'Oblivion': Ketika Bumi Telah Jadi Kenangan

'Oblivion': Ketika Bumi Telah Jadi Kenangan

Candra Aditya - detikHot
Senin, 15 Apr 2013 11:16 WIB
Oblivion: Ketika Bumi Telah Jadi Kenangan
Jakarta - Memasuki bulan April, film-film musim panas berbiaya fantastis mulai berdatangan. 'Oblivion' karya sutradara Joseph Kosinski adalah salah satunya. Dengan bintang raksasa Tom Cruise, jelas film ini akan dibanjiri penonton. Tapi, apakah film ini sedahsyat yang Anda bayangkan?

Bumi pada tahun 2077 bukanlah tempat yang menyenangkan. Hampir seluruh daratannya tertutup oleh tanah. Anda akan melihat gambar Pentagon yang hancur, kepingan-kepingan dari Patung Liberty yang tersisa, Jembatan Brooklyn yang hanya kelihatan bagian atasnya dan bagian paling atas dari Empire State Building. Para manusia, seperti dalam 'Wall-E', mengungsi di sebuah tempat bernama Titan yang merupakan bulannya Planet Saturnus.

Bertemulah kita dengan Jack Harper (Tom Cruise) dan Victoria (Andrea Riseborough). Sisa manusia yang akan bergabung dengan sisa manusia ke Titan dua minggu lagi. Jack adalah tukang reparasi robot yang membantu mengusir para alien berbentuk robot, sementara Victoria menjadi guide agar perjalanan Jack menjadi sedikit lebih mudah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah pertama yang muncul adalah gambar-gambar sosok perempuan misterius dalam ingatan Jack. Tidak seperti Victoria yang taat, Jack mempunyai bibit-bibit pemberontak. Sampai suatu hari dia menemukan manusia-manusia selamat di Sektor 17 dan salah satu survivor adalah perempuan misterius yang dia impikan. Namanya Julia (Olga Kurylenko) dan ternyata dia mengenal Jack.

Kehadiran Julia tentu saja merubah dinamika hubungan profesional-romantis Jack dan Victoria. Tapi, ternyata masalah terbesarnya bukan itu. Melainkan, ketika Jack ditangkap sekelompok pemberontak yang dipimpin oleh Malcolm Beech (Morgan Freeman) yang meyakinkannya bahwa ada rahasia luar biasa yang Jack harus tahu.

Patut dicatat bahwa 'Oblivion' adalah film kedua Joseph Kosinski setelah debutnya 'Tron: Legacy'. Dalam 'Tron: Legacy', Kosinski menunjukkan kepiawaiannya di bidang visual. Dunia Tron yang dipenuhi dengan cahaya neon tampak memukau dan menggetarkan. Sayang sekali, dalam segi cerita film pertama Kosinski itu lemah. Dan, sekali lagi Kosinski melakukan hal yang sama dalam 'Oblivion'.

Secara konsep, film yang diadaptasi dari novel grafis ciptaan Kosinski sendiri ini lumayan menarik. Penggunaan tempo yang lambat sebenarnya juga bisa menjadi senjata Kosinski untuk mengeksplor lebih dalam emosi, interaksi dan motivasi para karakternya. Tapi ternyata Kosinski keasyikan melukis 'Oblivion' seperti sebuah sci:fi arthouse ketimbang peduli dengan inti ceritanya.

Visual 'Oblivion' yang di-shoot oleh sinematografer pemenang Oscar (lewat 'Life of Pi'), Claudio Miranda, sangat luar biasa. Bumi tidak pernah terlihat seindah itu dalam keadaan hancur berantakan.

Production designer Darren Gilford dan visual effect supervisor Eric Barbra dan Bjorn Majer bersama-sama berhasil membuat 'Oblivion' melenggang dengan anggun. Seluruh adegan kejar-kejaran antara tom Cruise dengan robot-robot terasa nyata dan mengasyikkan.

Tapi, sekali lagi, 'Oblivion' tidak berhasil menggali lebih dalam lagi. Kosinski tidak tahu bagaimana menjelaskan backstory film ini tanpa menggunakan narasi Tom Cruise yang mencapai 3 menit. Hal yang sama juga terjadi pada akhir film. Ini bisa jadi karena Kosinski memakai begitu banyak referensi film sci:fi lain sehingga dia tidak tahu harus memilih yang mana.

Sebagai penonton kita juga tidak diberi β€œbekal” apa-apa tentang para karakternya. Kita hanya bisa menerka-nerka masa lalu mereka dan kebiasaan mereka. Interaksi antara Sally dan Victoria memang menarik tapi semakin lama semakin membosankan.

Baik Andrea Riseborough dan Olga Kurylenko cukup memberikan penampilan yang apik meskipun keterbatasan karakter mereka yang hanya nampak dua dimensi. Morgan Freeman tidak segahar biasanya. Dan Tom Cruise akan selamanya menjadi Tom Cruise di setiap film yang dia bintangi. Walaupun dalam film ini wajahnya tidak banyak di-close-up seperti biasanya.

Ketika 'Oblivion' mencapai tengah-tengah film, penonton akan kelelahan dengan narasi yang terlalu bertele-tele. Rahasia terbesar yang disimpan di akhir film memang cukup menarik, namun sayang momennya sudah begitu hilang. Pada akhirnya, 'Oblivion' terasa seperti look karakter yang diperankan Morgan Freeman: stylish, supercool tapi tidak menawarkan apa-apa.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads