DetikHot

premiere

'Iseng': 24 Jam Sebelum Malam Jahanam

Jumat, 11 Mar 2016 14:05 WIB  ·   Is Mujiarso - detikHOT
Iseng: 24 Jam Sebelum Malam Jahanam
Jakarta -

Seorang bos yang tengah merencanakan pembunuhan terhadap selingkuhannya yang hamil dan mulai menuntut. Seorang sekretaris gatel yang gemar “flirting”, dari atasannya di kantor hingga cewek “butchie” pramusaji restauran tempat ia biasa makan siang. Seorang pelacur berlogat sunda yang tengah mementori temannya dari kampung yang baru saja datang ke Jakarta. Oh ya, masih ada lagi pelayan restauran temannya di butchie tadi yang tak kalah “freak”. Sebagian dari “fakta” itu barangkali sudah cukup akrab bagi kita, antara lain hadir lewat headline koran-koran kelas tiga. Lalu, apa yang baru ketika sebuah film dengan judul “Iseng” menganyam cerita-cerita seperti itu, dan menyuguhkannya dengan klaim “inspired by true stories” yang tertempel di posternya?

Tanpa publikasi dan promosi yang membahana, dengan judul yang mudah dipandang sebelah mata pula, karya perdana keluaran Absolute Pictures lewat tangan sutradara Adrian Tang ini boleh jadi justru merupakan kejutan terbesar dalam industri film Tanah Air awal tahun ini. Tidak seperti judulnya, ’Iseng’ dengan serius menampilkan dirinya sebagai salah satu thriller paling bernyali yang pernah dibuat oleh filmmaker kita.

Bercerita tentang sisi kelam Jakarta hanya dalam waktu 24 jam, ‘Iseng’ tak lantas terjatuh ke dalam klise ala film-film yang biasanya berdalih “memotret realitas”. Sebaliknya, film ini justru menjadi “anti-mainstream” dengan caranya sendiri yang mengejutkan. Sejak awal, karakter demi karakter dihadirkan, nyaris dijejal-jejalkan, diperkenalkan satu per satu kepada penonton. Sampai hampir sepertiga durasi film berjalan, kita terus saja disuguhi karakter-karakter baru, yang membuat kita bertanya-tanya, alur film ini mau ke mana? Namun, dengan sangat lembut dan rapi, perca-perca yang bersilang-sengkarut tersebut dijahit dengan kesabaran seorang maestro hingga membentuk satu mozaik yang membuat kita tak henti-henti terperangah. Adegan demi adegan memberi kita kejutan-kejutan kecil, semacam letupan beruntun yang menuntun kita pada satu simpul cahaya di ujung sebuah lorong gelap.

Layar dibuka dengan kerumunan di areal parkir sebuah apartemen pada suatu malam. Lalu, kita mengenali wajah Donny Alamsyah sebagai polisi yang dipanggil Ludi, yang datang ke lokasi untuk penyelidikan. Sesosok tubuh pria muda ringsek setelah terjatuh dari salah satu jendela di lantai atas apartemen. Menyusul wajah Doni Damara memasuki “frame”, dan kita segera mengenalinya sebagai atasan Ludi. Mereka pun naik ke apartemen yang menjadi sumber jatuhnya pria muda yang kini telah menjadi mayat itu. Terjadi dialog penuh analisis kriminal yang agak terbata-bata namun cukup meyakinkan.

Setelah itu, layar memutar balik waktu ke 24 jam sebelumnya. Layar menjadi sangat sibuk. Dengan penyuntingan yang dinamis, kita diajak wara-wiri dari satu keping kehidupan ke keping kehidupan lainnya di sebuah kota rural-urban raksasa yang mudah untuk diidentifikasi sebagai Jakarta. Dari apartemen yang berdarah, kita lalu berpindah ke sebuah kos-kosan, pada suatu hari ketika Teteh (Manda Cello) kedatangan tamu, teman sekolahnya dulu, Dian (Fany Vanya). Mereka melepas kangen, chit-chat haha-hihi dalam dialek sunda yang kental, dan segera setelah itu kita tahu, Dian datang untuk menyusul jejak si Teteh, bekerja “menemani laki-laki”.

Tapi, dalam obrolan lebih jauh, baru Dian tahu bahwa pekerjaan itu tak seperti yang dibayangkannya. Ternyata, mereka akan mangkal di jalanan dan mencari klien sendiri. Dian pun bergidik mendengar itu, tapi apa boleh buat! Dua pelacur yang molek-montok-mekar nan lugu-lugu-centil itu menjadi salah satu bagian yang paling cemerlang menyinari film ini. Mereka ditampilkan dalam titik kewajaran yang paling dekat dengan kita: mereka seperti perempuan-perempuan yang ngekos di sebelah rumah kita, dan kerap jadi gunjingan warga sekitar, atau mendapat tatapan aneh saat makan di warteg. Maka, ketika Dian, yang ketika mulai turun ke jalan diperkenalkan oleh Teteh sang mentor sebagai Jenifer, merasakan kengerian saat pertama kali melihat calon kliennya, kita pun bisa ikut merasakannya. Lalu, ketika akhirnya ia ditinggalkan sendirian oleh Teteh, dan dibungkus oleh pria yang mengendarai taksi, dan dibawa ke kos-kosan —bukannya ke hotel— kita ikut cemas dan mengkhawatirkan, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Dalam 24 jam, apapun bisa terjadi di kota tempat seorang bos memiliki kekuasaan yang nyaris tak terbatas, dan memiliki sopir yang bisa mengendalikan sebuah anggota genster yang dingin dan sadis. Film ini mengajak kita menelusuri sisi-sisi paling kelam di Jakarta dalam 24 jam menjelang sebuah malam jahanam yang membara oleh tumpahan darah. Tidak ada adegan yang istimewa dalam film ini. Alur dibangun dari obrolan-obrolan makan siang, dan sebuah restauran yang dimiliki oleh Cik Helen (Dayu Wijanto) menjadi panggung yang —kalau pun tidak mempertemukan— merupkan spot persinggungan hampir semua karakter yang muncul dalam film ini. Cik Helen orang yang galak, tapi setelah mengomeli Jo (Firda Tumakaka), ia masih sempat juga menggoda-nggoda anak buahnya yang lesbian itu.

Dengan banyaknya karakter dalam tiga sub-plot utama, ‘Iseng’ dengan jeli mampu memberikan porsi yang merata. Semua penting, semua punya peran, tak ada yang numpang lewat dan sia-sia. Bahkan Wulan Guritno dalam perannya yang tak terlalu menonjol, tetap terasa kharismatik dan menyatu dengan keseluruhan alur cerita yang demikian riuh-rendah. Cameo-cameo bermunculan, dari Melinda ‘Cinta Satu Malam’ hingga Siti Badriah, dan mereka semua bermain bagus, membuat karakter-karakter yang diperani masing-masing mudah mendatangkan simpati, atau minimal membuat kita peduli. Tio Pakusadewa yang cabul, Fauzi Baadilah yang horni, dan salah satu yang perlu mendapat pujian secara khusus adalah Kho Michael sebagai Denis, pegawai restuaran Cik Helen, temannya Jo, yang misterius.

Jangan lupakan pula tiga gengster yang menjadi salah satu pilar utama penyangga alur film ini. Joni (Zuli Silawanto) yang tak banyak omong, Atif (Khiva Iskak) yang cerewet dan “bossy”, serta Aripin (Fandy Christian) yang peragu karena sedang memikirkan rencana pernikahannya. Mereka harus mengeksekusi sebuah tugas yang awalnya direncanakan untuk bulan depan, tapi ternyata harus diajukan malam itu!

Jadi apa yang baru, dari mozaik kehidupan orang-orang dari dunia hitam, orang-orang kalah, bahkan orang-orang sakit jiwa ini? Dalam berbagai versi dan variasinya, ‘Eliana, Eliana’ (Riri Riza, 2002), ‘Lovely Man’ (Teddy Soeriaatmaja, 2011) hingga yang terbaru ‘Selamat Pagi, Malam’ (Lucky Kuswandi, 2014) sudah menyuguhkan pada kita protret Jakarta sisi kelam dalam semalam. ‘Iseng’, tanpa iseng-iseng, boleh jadi merupakan versi lain yang brutal, sadis, gelap dan berdarah dari film-film yang disebutka tadi. Tanpa bergenit-genit dalam usahanya untuk menampilkan kembali ruang-ruang Jakarta dari sisinya yang paling indah dan eksotik, ‘Iseng’ merekam Jakarta apa adanya: tukang nasi goreng yang menggelar meja tanpa atap, tukang-tukang ojek yang menyertai para pelacur dan kampung-kampung padat tempat rumah-rumah kos bersarang.

Pembunuh, pelacur, pecundang, dalam ‘Iseng’ ditampilkan sebagai manusia-manusia biasa, makhluk darah-daging yang berdimensi dan “nyata”, bukan karikatur hitam putih yang stereotip. Mereka tetangga kita, teman sekantor kita, sopir taksi yang mengantar kita, orang asing yang memencetkan tombol lift apartemen untuk kita ketika kita pulang malam, pelayan restauran langganan kita. Di antara mereka ada yang kemudian kita ajak kenalan, ada juga yang bahkan kemudian kita akrabi. Sampai pada suatu ketika kita, sesaat sebelum kita tersadar siapa mereka sebenarnya, kita telah lebih dulu terhempas pada sebuah kenyataan yang lain. Film ini membuat kita teringat buku-buku psikoanalisis Freud yang pernah kita baca, atau mungkin lebih jauh lagi, teori-teori perjumpaan dan enigma wajah orang lain dari Emmanuel Levinas. Tapi untuk apa membuat analisis yang berat-berat.

Yayan Ruhiyan pakai peci, jadi sopir, tapi tetap mengerikan; itu saja sudah menjelaskan semuanya tentang film ini. Fandy Christian dengan menyentuh mengingatkan kita bahwa orang paling jahat sekalipun sebenarnya juga punya kebimbangan dan rasa takut. Sebaliknya, Manda Cello memberi tahu kita bahwa pelacur paling sundal sekalipun (dengan riang tanpa beban mempraktikan cara membuat pelanggan cepat selesai), sebenarnya mereka hanyalah gadis-gadis riang baik-baik yang tak berbahaya, bahkan justru kerap menjadi sasaran kekerasan dalam pergaulan malam.

Lupakan Freud. Menonton ’Iseng’ seperti nongkrong di tempat paling “bronx” di Jakarta, lalu tanpa sengaja menguping cerita-cerita kelam khas urban. Tapi, kenyataan di luar sana selalu jauh lebih tak terbayangkan. Kabar baiknya, agar tak melulu kedengaran terlalu depresif, dengan kekelaman ceritanya, toh ‘Iseng' masih bisa menyelipkan humor segar dengan pas. Kadang terasa getir dan ngilu, kadang bikin kita tertawa enak dan lepas, dan tunggulah saat ketika diam-diam mata kita berkaca-kaca. Satu catatan lagi, seperti yang telah kita baca di sejumlah berita, bagian akhir dari film ini barangkali akan sedikit membingungkan. Konon, itu gara-gara gunting sensor yang sembrono dan serampangan. Tapi, percayalah, setelah semua yang terpapar di layar, apa pun yang terjadi di ujung film ini bisa diabaikan.


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed