond dalam diri Andrew Garfield. Ia tidak hanya memerankan karakternya dengan komitmen yang luar biasa namun juga suntikan emosi yang pas. Anda tidak hanya akan jadi terbawa emosi namun juga benar-benar ikut merasakan apapun yang ia rasakan.

'Hacksaw Ridge' akhirnya menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya mengobati kerinduan Anda terhadap film perang yang berkualitas namun juga sebuah pengingat bahwa Mel Gibson adalah pembuat film andalan. Ini adalah sebuah tontonan yang begitu menginspirasi. Keras dan kejam memang. Tapi, bukankah perang memang seharusnnya menggambarkan itu?

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(dar/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com