Untuk itulah Judge dibutuhkan. Judge adalah semacam penegak keadilan yang mengenakan seragam, berhelm dan berhak menangkap atau bahkan membunuh siapapun yang dianggap melanggar peraturan. Mirip polisi tapi lebih sangar, tidak bisa disogok, cool dan senjatanya jauh lebih fantastis.
Alkisah, Dredd (Karl Urban) pada suatu hari harus menemani seorang Judge baru, Anderson (Olivia Thirlby) untuk menjalani tes khusus. Anderson memiliki kekuatan untuk membaca dan mengontrol pikiran orang. Hal yang membuatnya mendapatkan kesempatan special untuk mendapatkan tes ulang setelah tes pertamanya yang gagal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada yang bisa masuk, tidak ada yang bisa keluar. Anderson dan Dredd pun berjuang untuk bertahan hidup dan menangkap Ma-Ma hidup-hidup sementara Ma-Ma dan seluruh timnya mencoba melenyapkan dua Judge itu dari muka bumi.
Agak mirip 'The Raid'-nya Gareth Evans? Ternyata tidak. Dredd merupakan adaptasi dari sebuah komik, dan skripnya sudah mulai dikembangkan sejak 2006 oleh Alex Garland, jauh sebelum 'The Raid' tayang.
Alex Garland lewat versi terbaru 'Dredd' jauh lebih berhasil mengadaptasi kisah hakim penegak keadilan tanpa ampun ketimbang 'Judge Dredd' yang dirilis pada 1995 yang dibintangi oleh Sylvester Stallone. Sebagai sebuah karakter, Dredd dalam 'Dredd' versi Garland benar-benar mampu meyakinkan penonton bahwa dia adalah seorang Judge yang tahu norma-norma dan selalu fokus dengan tujuannya.
Alex Garland dari awal film sampai akhir membiarkan sang tokoh utama tidak mengalami perubahan karakter yang signifikan, membuat karakter Dredd tidak hanya terasa misterius namun juga luar biasa kharismatik. Seperti halnya 'The Raid', 'Dredd' tidak memiliki pengembangan plot yang mengejutkan, namun semuanya ditebus dengan eksekusi yang hampir sempurna.
Pete Travis dalam debut penyutradaraan layar lebarnya ini tidak tanggung-tanggung memacu adrenalin penonton. Nuansa dystopia dan hopelessness terekam dengan baik dari awal sampai akhir film. Adegan demi adegan dibuat dengan aksi yang energik sehingga 'Dredd' terasa seperti sebuah pertunjukan rock n roll yang tidak terlupakan.
Adegan-adegan kekerasan yang ditampilkan tidak pernah terasa malu-malu. Semuanya serba "menekan pada batas yang paling ujung". Sehingga, jangan kaget kalau Anda akan menyaksikan begitu banyak grafis yang lumayan menyeramkan.
Sebagai Dredd, Karl Urban tidak pernah menampilkan wajahnya sedetik pun. Namun, nada suaranya yang sengaja dibuat agak monoton dan gerakan tubuhnya yang mirip robot menunjukkan bahwa Urban cukup mendalami karakternya sebagai Dredd. Interaksinya dengan Thirlby dan juga karakter-karakter lain yang terasa "berjarak" justru membuat nuansa filmnya menjadi lebih intens.
Sementara itu Olivia Thirlby yang pernah menjadi sahabat baik Ellen Page dalam film indie keren 'Juno', berperan sebagai sidekick Dredd yang secara mengejutkan menampilkan ketangguhan fisiknya yang belum pernah dia tampilkan sebelumnya. Lena Headey yang sekarang sedang tenar sebagai salah satu pemain dalam serial fantasi HBO 'Games of Thrones' memberikan penampilan yang cukup mengesankan sebagai ketua geng. Diam, santai tapi mematikan. Tidak pernah ragu-ragu untuk melakukan apapun demi misinya.
'Dredd' juga terasa semakin liar dengan iringan musik karya Paul Leonard-Morgan yang hingar-bingar. Setiap momen menegangkan dan saling tembak nampak 3 kali lebih dramatis berkat karyanya dan membuat adrenalin Anda terpompa dengan efektif.
'Dredd' adalah murni tontonan seru yang menghibur. Bagi Anda pecinta film dengan begitu banyak adegan kekerasan yang ditampilkan secara grafis, film ini jelas merupakan pilihan Anda. Tidak untuk semua orang memang, tapi begitu Anda masuk ke dalam dunia Dredd, susah untuk berkata tidak.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































