Namun, suasana hangat Thanksgiving tersebut berubah menjadi kepanikan total ketika anak perempuan Franklin dan Keller tiba-tiba menghilang. Mereka pun segera menghubungi pihak yang berwenang dan mulai menyusuri seluruh kota. Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) yang menangani kasus ini menangkap Alex Jones (Paul Dano) yang diduga menculik kedua anak tersebut.
Berita buruknya, Alex memiliki IQ serendah anak berumur 10 tahun dan tidak mengaku pernah menculik siapapun. Berita baiknya, Alex sepertinya mengetahui tentang keberadaan mereka tetapi tidak membagi rahasia tersebut. Keller, Franklin dan Detektif Loki pun mulai mencari jawaban masalah ini dengan cara mereka masing-masing. Namun, pada akhirnya, mereka tidak tahu bagaimana kisah ini akan berakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang pertama adalah penampilan para pemainnya. Tidak ada satu pun aktor dalam 'Prisoners' βyang semuanya pernah mendapatkan nominasi Oscar kecuali Paul Danoβ akan mengecewakan Anda. Hugh Jackman tampil liar dan berapi-api, jauh lebih berenergi dan lebih fokus ketimbang yang dilakukannya di 'Les Miserables'. Mungkin karena dia tidak perlu bernyanyi dalam film ini.
Gyllenhaal juga bermain bagus. Dia menghidupkan Loki yang merupakan bom berdetak dengan sangat detail. Semua hal yang dia lakukan memberi petunjuk atas masa lalunya. Terrence Howard, Viola Davis, Maria Bello, Melissa Leo dan terutama Paul Dano juga sangat meyakinkan.
Yang kedua adalah suasananya. 'Prisoners' yang secara premis sangat mirip dengan film-film buatan David Fincher, dipersembahkan dalam suasana depresi dan kelam. Mendung setiap saat, gerimis sepanjang waktu. Bila hujan tidak turun, salju akan menggantikannya. Suasana terisolasi, dingin dan lembab mendukung film ini menjadi thriller yang sedap. Roger A. Deakins menangkap aura keputusasaan tersebut dengan sempurna melalui kameranya.
Hal ketiga yang menarik dan yang paling penting dari film ini adalah pertanyaan yang mungkin akan muncul di benak Anda seusai menontonnya. Ada saat ketika Keller mempraktikkan cara CIA menginterogasi Al-Qaeda kepada Alex setelah polisi gagal mencari bukti bahwa Alex adalah penculiknya. Franklin dan istrinya yang tahu tentang perbuatan Keller hanya diam saja, bahkan kadang justru ikut membantu aksi Keller.
Pergulatan moral benar-salah inilah yang membuat 'Prisoners' begitu powerful. Sebagai penonton, Anda dijamin akan dihantui pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seberapa jauh yang akan Anda lakukan demi mengembalikan kembali anak Anda yang hilang? Apakah yang dilakukan Keller tidak bermoral? Apakah yang dilakukan Keller sah-sah saja? Apapun jawabannya, hanya ada satu kenyataan yang pasti bahwa 'Prisoners' akan membuat pecinta thriller tersenyum bahagia.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta
(mmu/mmu)











































