Tini (Ashanty Hermansyah), seorang biduan kampung, gagal meraih mimpinya jadi bintang terkenal di ibukota. Bersama Rahman (Dwi Sasono, 'Rectoverso', 'Sampai Ujung Dunia'), suaminya yang pengangguran, temperamental, juga sering mabuk-mabukan, mereka melanjutkan hidup demi merawat Pelangi (Aurel Hermansyah), anak satu-satunya yang mereka miliki.
Tini jadi wanita malam sebagai pemandu lagu di sebuah pub karaoke. Ia hanya menemani pelanggan menyanyi dan tak pernah tergoda untuk menjual diri demi mendapatkan penghasilan lebih. Jauh di lubuk hatinya, Tini seorang istri setia nan salehah. Di rumah ia kerap cekcok dengan Rahman. Rahman berteriak, mengancam, dan Tini menangis. Rahman mencuri uang Tini yang sedianya untuk membayar sewa kontrakan. Tini protes, mereka bertengkar, lalu Tini meratap terisak lagi, dan tetap sabar menghadapi masalah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film yang naskahnya ditulis keroyokan oleh Monty Tiwa, Ivander Tedjasukmana, dan Sumarsono ini alih-alih jadi tontonan eskapis nan seru, ia malah terasa seperti iklan layanan masyarakat tentang tata cara berumah tangga yang baik. Lihat misalnya adegan Tini yang bertengkar dengan Rahman karena Tini menganggap suaminya itu salah memilih kawan. Rahman yang tak terima kehidupan sosialnya terusik pun berang. Namun setelah bertengkar hebat, Tini akhirnya meminta maaf. Rahman pun kemudian memaafkan.
Bila memang kedua tokoh kita ini mampu menghadapi persoalan rumah tangga mereka dengan saling mengerti satu sama lain, lalu kenapa keduanya tak tampil konsisten di adegan-adegan lainnya? Serangkaian situasi yang ada malah memaksa mereka untuk lebih jauh saling bertabrakan. Mestinya tak ada adegan Rahman mencuri uang istrinya sendiri demi membeli sepeda motor. Ia bisa memintanya dan mendiskusikan hal tersebut.
Dan, sepertinya tim penulis film ini yang lupa berdiskusi untuk memberi motif yang jelas pada setiap tindakan dari tokoh-tokohnya. Mereka malah membuat konflik yang ada jadi terasa maksa. Tak lebih demi menarik simpati penonton.
Seorang penyanyi organ tunggal atau biduan dangdut dari kampung bukan hanya seorang penyanyi organ tunggal atau biduan dangdut dari kampung. Dalam realita masyarakat, itu berkaitan dengan banyak hal. Satu dari banyak hal itu adalah latar belakang dan faktor lingkungan berpengaruh besar terhadap perilaku, terhadap pembawaan seseorang. Ini yang tak dipikirkan secara lebih serius oleh tim penulis, hingga karakter Tini jadi terasa kurang membumi.
Ashanty sebagai debutan secara mengejutkan mampu tampil prima. Ia berakting dengan sangat natural, walaupun karakter yang dimainkannya memang terasa kurang pas untuk ia perankan. Ashanty terlalu mulus dan terawat sebagai seseorang berpenghasilan rendah. Dan, jangan lupakan adegan ketika ia menceramahi rekan kerjanya di pub karaoke, citra seorang biduan dangdut dari kampung langsung sirna dari dirinya. Namun, itu bukan salahnya, ia hanya menerjemahkan skrip yang diterimanya yang sepertinya ditulis tanpa penelitian yang cukup soal tokoh tersebut.
Dwi Sasono tampil tanpa terlihat berusaha keras demi menghidupkan perannya sebagai suami yang menyebalkan namun juga kadang menggemaskan ini. Ia salah satu aktor paling menjanjikan yang dimiliki negeri ini. Bila saja di proyek mendatang ia kembali mendapatkan peran utama dengan naskah yang jauh lebih baik, ia bakal bersinar lebih terang lagi sebagai pemain lakon.
Bila ada hal lain lagi yang positif dari film ini, penampilan Mario Irwinsyah ('Sesaat Dalam Pelukan', 'Negeri 5 Menara') sebagai Yuyun, banci salon teman curhat Tini, lumayan berhasil mencuri perhatian. Karakter banci yang ia perankan masih tak jatuh jadi bahan lawakan layaknya yang sering terjadi di sejumlah film Indonesia yang lain. Mario menampilkan akting terbaiknya.
Rasanya bila ketiga aktor tadi tak menampilkan performa terbaik mereka, serta sedikit usaha dari Monty Tiwa dengan menyelipkan sejumlah leluconnya di beberapa adegan, 'Romantini' tak memiliki apa-apa lagi untuk membuat penonton betah menyaksikannya hingga usai. Dan, apakah tontonan ini menghibur seperti yang sempat saya singgung di awal tulisan? Bila Anda pengagum berat Monty Tiwa dengan sederet film arahannya seperti 'Get M4rried', 'Sampai Ujung Dunia' hingga 'Barbi3', ya, bisa jadi. Bisa jadi.
Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia
(mmu/mmu)











































