'Les Miserables': Nyanyian Cinta dan Revolusi

'Les Miserables': Nyanyian Cinta dan Revolusi

Candra Aditya - detikHot
Selasa, 22 Jan 2013 11:25 WIB
Les Miserables: Nyanyian Cinta dan Revolusi
Jakarta - Anda tidak perlu meragukan kualitas film ini. 'Les Miserables' memenangkan 3 piala Golden Globe 2013 dari 4 nominasi tempo hari. Piala untuk Anne Hathaway dan Hugh Jackman, serta untuk Film Terbaik kategori Komedi dan Musikal. Film ini kini menunggu pengumuman Oscar untuk menguatkan kehebatannya. Tapi, apa sebenarnya 'Les Miserables'?

Perancis, 1815. Seorang napi bernama Jean Valjean (Hugh Jackman) dilepaskan oleh penjaga penjara, Javert (Russell Crowe). Setelah 19 belas tahun dipenjara akibat mencuri sepotong roti akhirnya Valjean bisa menghirup kebebasannya. Keluar dari penjara, Valjean membawa sebuah surat yang menandakan bahwa dia adalah seorang napi, manusia hina.

Valjean berkelana ke sana ke mari sampai akhirnya seorang pastor menyelamatkannya. Memberi dia makan dan memaafkannya walaupun Valjean ketahuan mencuri perak. Delapan tahun kemudian Valjean berubah menjadi seseorang yang berbeda. Ia menjadi orang yang optimistis, baik hati dan selalu melihat kebaikan di setiap diri orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, Valjean juga sudah menjelma menjadi seorang walikota, dan pemilik pabrik. Namun, nasib mempertemukannya kembali dengan Javert. Hal itu terjadi ketika Valjean menolong seorang ibu muda penyakitan yang rela menjadi pelacur demi anaknya. Fantine (Anne Hathaway), nama perempuan itu, memberikan pesan kepada Valjean untuk mencari anaknya Cosette (Isabelle Allen). Saat itulah Javert mengejarnya dan Valjean pun melarikan diri.

Valjean akhirnya menemukan Cosette, dan hidup berkelana untuk menghindar dari Javert. Sampai akhirnya Cosette telah tumbuh menjadi gadis belia (Amanda Seyfried) dan jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Marius (Eddie Redmayne) yang merupakan salah satu anggota anak muda yang ingin menggulingkan tahta Raja Perancis.

'Les Miserables' adalah sebuah adaptasi terbaru dari novel sejarah klasik karya Victor Hugo yang pertama kali dirilis pada 1862. Dalam versi terbaru ini, sutradara pemenang Oscar atas 'King’s Speech', Tom Hopper menggunakan teknik yang berbeda dengan film-film musikal yang lainnya.

Jika kebanyakan film musikal lain merekam nyanyian sebelum syuting sehingga nanti para aktor tinggal lypsync, maka 'Les Miserables' menggunakan teknik yang sama sekali berbeda. Tom Hopper memaksa semua aktornya agar menyanyi pada saat syuting sehingga mereka bisa menyampaikan perasaan mereka dengan lebih nyata ketimbang menghafal dan mencoba terlihat meyakinkan saat lypsinc.

Para aktor memakai earpice saat bernyanyi untuk memberikan tempo yang pada akhirnya akan ditambahi orkestra megah di post-production. Ambisi Tom Hopper itu tidak sia-sia. 'Les Miserables' menghasilkan sebuah musikal yang epik. Selama dua setengah jam kita akan melihat sebuah film yang tidak menghadirkan sekalipun para aktor berbicara.

Ya, film ini menawarkan dua setengah jam aktor-aktor yang bernyanyi untuk menyuarakan penderitaan mereka. Dan, berkat teknik Hopper yang menantang, penampilan semua aktornya begitu hidup dan menggetarkan.

Hugh Jackman dan Anne Hathaway yang menguruskan badan mereka demi perandi film ini menyanyi dengan penuh perasaan. Ganjaran Golden Globe mereka merupakan buah perjuangan keras mereka mendalami sosok Valjean dan Fantine yang penuh dengan penderitaan mereka.

Tak hanya Jackman dan Hathaway saja yang bermain cemerlang. Baik Russel Crowe, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Samantha Barks (ini adalah debutnya di layar lebar), Isabelle Allen, Sacha Baron Cohen dan juga Helena Bonham Carter bermain dengan cemerlang. Melengkapi kemegahan 'Les Miserables' yang spektakuler.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads