Film 'Gangster': Dongeng Indah Preman Kampung

Film 'Gangster': Dongeng Indah Preman Kampung

Adhie Ichsan - detikHot
Selasa, 25 Agu 2015 19:32 WIB
Jakarta -

Mungkin banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Anda ketika melihat sosok pemain utama dalam film ini. Dia digambarkan sebagai 'preman' kampung yang ndeso, tetapi memiliki fisik layaknya model catwalk fashion show di Milan.

Tapi sebelum keburu banyak protes, ada baiknya menyimak jalan cerita. Preman kampung dari Lereng Gunung Merapi itu bernama Jamroni (diperankan Hamish Daud). Sebenarnya dia nggak preman-preman banget, hanya seorang pemuda baik dan naif yang berusaha survive di tengah kesialan bertubi-tubi.

Sejak kecil Jamroni merasakan kemalangan tanpa kasih sayang orang tua. Tidur di kandang kambing, dimarahi guru ngaji karena malah lihat buku silat, dipukuli, hingga diteriaki bule kampung. Tapi semua itu diterima dengan lapang dada oleh Jamroni, karena satu-satunya harapan yang membuat dia bertahan adalah keinginan melindungi Sari (versi dewasanya diperankan Eriska Rein). Bahkan alasan Jamroni dianggap preman mungkin hanya karena kemampuannya bisa bela diri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jelang mangkatnya sang ayah, Jamroni baru mengetahui bahwa dia sebenarnya anak angkat. Dia kemudian diberi beberapa pucuk surat yang tak pernah disampaikan. Surat itu dari teman kecilnya Sari yang kini tinggal di Jakarta. Dan lembaran baru hidup Jamroni dimulai.

Film 'Gangster' arahan sutradara Fajar Nugros ini memiliki potensi menjadi tontonan drama action berbalut komedi yang asyik. Acungan jempol layak diberikan kepada Dwi Sasono dan Agus Kuncoro yang tampil begitu memikat dengan karakter mereka yang tegas namun di sisi lain memiliki jiwa komikal dan munafik.

Dwi berperan sebagai Amsar, bos sebuah ormas dengan bisnis hasil retribusi di pasar-pasar dan pelabuhan. Sementara Agus Kuncoro berperan sebagai Hastono, pejabat yang terbelit utang jasa dari sang mafia. Tiap keduanya muncul dalam layar, seolah memberikan suntikan nyawa baru ketika plot mulai terasa kendor.

Produser Chand Parwez Servia mempertahankan cirinya dengan menggaet begitu banyak cast untuk mengisi peran pendukung. Dari yang muncul hanya sekilas, hingga memiliki keterikatan kuat dengan cerita. Beberapa terbukti efektif memberikan kesegaran dalam cerita. Misalnya kemunculan Dian Sastrowardoyo yang bikin para lelaki berdesir deg-degan, ketika ia akan bertarung dengan Kelly Tandiono, atau Yayan Ruhiyan yang tentu ditunggu aksinya.

Tapi Eriska Rein hanya benar-benar numpang lewat. Nina Kozok yang berperan sebagai anak Hastono, juga tak terlalu spesial selain adegan pertarungan menggunakan kebaya bersama asisten papanya yang juga bikin berdesir. Sementara Ganindra Bimo yang berperan sebagai bounty hunter, memang memberikan kesan misterius tapi kurang mematikan.

Dialog yang disusun penulis Jujur Prananto menyisipkan banyak humor dalam situasi komedi yang pas, dan menjadi penambal bolongnya alur cerita di beberapa bagian. Ada lompatan yang cukup jauh jelang bagian akhir, padahal saat itu sedang tegang-tegangnya namun di-cut dengan penyelesaian yang terburu-buru.

Hal itu mungkin dikarenakan durasi. Chand Parwez sendiri dalam pernyataannya mengatakan bahwa film 'Gangster' memiliki 3.000 shoot, 10 kali lebih banyak dari film biasanya. Jika itu alasannya, mungkin Parwez bisa lebih mempertimbangkan untuk mengurangi beauty shot dari drone yang terlalu sering muncul, dan menyisipkan adegan penguat cerita atau motivasi para tokohnya.

Nasib sang tokoh utama memang bisa ditebak dari 1/3 film berjalan, namun secara keseluruhan film 'Gangster' menarik dan layak untuk disaksikan. Tapi, jangan berharap mendapat suguhan action dengan pertarungan cepat tanpa henti yang mencengangkan.

'Gangster' akan tayang di bioskop pada Kamis (27/8) lusa. Bagian akhir film yang menampilkan Lukman Sardi, menunjukkan bahwa cerita masih akan berlanjut.

(ich/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads