'Percy Jackson: Sea of Monsters': Sekedar Penghilang Suntuk

'Percy Jackson: Sea of Monsters': Sekedar Penghilang Suntuk

Candra Aditya - detikHot
Selasa, 27 Agu 2013 11:30 WIB
Percy Jackson: Sea of Monsters: Sekedar Penghilang Suntuk
Jakarta - Serial Harry Potter adalah salah satu franchise terbesar di seluruh dunia. Sejak film pertamanya dirilis pada 2001 dan film terakhirnya dirilis pada 2011, serial ini telah meraih lebih dari 7 miliar dollar AS dari pendapatan tiket bioskop di seluruh dunia. Keuntungan hebat ini belum termasuk home video, TV dan merchandise. Angka tersebut tentu saja membuat banyak studio lain menggebu-gebu membuat 'penerus'-nya. Percy Jackson, tokoh rekaan Rick Riordan, pada 2010 mendapatkan kesempatan untuk menjadi the next Harry Potter, namun gagal meriah audience yang lebih banyak maupun tanggapan positif dari kritikus.

Tahun ini Percy Jackson kembali lagi dengan sekuelnya yang pertama, 'Percy Jackson: Sea of Monsters', dan berharap akan sanggup melebihi kekuatan bocah sihir dengan luka petir di dahinya tersebut. Melanjutkan film pertamanya, Percy Jackson (Logan Lerman) masih berada di kamp khusus anak-anak Demi-God (setengah manusia, setengah dewa) bersama sahabat-sahabatnya.

Masalahnya masih sama: dia belum tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan ayahnya, Poseidon. Masalah ini belum kunjung terselesaikan, muncul masalah baru. Seorang Cyclops bernama Tyson (Douglas Smith) mengaku sebagai anak Poseidon juga. Seakan itu belum cukup, benteng pertahanan Camp Demi-God dihancurkan dan sekarang mereka harus mencari Golden Fleece untuk mengembalikan lagi benteng pertahanan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersama dengan sebuah ramalan atas masa depan dunia Demi-God, Percy serta kedua sahabatnya, Annabeth (Alexandra Daddario) dan Grover (Brandon T. Jackson) ditambah Tyson, harus cepat mencari Golden Fleece sebelum Luke (Jake Abel) mengambilnya untuk membangkitkan Kronos.

Secara keseluruhan, 'Percy Jackson: Sea of Monsters' merupakan sebuah lompatan yang lumayan jika dibandingkan film pertamanya, 'Percy Jackson and the Lightning Thief'. Thor Fruedenthal tidak bertele-tele untuk mengajak penonton langsung berpetualang. Walaupun, Fruedenthal tampak berusaha keras untuk membuat penonton terbuai dengan visual efeknya yang sayangnya kalah jauh jika dibandingkan dengan serial Harry Potter. Adegan taksi dalam film ini juga sangat mirip dengan adegan Knight Bus dalam film ketiga Harry Potter. Lengkap dengan adegan kendaraan terbelah menjadi dua.

Meskipun begitu, 'Percy Jackson: Sea of Monsters' tidak menawarkan sesuatu yang baru. Bahkan adegan paling menegangkannya sekalipun tidak bisa membuat penonton untuk menahan napas. Tidak ada monster laut yang menakutkan, seperti tersirat dari judulnya yang provokatif. Ending filmnya pun gampang ditebak dengan jembatan yang jelas menuju film selanjutnya.

Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario, Jake Abel tampil lebih nyaman dibandingkan film pertamanya. Pendatang baru Leven Rambin jauh lebih mencuri perhatian dengan lidahnya yang pedas. Stanley Tucci tampil tidak segarang biasanya, terutama jika dibandingkan dengan penampilan liarnya dalam 'Hunger Games'. Nathan Fillion di sisi lain adalah hiburan tersendiri walaupun screen time-nya hanya sedikit.

Dibandingkan dengan serial baru yang menjanjikan seperti 'Hunger Games', Percy Jackson bahkan tidak bisa mengalahkan kekuatan Katniss Everdeen. Apalagi mau melawan bocah kesayangan semua orang yang mempunyai bekas luka petir di kepalanya. Tapi, sebagai hiburan untuk menghilangkan suntuk, film ini sangat direkomendasikan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads