Akrab dengan premis cerita seperti itu? Klise? Basi? Di tangan sutradara dan penulis skrip Monty Tiwa, premis itu ternyata masih bisa digarap dengan pendekatan yang dewasa, berjiwa besar dan tidak menye-menye. Hasilnya adalah 'Sampai Ujung Dunia' yang berhasil lepas dari formula "penguras airmata" yang ngetren sejak zaman 'Heart' (2006) karya Hanny R Saputra.
Monty menyiasati premis yang mungkin sejak awal bikin orang males itu dengan plot yang tidak linier. Cerita dibuka dari belakang, dan kemudian alur bergerak mundur-maju dengan tangkas dan dinamis. Dengan strategi naratif seperti itu, film ini bukan saja efektif menjaga nafasnya untuk terus membuat penonton penasaran. Melainkan, juga mampu mencapai ending-nya dengan klimaks yang manis dan mengejutkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persaingan Gilang dan Daud diwarnai dengan perbedaan kelas. Gilang anak orang kaya dan Daus anak orang miskin. Ketika mereka beranjak remaja, Gilang menang satu poin karena membantu Anissa mendapatkan pekerjaan di perusahaan percetakan milik ayahnya. Sentimen kelas ini kemudian membuat persaingan itu menjadi kekanak-kanakan, dan Annisa pun mengatasinya dengan solusi yang kekanak-kanakan pula.
Annisa membuat sayembara! Siapa yang pertama kali berhasil membawanya ke Belanda dengan uang hasil usaha sendiri, dialah yang akan dipilih Annisa. Lalu, sayembara itu dijalankan dengan naif: Gilang sekolah di akademi penerbangan dan Daud di pelayaran. Namun, kenaifan itu memang sesuatu yang disengaja karena sayembara itu sendiri bisa dibaca sebagai semacam metafora bagi proses pendewasaan tiga sekawan itu.
Belanda menjadi elemen penting dalam membangun mood cerita karena di sinilah cerita dimulai dan di akhiri. Negeri Kincir Angin itu bukan sekedar "setting luar negeri" untuk mempergagah cerita, melainkan diberdayakan sebagai motif utama yang menggerakan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Monty mengekspos keindahan negeri itu sesuai takaran dan kebutuhan cerita, mempertebal efek romantis yang diinginkan.
Dunia sekolah pelayaran dan penerbangan juga dieksplorasi dengan porsi yang pas untuk menyusun alur cerita. Suka-duka menjalani pendidikan di kedua institusi itu melahirkan kelucuan-kelucuan yang menjadi bumbu penyedap film ini. Dituangkan dalam gambar-gambar yang indah, dibingkai lagu-lagu original soundtrack yang keren, 'Sampai Ujung Dunia' dengan elegan tampil sebagai film dengan nilai-nilai produksi yang rapi.
Renata Kusmanto bermain bagus sebagai cewek yang jadi rebutan dua cowok sambil menyimpan rahasia besar sepanjang hidupnya. Dwi Sasono belum pernah terlihat semenawan ketika memerankan Daud dewasa, dan Gading Martin berhasil lepas dari bayang-bayang sosoknya sebagai bintang sinetron/FTV. Meskipun, melihat keduanya memakai seragam SMA terasa tidak pas karena "ketuaan", tapi ya sudahlah dimaafkan saja.
Salah satu tanda sebuah film meninggalkan kesan di hati penontonnya adalah, ketika film selesai dan lampu bioskop nyala, kita masih tetap terpaku di tempat duduk tanpa ingin buru-buru beranjak. Itulah yang terjadi ketika menonton film ini. Sebuah kemewahan kecil yang sepertinya sudah lama tak kita alami ketika menonton film Indonesia.
(mmu/mmu)